Pages

Senin, 15 Januari 2018

Kepada Kamu Yang Lekat di Jantung

(Source: Pinterest)


Kepada kamu yang kucinta tanpa henti, ingatlah selalu dalam hatimu bahwa aku selalu menempatkanmu tepat di jantungku berdetak. Agar kamu tetap hidup di sana dan merasakan irama detaknya dari jauh meski kita sedang berjarak. Kamu akan selalu di sana, tak peduli seberapa sering kita berselisih; kamu lekat di jantungku.

Kepada kamu yang kucinta tanpa lelah, terkadang aku menyerah pasrah pada kehidupan yang sering tak berarah. Namun satu hal yang pasti, aku tak akan pernah lelah mencinta meski amarah bergemuruh. Karena cinta akan tetap ada, meski hatiku sedang gaduh.

Kepada kamu yang kucinta tanpa jeda, aku ingin kamu tahu bahwa kamu adalah satu-satunya. Tak ada yang lainnya. Tak pernah terpikirkan sekalipun untuk memberi jeda cinta padamu meski saat raga tak dapat kurengkuh hangatnya. Tak pernah ada orang lain yang mampu memberi jeda di antara kita; tak akan ada.

Kepada kamu yang kucinta tanpa syarat, aku mohon untuk tetap berjalan di sampingku dan menggenggam erat tanganku agar langkahku pasti. Aku mohon tetaplah bersama meski cinta tak lagi semeriah kembang api, tetaplah saling mengasihi meski cinta tersamar oleh kabut api. Karena aku akan tetap di sini dan tak pergi meski kecewaku bertubi-tubi.

Kelak suatu hari bila jantungku berhenti, aku tahu bahwa kamu di sana; selalu lekat di jantungku.









(nrlhdyn - 14/01/2018)

Minggu, 24 Desember 2017

Cukup Memiliki (Rindu)

Ada kamu di dalam kepala saat saya masih terjaga. Dan kamu tetap tersenyum di sana. Kemudian kembali diputarnya kenangan tentang kebersamaan hingga janji bersama. Tersenyum mengingatnya. Namun seketika menghilang saat raga kembali ke bumi dan menyadari bahwa kamu masih jauh di batas kota.

Hujan di siang hari tak seperti biasanya beberapa hari terakhir, mengingat kamu biasa menyapanya. Saya tak ingin pulang dalam hujan. Saya ingin ada kamu di sana agar saya tahu untuk apa saya pulang. Kemudian saya memutuskan berjalan dalam keramaian jalanan kota. Kaki saya mengarah tak tentu arah, yang ia tahu hanya melangkah sesering mungkin agar hujan tak tahu apa yang coba hati sembunyikan darinya. Namun sepi tak kunjung pergi, karena kakiku tak punya tujuan kemana ia akan pergi sebenarnya. Kemudian hati kembali meringis dan berharap kamu berada di sana agar kita mampu kembali bersua. Tetap saja kamu tak ada.

Bila malam menjelang, ia akan datang dan bertanya kemana perginya kamu. Dan seperti biasa saya akan menjawab, "ia ada di sebrang kota yang jaraknya berpuluh-puluh kilometer. Dan ia akan kembali bersama saya di sini. Saya percaya."

Ya, sebesar itu saya menaruh kepercayaan pada kamu. Malam hanya bisa menggoda manja dengan diputarnya kenangan-kenangan bahagia bersama kamu, dan saya percaya kita berdua akan membuat kenangan bahagia lagi secepatnya. Untuk di ingat dan dipatri dalam ingatan ini.

Jam dinding berdetik "tik..tik..tik..tik.." dan malam mengantar saya pada pelupuk mata yang makin bertambah beratnya tiap hari. Dan saya akan dengan tabah menerima kenyataan bahwa hingga malam ini saya belum mampu menghadirkannya nyata di atas ranjang untuk menemani.

Cukupkan saya pada rasa memiliki dalam doa, dan kasih sayang serta harapan, karena harapan akan selalu ada untuk diperjuangkan. Dan namamu selalu menggema di setiap doa-doa.



- NH

Selasa, 19 Desember 2017

Perempuan Biasa Yang Memilih Untuk Tinggal

Kita selalu punya pilihan untuk pergi atau tinggal—dan aku memilih tinggal.

(Source: Pinterest)

Aku sering terluka. Dan aku mudah menangis. Bila terjatuh, aku tak tahu apakah akan ada yang menangkapku dengan tepat. Dan kamu melakukannya dengan lebih dari baik—dan tepat.

Kamu hanya lelaki biasa dengan kegiatan dan pekerjaan yang biasa. Kamu hanya lelaki biasa yang berusaha mendapatkan perempuan biasa, kemudian kamu menjaganya dan menyayanginya. Namun, kamu memiliki batas, karena kamu adalah manusia biasa yang sering melakukan kesalahan dan gagal juga takut untuk mencoba. Sehingga seringnya aku terluka.

