Pages

Minggu, 16 Desember 2012

Aku Mengingatmu.

Malam ini dingin. Tuhan menurunkan air dari langit, membuat seluruh semesta hanyut didekap dinginnya malam. Dingin ini senantiasa menyapa dan pikiranku berjalan-jalan mencari-cari rekaman tentang dirimu. Rekaman usang. Rekaman yang hampir rusak tetapi masih bisa terawat. Disana banyak kenangan. Rekaman singkat yang memiliki sejuta kenangan. Tentang kebahagiaan, tentang konflik yang tidak kunjung padam, dan tentang kehilangan. Iya, aku kehilanganmu.


Rekaman tentang dirimu begitu singkat. Tapi masih bagus. Tuhan menjaga rekaman ini. Mungkin Dia menginginkan aku menyimpannya meski sudah usang tertelan waktu.

Disana terdapat kamu yang tersenyum tersipu melihatku duduk disana, seraya angin menguraikan rambut pirangku yang panjang. Jum'at siang.
Disana terdapat kamu yang tidak ragu melindungiku dari hujan sore. Dibawah gelap berawannya langit sore diiringi hujan, kamu mengiringiku berjalan seraya berusaha melindungi agar setetes air hujanpun tidak menyentuhku dengan jaket berwarna hitam favoritmu.
Disana terdapat kamu yang dengan setia menemani ditaman favorit kita. Kamu yang rela meluangkan waktumu untuk bersamaku.
Disana ada kehangatan yang bisa kurasakan.

Tapi...
Disana ada amarah yang kamu pendam, amarah yang sungguh tidak jelas, amarah yang membuatku bingung.
Disana ada kamu yang berwajah emosional, mengepalkan kuat-kuat kedua tanganmu.
Disana ada pertengkaran hebat akibat kesalahpahaman semata.
Disana ada pertengkaran dingin yang kamu tidak ingin memulainya, tapi egomu menguasai.
Disana ada pertengkaran yang sulit dijelaskan, pertengkaran yang tidak kita mengerti.

Dan.....
Disana ada kamu yang perlahan-lahan berjalan menjauh dariku.
Disana ada kamu bersama yang lain, dengan mudahnya mengabaikan semua hal yang pernah terjadi dahulu.
Disana ada kamu yang menjauh pergi, memilih untuk berhenti dan mengakhiri segalanya tentang kita.
Disana ada kata-katamu yang tidak akan pernah aku lupa, kata-kata sebagai tanda ucapan perpisahan.
Bahkan disana, masih ada memori tentangmu bersama dia dihari perpisahan kita.
Disana juga ada airmata, penyesalan, dan rasa kehilangan yang mendalam buatku.


Dan malam ini aku mengingatmu dengan sungguh, tapi aku tidak ingin merindukanmu. Kamu hanyalah aktor dalam rekamanku paling usang, berada di tumpukan paling dasar. Kamu hanyalah bagian dari rekaman yang otakku buat beberapa tahun lalu. Kamu tidak lebih dari rekaman usang.
Aku tidak merindukanmu, tapi memang benar, aku mengingatmu malam ini.



-@nrlhdyn

Tidak ada komentar:

Posting Komentar