Pages

Jumat, 06 April 2012

Nina & Tina

Hai, namaku Nina. Aku tinggal disalahsatu ibu kota di pulau Jawa.
Umurku baru 12 tahun. Aku tinggal bersama sahabatku, Tina yang sebaya
denganku. Kami tinggal di pinggiran kota, tepatnya disebuah gubuk
kecil dibawah jembatan. Gubuk kecil yang kami buat dari kayu bekas dan
perkakas bangunan bekas lainnya yang kami temukan disekitar toko
bangunan yang beberapa waktu lalu terbakar habis. Kami sudah tinggal
dirumah kecil tsb sudah 2 tahun, sejak kami memutuskan kabur dari
orang dewasa yang kejam pada kami sebut saja ia, Om Gery. Beliau
memelihara anak-anak gelandangan seperti kami untuk dipekerjakan
diperusahaan kecil miliknya, sebenarnya tdk pantas disebut perusahaan.
Beliau memiliki usaha jual-beli narkoba, barang haram yang seharusnya
tdk boleh diedarkan. Om Gery menyuruh anak-anak untuk mengedarkaan
barang haram tsb ke tukang becak, pedagang asongan, hingga pelajar.
Aku dan Tina tidak ingin berada dirumah buatan Om Gery. Kami takut.
Kami memutuskan untuk kabur dari sana.
Inilah kami yang baru. Aku mencari uang dengan mengamen dilampu merah
yang lumayan padat. Tak jarang pula, aku rela jadi buruh cuci piring
di warung makan. Walaupun upah dari 2 pekerjaanku tdk banyak, tapi aku
mensyukurinya. Sedangkan Tina.... Ia terkadang terpaksa mencopet
dompet orang di pasar yang padat. Ini Ia lakukan demi kami makan.
Padahal aku sudah menasehatinya untuk tidak mencopet. Aku tau ia
terpaksa mencopet, karena terkadang seusai mencopet ia cerita padaku

sambil menangiss & berkata ia sangat menyesal telah mencopet. Kami
sudah seperti kakak-adik.
Saat aku sedang mengamen bersama Tina di lampu merah, tak jarang ada
beberapa preman bertato dengan wajah yang mengerikan meminta uang
ngamen kami. Aku takut. Aku tak ingin menyerahkan uang itu. Tapi aku
tak bisa melawan mereka. Saat mereka merampas sekresek uang yang ada
ditanganku, aku terjatuh. Tina hanya bisa menangis. Orang-orang yang
melihat kejadian tsb hanya bisa diam seakan-akan menonton dengan wajah
horor. Aku yakin, mereka semua takut pada para preman.
Suatu malam dirumah kecilku, aku dan Tina makan dengan sedikit nasi
berlauk ikan asin. Kami tetap syukuri apa yang kami makan. Dan
setelahnya Tina bertanya padaku, "kamu pernah tidak memikirkan
orangtuamu? rindukah pada mereka?" pertanyaan Tina membuatku terasa
agak marah. Bagaimana tidak, sewaktu aku umur 10 tahun orangtuaku
tidak pernah memberikanku kasih sayang. Aku selalu diasuh oleh Bi Umi
sejak balita. Orangtuaku sibuk sekali dgn pekerjaan mereka. Aku yang
sedang sakit tifus waktu itu, memutuskan untuk kabur dari rumah sambil
menangis karena saking kesalnya aku pada mereka. Bi Umi tak tau aku
kabur. Saat aku kabur, aku lemas aku sakit aku tergeletak dipinggir
jalan hingga saat itu Om Gery menolongku. Kupikir beliau orang baik,
ternyata? Ahh sudahlah..
Lain dengan Tina, kedua orangtuanya sudah meninggal dengan
menyedihkan. Waktu itu ayahnya memiliki hutang yang sangat besar pada
seorang renternir. Ayahnya tak mampu membayar hutang, membuat
renternir tsb menyuruh anak buahnya untuk menghabisi seluruh nyawa
keluarga Tina. Beruntung, Tina berhasil kabur dari orang yang ingin
membunuhnya. Malam-malam Tina menangis sendirian ditaman kota, ia
merindukan orangtuanya. Tapi apalah daya? Kedua orangtuanya telah
tiada. Rumah kecil yang dulu mereka tempati dibakar habis oleh
renternir. Sungguh jahat, Tina membatin.
Malam itu seusai makan malam dengan nasi berlauk ikan asin di rumah
kecil kami, kami menangis bersama. Mengingat orangtua kami
masing-masing. Kami merindukan mereka. Terkadang jika aku sedang
mengamen di lampu merah pada sebuah mobil sedan, kaca pintu mobilnya
terbuka dan aku melihat seorang gadis kecil sama sepertiku sedang
bersenda gurau dengan orangtuanya. Hal ini membuatku sakit hati dan
lagi lagi menangis. Aku yakin, gadis kecil yang berada didalam mobil
tsb sangat disayang oleh kedua orangtuanya.
Jika anak-anak lain bisa dan pantas dapatkan kasih sayang orangtua,
mengapa aku tidak? Sampai saat ini aku tak pernah mengerti..

Tidak ada komentar:

Posting Komentar