Pages

Rabu, 05 September 2012

Langit Oranye, 2011



Ditempat ini menyimpan sebuah memori klasik yang ingin kubuang,
Tentang cinta yang berdusta dan melukai,
Tentang cinta yang ingkar janji dan pergi,
Tentang cinta yang berkhianat.

Ini separuh aku. Mencari sebuah jarum di tumpukan kenangan. Jarum yang ingin ku buang, tak ku bawa pergi.
Dibalik peron itu kita pernah bertemu dan berbagi tawa. Dibawah langit oranye kita pernah membuat cerita. Merangkai kata demi kata menjadi sebuah kalimat. Merangkai kalimat demi kalimat hingga menjadi sebuah narasi tentang kita.
Aku ada disana, saat sebuah narasi tentang kebahagiaan kita telah selesai kita rangkai.
Aku ada disana, dibawah langit gelap, bermandikan cahaya bulan.
Aku ada disana saat kau tidak ada. Disaat telah tiba saatnya kita rangkai narasi baru.
Iya, aku disana. Lalu kau dimana?

Secangkir kopi hitampun tidak lebih pahit dari kenyataan bahwa kau telah pergi. Pergi meninggalkan sebuah jarum tajam. Sebuah jarum yang amat menyakitkan.
Garis bibirmu masih jelas membekas dicangkir favoritmu berwarna putih susu. Masih jelas pula kata-kata yang terucap dari bibir merahmu.

Dan dibawah langit oranye pula kau berdusta. Mendustakan semua janjimu, mendustakan narasi kita.
Dibawah langit oranye kau pergi, berlari. Meninggalkan semua tanpa sepenggal kata terakhir.

Ini kah caramu?

Tidak ada komentar:

Posting Komentar