Pages

Rabu, 19 September 2012

Kisah Mereka: Dad's Story and The Little Boy

Hidup itu untuk apa sih? Oke jujur aja gue juga masih nggak tahu apa tujuan Tuhan ngasih kita semua nyawa untuk hidup, bisa disebut ini takdir yang sudah Tuhan gariskan. Yang pasti hidup harus terus berjalan, sesulit apapun tantangan didepan.

Gue punya satu contoh tentang artinya mempertahankan hidup dari seorang anak kecil mungkin berusia sekitar 8 tahun. Dan sosok anak tersebut membuat gue mengingat akan sebuah pengalaman miris yang pernah gue dengar dari Ayah gue dan dialami langsung oleh beliau.

Sewaktu gue masih bersekolah di Sekolah Menengah Pertama kelas pertama, ayah pernah bercerita masa kelamnya saat dulu ia masih kecil, sekitar umur 8 sampai menjelang kelulusan SMA umur 18 tahun.
Beliau berkata, beliau merupakan anak sulung yang berasal dari keluarga broken home. Saat beliau kecil, ia tinggal bersama ayahnya (kakek gue). Ayahnya lalu menikah lagi dengan seorang perempuan lain setelah bercerai dengan ibunya. Alhasil, tinggallah ayah gue bersama ayahnya dan ibu tirinya.

Ayah bercerita, sewaktu kecil ia pernah menjadi kenek angkutan umum untuk memenuhi keinginannya. Maklum saja, beliau bersaksi bahwa tinggal dengan ayahnya dan ibu tiri tidak menyenangkan. Ayahnya hanya bertanggungjawab dalam hal sekolah. Sementara untuk beli cemilan dan hiburan lain, ia mencari uang sendiri.

Agak sedih memang mendengar ayah mengaku pernah menjadi kenek angkutan umum atau terkadang bus dalam durasi waktu yang cukup lama. Dan tadi siang, gue merasakan. Dan melihat kenyataan sepeti itu memang ada dikehidupan sekitar.

Seorang anak menjadi kenek angkutan umum
Gambar ini gue ambil tadi siang pakai kamera handphone gue yang jadul dan jelas bukan smartphone. Ini merupakan gambaran asli dikehidupan nyata bahwa anak seusia ini rela menjadi kenek angkutan umum demi memenuhi kebutuhan hidupnya. Gue juga sebenarnya nggak ngerti sama alasan anak ini untuk bekerja ketimbang dengan sekolah. Tapi inilah hidup.

Gambar ini mengingatkan gue pada sosok ayah gue sendiri yang memang pernah merasakan pahitnya hidup dengan bekerja menjadi kenek angkutan umum. Gue sampe miris sendiri melihatnya dan jujur saja, gue nggak tega. Anak-anak umur segini seharusnya masih ceria menikmati masa kecilnya, tapi bagaimana dengan anak kecil tersebut? Entah.

Yang pasti, hidup itu butuh perjuangan dan hidup juga harus diperjuangkan. Untuk bertahan hidup memang tidak gampang, tapi pasti selalu ada cara yang halal untuk bertahan hidup di jaman yang sudah modern kini. Menyerah pada takdir bukanlah pilihan, kawan. Hidup selalu punya pilihan. Hanya saja untuk meraih kesuksesan, kita harus memilih jalan mana yang tepat untuk meraih sukses tersebut. Dan mimpi akan selalu menjadi fatamorgana terindah yang akan amat berharga apabila kita bisa mewujudkannya dikehidupan nyata.


2 komentar: