Pages

Kamis, 13 September 2012

Alhamdulillah



Gue ngerasa ikhlas. Iya, Ikhlas.
Belajar ilmu ikhlas itu memang nggak gampang lho. Dalam hal ini yang berbicara itu hati, bukan mulut. Di mulut bisa aja ngomong "saya sudah ikhlas" tapi dalam kenyataannya didalam hati, "saya belum bisa ikhlas". Banyak kasus kok yang seperti ini.
Gue juga dulu pernah mengalamin hal serupa kayak yang tadi gue contohkan, di mulut bilang ikhlas dihati bilang belum ikhlas. Dan gue yakin, semua orang juga pernah punya perasaan sama kayak gitu.
Dalam kaskus ikhlas-tidak ikhlas ini gue mengalaminnya dalam hal 'cinta'.


Sedikit bercerita, tadi pagi gue berangkat sekolah. Agak buru-buru sih. Saat perjalanan, gue lihat seseorang. Dia bersama seorang gadis disampingnya. Senyum pagi mereka membuat gue ikut tersenyum secara spontan. Gue juga tidak tahu pasti apa yang menyebabkan gue ikut tersenyum melihat mereka. Ini termasuk gerak refleks. Dan sesaat gue mengalihkan pandangan dari mereka, dan berpikir.

"kok gue senyum-senyum gini ya ngeliat mereka?"
"mereka.... cocok"

kalimat-kalimat tersebut berputar-putar dikepala gue pagi ini sepanjang perjalanan menuju sekolah. Lalu gue menyadari, apakah gue ikhlas? Ikhlas melihat mereka bersama? Ikhlas gadis tersebut memiliki orang yang gue sayang? Dengan spontan gue tersenyum lagi, dan hati ini menyakinkan bahwa gue sepetinya memang sudah ikhlas. 

Gue belum pernah se-ikhlas ini menerima kenyataan macam itu.
Dan gue baru menyadari satu hal, bahwa melihat mereka bahagia adalah kebahagiaan yang hati gue ciptakan sendiri, khusus untuk menghibur dan menenangkah hati gue.
Dan gue jadi lebih tenang melihat seseorang yang gue sayang tersebut memiliki seorang gadis yang lebih baik dari gue. :)

Dan gue dari ini belajar satu hal, bahwa meng-ikhlaskan lebih baik daripada mencuri kebahagiaan oranglain yang nantinya menjadi suatu karma atau bumerang untuk diri sendiri.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar