Pages

Senin, 04 Desember 2017

Bukan Sekedar Jabatan

Betapa dunia membutuhkan orang-orang seperti mereka—yang tetap melayani meski hatinya terluka atau diperlakukan buruk.


Sabtu, 25 November 2017

Harapan Adalah Mata Pisau

Seberapa sering kamu kecewa padanya yang tak mampu menjaga kehadirannya di depan matamu? Seberapa sering kamu kecewa padanya yang tak mampu menangkapmu dengan baik saat kamu jatuh cinta? Seberapa sering kamu kecewa padanya yang tak mampu mengertimu dengan baik?

Aku cukup sering mengalaminya.

Kekecewaan datang seiring dengan harapan, kamu tahu? Besarnya kekecewaan akan berbanding lurus dengan harapan yang kamu gantungkan. Maka jika kamu berharap, beranilah untuk merasa kecewa jika kelak kekecewaan datang menghampirimu.

Aku adalah manusia yang dengan mudahnya merasa kecewa. Ya, aku mudah untuk menggantungkan harapan pada seseorang. Nyatanya tidak semua harapan yang kugantungkan berakhir manis, banyak dari mereka yang berujung kekecewaan.

Seperti saat ini.

Saat kekecewaan menjumpaiku, aku kerap menyalahkannya—orang yang kupercayai menyimpan harapanku—walau tak jarang logikaku melawannya dan berkata, "Kau berharap terlalu besar! Terlalu banyak!" dan semua itu akan berakhir dengan kesendirian yang terus menemaniku.

Aku tahu, harapan mampu membuat seseorang tetap bertahan untuk melanjutkan hidupnya, namun, bagaimana bila justru harapannya itu sendiri lah yang perlahan-lahan membuat dirinya kelelahan melangkah dan mati terlantar? Aku tak tahu, aku tak punya jawabannya. Namun yang aku tahu, terkadang harapan mampu membunuh seseorang. Harapan membunuhnya dengan pisau kekecewaan.

Itulah yang terkadang terjadi padaku.

Mungkin yang pantas disalahkan saat harapan membunuhmu adalah dirimu sendiri—hatimu. Jika hatimu terluka karenanya, mungkin bukan dia yang salah, namun dirimu. Dirimu yang terlalu berani untuk menggantungkan harapan setinggi langit padanya, hingga dirinya mampu mengambil alih sumber kebahagiaanmu dan membuatmu terluka.

Setidaknya kamu bukanlah satu-satunya orang di dunia ini yang kerap merasa kecewa. Aku sering mengalaminya. Dan entah bagaimana kekecewaan yang kujumpai terkadang membuatku semakin meyakini sesuatu; mana hal yang baik untukku sehingga harus kupertahankan dan mana hal yang tidak baik untukku sehingga harus aku tinggalkan.

Namun, kini berbeda. Aku tak merasa begitu. Aku merasa masih harus berusaha keras untuk mengubur—menutupi—rasa kecewa yang kurasakan. And I'm still working on it.

Jika mungkin ternyata selama ini kamu menggantungkan harapanmu pada orang yang salah, apa yang akan kamu lakukan? Membuang harapanmu? Menggantungkan harapanmu di tempat lain? Atau justru kamu akan melarikan diri dan tidak peduli pada harapanmu—dan dia yang kamu gantungkan harapan padanya?

Jika kamu pikir hanya dirimu yang kecewa dan merasa tak dimengerti akan harapan-harapanmu, well, selamat, kamu tidak sendiri.

Jika kamu pikir hanya dirimu yang menelan kekecewaan bulat-bulat, well, selamat, kamu tidak sendiri.

Jika kamu pikir hanya dirimu yang terluka bahkan tertusuk oleh mata pisau kekecewaan, well, selamat, kamu tidak sendiri.

Ada aku yang telah menelan pil pahit kekecewaan dan masih berusaha untuk terlihat wow-aku-baik-baik-saja-dan-merasa-sangat-oke.

Masih ada selimut yang mampu menguburku di ranjang dan menghangatkanku di dalamnya.

Selamat menikmati harapanmu!

Senin, 20 November 2017

Hanya Merindu

Setidaknya kau tak pernah merasakan sepi yang paling sepi seperti yang kurasakan. Sepi yang mampu menyalakan api dan membakar rumahmu. Sepi yang mampu menghanguskan segalanya yang kaupunya.

Setidaknya kau tak pernah merasakan sunyi yang paling senyap seperti yang kurasakan. Sunyi yang mampu membunuhmu perlahan. Sunyi yang mampu mendatangkan jiwa-jiwa yang terpenggal mati.

Setidaknya bukan kau yang berada di posisiku saat ini, sehingga kau tak perlu mencari pelarian untuk kau singgahi sejenak dan tinggal pergi. Yang mana semua itu hanya akan meninggalkan luka yang 'kan terhapus oleh rintik hujan bulan ini.

Setidaknya bukan kau yang menelan kenyataan ini bulat-bulat yang mana membuat dadamu sesak hingga sulit bernafas.

Hanya ada aku yang menggenggam pisau, karena tanganmu begitu jauh dan ketidakhadiranmu mampu membuat semuanya menjadi beku.

Aku hanya ingin memelukmu erat dan menghentikan waktu, meski jatungku harus berhenti.

Senin, 16 Oktober 2017

Tentang Penerimaan dan Lebih



Secinta-cintanya kamu sama seseorang kalau kamu tidak bisa menerima dia apa adanya dirinya, yang rugi bukan dia, tapi kamu.

You're just wasting your time for loving someone so hard but can not accept what's inside him/her. You're just wasting your time, dude, please.

Menerima manusia lain masuk dalam hidup kamu dan membiarkannya mengisi hari-hari kamu dengan segala karakternya baik/buruknya memang nggak mudah. Banyak plus dan minusnya. Membiarkan manusia lain mampu menjadi sumber kebahagiaan kamu dengan sikap manisnya sekaligus dia mampu menjadi gong pemecah kebahagiaan di dalam hatimu, it's easy to let someone knows you and fill your days, but it's not that easy for you to accept other's darkside.

Sebenar-benarnya cinta adalah yang mampu kamu terima dengan sepenuh hati, baik atau buruk, susah ataupun senang, dengan rasa ikhlas. 

Love isn't just about having-good-time-together-and-share-everything. It's beyond your words, and my words too.

The best way you can do when you want truly love someone is to love them with all of your heart. Sometimes love is about acceptance, and even more than words people can explain.



So, I want to love you better than now.

Kamis, 05 Oktober 2017

Travel To Malang! (Part 3)

Yuk baca postingan sebelumnya dulu : Travel To Malang! (Part 2)


**

Sabtu, 12 Agustus 2017

Jum'at malam (menjelang hari Sabtu) sekitar pukul 23.00 WIB saya bangun tidur. Ya, setelah tadi seharian jalan-jalan kota Malang, saya memutuskan untuk tidur beberapa jam sebelum badan ini diajak naik gunung. Namun pada kenyataannya, saya hanya mendapat waktu tidur 1 jam lebih tidak sampai 2 jam. Huhu sedih. Mata ngantuk masih disuruh bangun. Hehe.

(Source: Google)