Pages

Minggu, 02 September 2012

April's Clothe

Ku titipkan salam hangat untukmu melalui langit sore berwarna oranye. Ku titipkan kata rindu untukmu melalui gelapnya malam. Ku titipkan setiap do'a - do'aku untukmu pada Sang Khalik. Ku jaga dirimu dalam bingkai yang biasa kau sebut; kenangan.

Lambat hari aku merasa egoku luka ini telah mengalahkan segalanya. Iya, segala rindu dan cinta yang kupunya untuk kamu, iya kamu.

Ku buka lemari pakaianku sore itu. Mencari-cari sebuah buku catatan kecil diantara tumpukan baju-bajuku. Tak sengaja aku melihat sebuah baju (kaos) warna hitam pekat tertumpuk dibagian paling bawah diantara baju-bajuku yang lain. Ku ambil baju itu dengan hati-hati.
Ku lihat baju yang bagus (untuk ukuran kaos). Warna hitam pekat yang kusuka dan terdeapat sedikit tulisan dibagian depannya 'Yogyakarta'. Aku sadar ini punya siapa.



Ingatanku terbang ke beberapa bulan lalu, tepatnya bulan April. Aku mengingat saat itu di Kota Yogyakarta hampir (tengah) malam hari di rumah makan. Kita saling tertawa lewat telfon. Lebih tepatnya kamu menelfonku, aku butuh kamu (waktu itu). Kita berbagi tawa, cerita, dan... harapan.
Saat itu aku berjanji menghadiahkanmu sesuatu. Aku tidak bilang apa itu. Kamu tertawa, aku tertawa. Aku bercerita banyak tentang kota yang sedang kukunjungi, Yogyakarta. Kamu terlihat antusias dan memperhatikan, aku bisa rasakan itu meski perbincangan kita hanya lewat udara.
Perbincangan kita tengah malam itu diakhiri dengan ucapan selamat tidur dariku, mengingat kamu lelah habis berolahraga. Iya, aku ingat semuanya malam itu. Malam itu aku berjanji.

Aku kembali tersadar dan melihat baju ini. Ini bukan punyaku, kataku dalam hati. Beberapa menit kemudian aku menyadari satu hal; luka. Luka yang sudah sejak bulan hari ulangtahunku aku rasakan. Luka yang membawaku pergi jauh. Luka yang mengingatkanku pada segala hal-hal buruk yang telah kamu lakukan padaku. Luka yang mengingatkanku pada kesia-siaan kesabaranku selama beberapa minggu terakhir. Luka yang membuatku kembali menatap keadaan sekarang.

Dengan gegas, aku membuka laci bawah dilemari pakaianku. Apa yang kulihat? Disana hanya ada gulungan kertas berwarna krem ke oranye bermotif bunga mawar berwarna merah muda. Aku tahu benda apa ini dan untuk apa benda ini ku beli saat itu. Ku geserkan benda itu dan meletakan baju berwarna hitam pekat tadi disisinya.

Ku yakin keputusanku benar. Mengabaikanmu seakan kamu tak pernah ada adalah hal yang terbaik yang kulakukan, seperti yang kamu lakukan terhadapku. Luka itu telah membuatku mengabaikanmu. Tidak, aku tidak berlari darimu, kau yang biarkan aku berjalan perlahan hingga akhirnya aku benar-benar jauh.

Atas nama ketidakpercayaan, kita telah saling mengucapkan selamat tinggal. Kita simpan kotak berisi semua tentang kita dulu dan ku buang jauh ke dasar lautan luka yang telah kamu buat sendiri. Ego dan luka ini memaksaku untuk tak menepati janjiku malam itu. Sudah terlalu banyak kenangan yang membuat luka.


Menyingkirkan segala tentangmu adalah hal terbaik untuk kesehatan perasaanku.
Terimakasih. 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar