Pages

Selasa, 25 Desember 2012

Perpisahan di Musim Dingin



Aku terdiam. Berdiri di tepi sungai Thames disenja hari. Butiran-butiran putih mulai turun dari langit dan mendarat diantara rambut pirangku dan mendarat disana. "It's winter time" kataku kecil. Aku menghela napas dan berbalik badan, memandang setiap pertokoan didepan mata. Aku berjalan perlahan menuju bangunan-bangunan khas british itu. Ku lihat sesosok pria british duduk sendiri di sebuah kafe. Hanya ada secangkir kopi hangat dimejanya, dan sebuah koran. Sementara dia hanya sibuk memainkan ponselnya.
Aku mengenalnya. James, lelaki yang duduk di kafe itu. Perlahan dan hati-hati, ku berjalan kearahnya menuju kafe itu. Aura kehangatan langsung terasa tatkala lonceng di kafe itu berbunyi saat aku membuka pintunya. Jantungku berdegup kencang, aliran darahku terasa terhenti tersumbat dalam jantungku. Aku bisa merasakan wajahku kini tidak sepucat diluar karena suhu rendah. Aku duduk dihadapan James.

"Kenapa kau lama sekali, Alice?" Tanyanya seraya mengalihkan pandangannya dari ponselnya, meletakan ponselnya diatas meja. "Ada apa denganmu?"
Aku terdiam. Aku mencoba sesantai mungkin, tapi tidak bisa. Aku ingin teriak, menangis sekencangnya dan berharap bisa memutar waktu.
"Maaf, aku mampir ke toko roti." Ucapku ragu. Aku melepaskan mantelku dan meletakannya disampingku.
"Baiklah. Apa yang akan kita bicarakan pada kencan hari ini, sayang?" Lelaki itu mulai bersikap manis seperti biasa. Ia memegang kedua tanganku diatas meja. "Agar lebih santai, kau butuh cappucino hangat" ia tersenyum dan memanggil pramusaji dan memesan cappucino kesukaanku.
Sementara itu aku masih terdiam, aku tidak tahu harus mulai dari mana.
"Apakah jalanan macet?" Katanya sambil memegang tanganku.
"Aku naik kereta, dan berjalan kaki beberapa meter setelahnya untuk kesini." Kataku sembari sedikit tersenyum mencairkan suasana.
Tidak berapa lama pramusaji membawakanku secangkir cappucino hangat. Dengan segera aku meminum secangkir cappucino hangat itu. Merasakan kehangatannya mengalir dalam tubuhku. Sesaat setelahnya kuletakan kembali cangkirku diatas meja.
James masih diam dan memandangiku. Wajahnya masih seperti setahun yang lalu. Di kafe ini kami bertemu dan disini pula ia menyatakan perasaannya padaku setahun lalu.
"Kau kenapa? Sepertinya sedang tidak enak badan?" Tanyanya sambil mengelus lembut pipiku.
"Aku ingin bicara. Kita harus bicara." Kataku lugas.
"Bicaralah."
"Minggu depan aku akan hijrah ke Rusia," kataku dengan hati-hati. Aku menunduk, menatap lututku sendiri. Aku tak yakin dia akan ikhlas menerima semua.
"Apa? Untuk apa?" Terdengar nada terkejut dari suara lelaki itu. "Kau ini bicara apa, Alice?" Tangannya kini melepaskan dari tanganku. Aku tahu ini berat untuknya.
"Aku akan melanjutkan studi ke Rusia, ayahku memintanya," kataku dengan gemetar. "Ayah memiliki restoran disana, kau tahu bukan? Dan ia ingin aku mengelolanya sambil aku melanjutkan studi." Tanganku setengah mati gemetar. Jatungku mungkin akan copot saat ia marah.
"Jadi? What?!" Terdengar nada amarah yang berkecamuk yang sedang ia tahan mengingat ini ditempat umum. "Kau akan meninggalkanku? Itu maksudmu?" Matanya seakan-akan membesar saat ia mengucapkan kalimat itu. Aku tahu ia marah. Amat marah.
"Iya. Aku tidak bisa berbuat banyak" kataku dengan hati-hati agar tidak terkesan memberi penekanan khusus. Kedua telapak tanganku memeluk cangkir putih cappucino hangat. "Maafkan aku."
"Lalu aku bisa apa?" Wajah James terlihat memerah padam. "Aku tidak bisa apa-apa."
"Oleh karenanya, aku rasa kita harus ..." aku ragu melanjutkan kata selanjutnya. Aku tahu ia akan sangat kecewa dengan keputusanku. "Berpisah. Berhenti bersama. Biasa disebut berakhir."
Aku tahu hati lelaki berambut cokelat itu. Aku bisa merasakan kegalauan dan segala gundahnya mengenai kepergianku. Mataku mulai berkaca-kaca. Pandangannya tertuju kearah luar kafe. Ia memandangi sungai Thames.
"Itukah keputusan terakhirmu, Alice?" Suara rendah terdengar ditelingaku. "Aku paham. Kita tidak bisa menjalani hubungan jarak jauh. Terlalu beresiko. Dan..."
"Menyakitkan." Pungkasku melanjutkan kalimatnya. "Maafkan aku, James." Ku merasakan seluruh tubuhku lemas. Dialog ini menguras seluruh energi dan pikiranku.
James terlihat gundah dan risau. Aku tahu hatinya belum tenang. Ia merupakan sosok yang agak sulit menenangkan hati.
"Bisa kita keluar? Aku butuh untuk disana..." aku menunjuk kearah tempat ditepi sungai Thames dimana aku tadi terdiam. "Denganmu."
James meninggalkan uang diatas meja serta meninggalkan koran yang tadi ia bawa. Lalu ia beranjak dan merangkulku berjalan keluar.

Kami berjalan berjan dalam diam. Aku mengerti keadaan hatinya saat ini. Aku pun merasakan hal yang sama dengannya. Setibanya dipembatas ditepi sungai Thames, ia melepaskan rangkulannya. Ia memandang ke segala arah. Aku paham. Dan ia masih terdiam.
"James.." kataku lirih, sebenarnya tidak tega melihatnya sesedih ini. "Carilah penggantiku. Yang lebih baik dariku. Kita akan  berpisah. Diluar sana, di kota London yang luas ini masih banyak gadis-gadis cantik. Yang baik."
James terlihat tidak ingin mendengarku berkata seperti itu, tapi ia tidak bisa menolak untum mendengarnya.
"Kau akan menemukan pria yang baik disana, lebih baik dariku." Lelaki itu mentapaku. Matanya terlihat sayu. Aku mengerti. "Dengar, Alice, aku akan baik-baik saja, begitu pula denganmu. Semuanya akan baik-baik saja. Percayalah."
Aku tidak tega. Aku tidak bisa melihatnya seakan tak berdaya seperti ini. Air mataku terjatuh tak tertahan. Ini merupakan perpisahan tersedih dan paling menyakitkan yang pernah kurasakan.
"You're right. I'm just afraid." Kataku sambil menghapus air mataku yan menyebalkan ini.
James menatap mataku dalam-dalam dan disana aku  bisa merasakan bahwa dia bersungguh kehilanganku. Ia membantuku menghapus air mataku meski kulihat dimatanya terbendung air matanya menimbulkan kesan matanya berkaca.
"Jangan lupakan aku ya. Kau tahu aku menyayangimu , bukan?" Katanya sambil tersenyum kesedihan.
YaTuhan apa yang kulakukan. Aku membuat pria ini hampir menangis kehilangan. Aku mematahkan semangatnya, aku mematahkan hati dan harapannya. Ingin rasanya aku menghukum diriku sendiri. Ingin aku menarik semua kata-kataku. Ya Tuhan, aku merasa berdosa.
Ia memelukku. Aku membalas pelukan hangatnya. Aku menangis dalam peluknya. Kami berpelukan ditepi sungai cantik kebanggaan Inggris, dibawah salju musim dingin yang terus lebat turun. Aku akan melewati natalku tanpanya.

1 komentar:

  1. hmmmm bertepuk sebelah tangan yang sangat absurd fu fufu

    BalasHapus