Pages

Sabtu, 17 Februari 2018

Cerita Hujan Pertama

Kota Kembang diguyur hujan senja itu. Aku ingat saat jalanan dipenuhi genangan air di sisi-sisi jalannya dan setiap orang ingin segera berlari secepat mungkin dari lebatnya hujan. Tak heran jalanan menjadi kian macet ketika hujan.

Aku ingat pohon yang menjadi tempat kita berteduh kala itu. Sebuah pohon di sisi trotoar, pohon yang tak terlalu besar namun berdaun lebat. Kala itu kita bukanlah sesuatu yang kuat, kita masih selemah jari-jari mungil bayi kecil. Kita masih rapuh dan bisa kapan saja runtuh. Aku ingat ketika kamu memaksaku memakai jas hujan dan aku jelas-jelas menolak. Aku memilih membiarkan diriku bermandikan air hujan dibandingkan menghalaunya dengan jas hujan. Dan aku tahu kamu tak senang.  
Kepada kamu yang gemar memaksaku mengenakan jas hujan, aku tahu kamu melindungi dan aku ingin perlindungan. Melalui sebuah jas hujan sederhana, kamu melindungi. Melalui sebuah selimut, kamu menghangatkan. Dan melalui sebuah pelukan, kamu menentramkan.



Kita akan menjadi semakin kuat. Kita akan menjadi seperti gading gajah, ia kuat. Kita akan menjadi seperti sepasang merpati yang mengelilingi bumi berdua dan berakhir pulang ke satu sarang yang sama.




(nrlhdyn - 09/02/2018)

Senin, 12 Februari 2018

Cerita Bianglala 1

Pasar Malam.

Dulu saat saya masih duduk di bangku Sekolah Dasar (SD) saya tinggal di sebuah rumah dinas kantor bersama kedua orang tua serta kakak laki-laki. Rumah itu letaknya di pinggir jalan besar—jalan utama—yang mana setiap saat tak pernah sepi, selalu ada kendaraan-kendaraan lewat, mulai dari mobil pribadi, mobil angkot, motor, becak, truk, hingga truk gandeng. Pokoknya selalu ramai.

(Source: Instagram)

Di belakang rumah ada sebuah lapangan bola yang cukup luas dan biasanya digunakan anak-anak dan warga desa untuk bersantai-santai (main sepak bola, main voli, dan kegiatan-kegiatan lainnya). Hingga pada suatu malam, di lapangan tersebut digelar Pasar Malam yang lengkap dengan korsel-korsel dan permainan lainnya untuk anak-anak.

Sabtu, 10 Februari 2018

RIndu Untuk Kekasih

(Source: Pinterest)


Petang itu kamu datang
Bak ksatria membawa pedang
Namun aku hanya berani memandang
Tak mampu berkata-kata 'tuk membawa tenang

Aku ingin menangis dan memelukmu
Membawamu ke suatu tempat tanpa rasa sendu
Menangis tersedu tanpa lagu-lagu senduku
Memeluk hingga tak ada lagi rindu

Hai, kekasih
Aku ingin menggenggam tanganmu
dengan cinta dan kasih
Aku ingin duduk di pangkuanmu seperti dulu
Aku ingin bersenda gurau melihat senyummu
Dan semuanya yang biasa kita lakukan dulu

Kemudian senja membawamu pergi
Dan aku sendiri
Lagi dan lagi
Biar rindu kupeluk sendiri
Yang akan kutitipkan pada Sang Ilahi
Agar Ia menyampaikan rindu-rindu yang kugantung sepi
Hingga nanti kamu kembali 
'Kan kuhempaskan rindu-rindu itu lagi

Padamu Hanya padamu




(nrlhdyn - 20/01/2018)

Rabu, 07 Februari 2018

Rindu Untuk Tuan

(Source: Pinterest)


Ada rindu yang diam-diam menjelma menjadi kalbu
Ada kisah yang diam-diam menjadi kumpulan kenanganmu
Ada kata-kata yang diam-diam tak pernah terucap olehmu
Dan... Ada aku yang diam-diam merindu tak menentu karenamu

Senin, 05 Februari 2018

Deal With Your Scars

(Source: Pinterest)


Kalo kamu pernah merasa ngga berharga dan merasa ngga bisa melakukan hal-hal berguna nan bermanfaat yang berarti 'something', jangan khawatir, saya juga pernah merasa seperti itu.