Pages

Minggu, 29 Juli 2012

The Rainbow

Ya, ini aku. Seorang anak perempuan yang berusaha mencari pelangi saat hujan deras disertai angin menyapa. Aku mencari indahnya pelangi. Pelangi yang selalu membuatku tenang. Pelangi yang selalu ada setelah hujan dingin. Aku mencari pelangi yang sesungguhnya. Pelangi yang akan tetap membuatku merasakan embun dari rerumputan, merasakan semerbak harumnya tanah setelah hujan, dan melihat tetesan air dari daun yang jatuh ke tanah. Entah kapan terakhir kali aku melihat pelangi. Aku merasakan, ia enggan untuk bertemuku. Aku juga sudah lupa rasanya melihat pelangi seperti apa. Aku lupa rasanya tersenyum saat pelangi itu ada.




Aku hanya merasakan hari-hariku kini kelam tanpanya. Seperti seekor burung yang kehilangan sayapnya. Tergopoh-gopoh mencari pertolongan. Dan sayangnya, ia sama sekali tidak menemukan pertolongan.
Aku hanya merasa kelam, hari-hariku diisi oleh air yang tak henti-hentinya turun membasahi bumi tercinta ini. Air yang selalu membuatku kedinginan, selalu membuatku takut. Ah.. Aku hampir mengingat betapa gelapnya langit saat hujan turun. Bagaimana langit berbicara saat hujan turun, bagaimana awan menangisi air yang membasahi bumi, dan bagaimana burung-burung terbang kembali ke sarangnya.

Aku ingat semua tentang hujan, hingga akhirnya aku lupa akan pelangi. Ya, aku melupakan pelangi. Seperti apa warnanya? Seperti apa rasanya melihat pelangi? Seperti apa bentuknya? Aku lupa.
Hujan yang telah melakukan ini padaku. Hujanlah yang tega membuat langitku gelap, membuat awan bersedih, dan membuatku ketakutan. Hujanlah yang sering sekali membuatku bersedih, membuatku sekarat akan rinduku pada pelangi.



Siapa hujan?
Hujan membasahi wajahku yang lelah akan penantian sang pelangi. Hujan membasahi tubuhku yang lelah akan bertahan dibawah pohon tua ini. Hujan membiarkanku merasakan segala pedih dan dingin ini seorang diri. Hujan tertawa sangat keras kala aku berteriak sendiri sepi, kala aku berlari mencoba keluar dari gelapnya langit. Ia seolah-olah tertawa senang atas kepedihan yang kualami. Tapi kenapa?
Bukankah hujan seharusnya menjadi anugerah? Anugerah agar kita bersyukur kepada Sang Khalik. Apakah ini kutukan untukku, Ya Tuhan? Kenapa kutukan? Lalu apa salahku, Tuhan?
Ya, hampir 3 tahun hujan ini selalu membasahi tubuh mungilku yang mengigil. Entah sampai kapan aku akan menggigil. Dan selama itu pula Tuhan belum menjawab do'a - do'a yang kupanjatkan selama ini.

Apakah aku adalah satu-satunya orang yang merindukan pelangi? Entahlah. Tapi satu yang sangat aku yakini, aku masih percaya bahwa Tuhan pasti akan mendatangkan pelangi terindah untukku nanti diwaktu yang tepat. Diwaktu yang mungkin tak pernah kuduga kapan datangnya.
Aku masih percaya bahwa suatu saat Tuhan pasti mengabulkan semua do'a - do'a yang pernah kupanjatkan pada-Nya karena Tuhan tidak tuli, Ia juga tidak tidur. Ia masih mendengarkan suara do'a-ku meski aku berdo'a ditengah-tengah badai hujan yang deras, aku percaya.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar