Pages

Jumat, 01 Maret 2013

Noda Hitam di Muhasabah

Salam.

Pada postingan kali ini.. sebenernya saya enggan untuk posting sedikit kisah hitam yang saya punya dan saya rasa beberapa hari belakangan ini. Tadinya saya hanya ingin bercerita lewat Twitter di akun saya (@nrlhdyn), tapi berhubung ini berkaitan dengan temen-temen saya yg paling ngerti saya banget, akhirnya saya putuskan untuk menuliskannya di blog. Biar bisa dia baca, biar bisa menjadi rekam jejak. :')
Hari kamis, 28 februari 2013 adalah hari dimana diadakannya acara Muhassabah di sekolah untuk berdoa bersama mohon ampun dan meminta semoga dilancarkan ujian nasional dan ujian-ujian lainnya. Singkat cerita disalahsatu babak acara tsb, ada babak renungan. Renungan tentang orangtua. Terutama ibu. Jujur, itu bikin saya sedih sampe nangis ngga tertahan.


Anak-anak lain pun menangis juga. saya teringat dengan Ibu saya, keluarga saya seperti apa. Saya menangis dipelukan teman terbaik saya, Arsy.
Ia menangis sama kencangnya. Dia menyebut 'Mama' dalam isakan tangis pelukannya pada saya. Saya mengerti perasaan dia.
Ini memang agak tidak etis untuk diceritakan, tapi saya benar-benar ingin bercerita; ingin berbagi.
Saya pun menangis dan berkata, "aku ngerti, aku juga rasain hal sama. Aku juga inget keluarga aku"
Setelah pelukan panjang itu usai, saya melihat teman laki-laki saya kebetulan sekelas juga. Ia menangis. Ya Tuhan. Saya bisa rasakan apa yang mereka rasakan. Saya tahu rasanya. Rasanya ditinggal pergi oleh orang yang tersayang, terutama orangtua dan sanak saudara.

Ayah, dan Ibu, buat saya mereka adalah orang-orang paling berarti di hidup saya. Saya tahu mereka tidak pernah membenci saya disaat mereka marah. Dan saya tahu saya benar-benar tidak pernah tidak peduli kepada mereka semarah apapun mereka pada saya.
Ahh.... ini bagian tersuram. Bagian kelam. Penuh noda. Noda hitam dan air mata.
Saya dan beberapa orang teman saya (termasuk Arsy dan lelaki itu) memang bukan berasal dari keluarga sempurna. Bahkan jauh dari sempurna. But we still love our parents. So much.
Dan sekali lagi saya tampak lemah skrg, teringat akan hal itu. Malam ini saya bertemu ayah. He was surprise. But I was not too excited. I was just dont know what to said, like met the stranger. Yeah.
Dan setelah pergi lagi saya hampir menangis. Air mata saya hampir menetes lagi.

Ayah. Seberapapun saya tidak merespon jawabanmu, seberapapun saya cuek terhadap argumenmu, saya tetap sayang. Banget. Amat. Sangat. Meskipun kebaikannya tidak akan pernah bisa melebihi Ibu.
Ah.. saya curhat sedih lagi. Melow lagi. Cengeng banget.
Tapi skrg saya paham. Saya sedikit tenang. Saya tidak sendiri. Masih merasa satu nasib banget sama Arsy dan teman lelaki tsb. Seriously. :'')

Tidak ada komentar:

Posting Komentar