Namun, aku hanya perempuan biasa dengan paras biasa dan kehidupan yang biasa. Singkatnya aku pun memiliki batas—batas yang tak pernah lebih dari batasmu, kukira. Aku melakukan banyak kesalahan juga menemui kegagalan yang sama. Dan kamu, ada di sana untuk menangkapku kemudian memaafkanku.

Aku tak bisa meminta lebih kecuali kamu. Karena kamu adalah lelaki biasa yang selama ini aku butuhkan dalam hidupku yang biasa.

Namun bila suatu malam hanya ada lelah yang tersisa usai perdebatan panjang kita, kamu harus tahu, aku memilih untuk tinggal—tetap bersamamu—meski aku tak bicara berhari-hari padamu; aku memilih untuk tinggal.


Karena kamu adalah rumah—tempat di mana aku selalu pulang dan tinggal selamanya.



- NH

Senin, 04 Desember 2017

Bukan Sekedar Jabatan

Betapa dunia membutuhkan orang-orang seperti mereka—yang tetap melayani meski hatinya terluka atau diperlakukan buruk.


Sabtu, 25 November 2017

Harapan Adalah Mata Pisau

Seberapa sering kamu kecewa padanya yang tak mampu menjaga kehadirannya di depan matamu? Seberapa sering kamu kecewa padanya yang tak mampu menangkapmu dengan baik saat kamu jatuh cinta? Seberapa sering kamu kecewa padanya yang tak mampu mengertimu dengan baik?

Aku cukup sering mengalaminya.

Kekecewaan datang seiring dengan harapan, kamu tahu? Besarnya kekecewaan akan berbanding lurus dengan harapan yang kamu gantungkan. Maka jika kamu berharap, beranilah untuk merasa kecewa jika kelak kekecewaan datang menghampirimu.

Aku adalah manusia yang dengan mudahnya merasa kecewa. Ya, aku mudah untuk menggantungkan harapan pada seseorang. Nyatanya tidak semua harapan yang kugantungkan berakhir manis, banyak dari mereka yang berujung kekecewaan.

Seperti saat ini.

Saat kekecewaan menjumpaiku, aku kerap menyalahkannya—orang yang kupercayai menyimpan harapanku—walau tak jarang logikaku melawannya dan berkata, "Kau berharap terlalu besar! Terlalu banyak!" dan semua itu akan berakhir dengan kesendirian yang terus menemaniku.

Aku tahu, harapan mampu membuat seseorang tetap bertahan untuk melanjutkan hidupnya, namun, bagaimana bila justru harapannya itu sendiri lah yang perlahan-lahan membuat dirinya kelelahan melangkah dan mati terlantar? Aku tak tahu, aku tak punya jawabannya. Namun yang aku tahu, terkadang harapan mampu membunuh seseorang. Harapan membunuhnya dengan pisau kekecewaan.

Itulah yang terkadang terjadi padaku.

Mungkin yang pantas disalahkan saat harapan membunuhmu adalah dirimu sendiri—hatimu. Jika hatimu terluka karenanya, mungkin bukan dia yang salah, namun dirimu. Dirimu yang terlalu berani untuk menggantungkan harapan setinggi langit padanya, hingga dirinya mampu mengambil alih sumber kebahagiaanmu dan membuatmu terluka.

Setidaknya kamu bukanlah satu-satunya orang di dunia ini yang kerap merasa kecewa. Aku sering mengalaminya. Dan entah bagaimana kekecewaan yang kujumpai terkadang membuatku semakin meyakini sesuatu; mana hal yang baik untukku sehingga harus kupertahankan dan mana hal yang tidak baik untukku sehingga harus aku tinggalkan.

Namun, kini berbeda. Aku tak merasa begitu. Aku merasa masih harus berusaha keras untuk mengubur—menutupi—rasa kecewa yang kurasakan. And I'm still working on it.

Jika mungkin ternyata selama ini kamu menggantungkan harapanmu pada orang yang salah, apa yang akan kamu lakukan? Membuang harapanmu? Menggantungkan harapanmu di tempat lain? Atau justru kamu akan melarikan diri dan tidak peduli pada harapanmu—dan dia yang kamu gantungkan harapan padanya?

Jika kamu pikir hanya dirimu yang kecewa dan merasa tak dimengerti akan harapan-harapanmu, well, selamat, kamu tidak sendiri.

Jika kamu pikir hanya dirimu yang menelan kekecewaan bulat-bulat, well, selamat, kamu tidak sendiri.

Jika kamu pikir hanya dirimu yang terluka bahkan tertusuk oleh mata pisau kekecewaan, well, selamat, kamu tidak sendiri.

Ada aku yang telah menelan pil pahit kekecewaan dan masih berusaha untuk terlihat wow-aku-baik-baik-saja-dan-merasa-sangat-oke.

Masih ada selimut yang mampu menguburku di ranjang dan menghangatkanku di dalamnya.

Selamat menikmati harapanmu!