Pages

Sabtu, 30 Maret 2013

Standing Party

Jam dinding dengan jarum berwarna putih itu terus bergerak. Terus memutar kearah kanan dan akan kembali lagi terus berulang seperti itu. Jantungku semakin kencang seiring terus berbunyinya dentangan jarum jam. Hatiku semakin tidak karuan. Amat gelisah. Ku berlari keluar rumah, dan melihat langit sore disana. Awannya seakan tersenyum sumringah padaku. AH! Aku tidak tahu harus pakai apa untuk malam ini pergi dengannya. Sungguh! Aku bukan seorang fashionable dan pandai memlilih pakaian yang pas untuk acara seperti ini. Hmmm sebut saja acara malam ini adalah semi-kencan. Baiklah.


Aku langsung berlari ke kamarku dan segera membongkar isi lemari pakaianku, berharap ada sesuatu yang cocok dan pantas untuk kupakai. Tidak berapa lama kemudian jam tua warisan nenek yang berada diruang tamu berdentang cukup keras. Mataku terbelak. Aku tahu! Ini sudah pukul 5 tepat dan aku belum menemukan apapun untuk semi-kencan 2 jam lagi! Ah payah! Sesegera mungkin aku mencoba berbagai dress yang berada didalam lemari. Ah tidak ada yang pas! Aku ragu! Aku takut salah pakaian, dan kemungkinan besar akan mempengaruhi cara berpikirnya terhadapku!

Pukul 7 malam tepat seseorang menekan bel yang berada di pagar rumahku. Aku gugup! Sungguh adrenalinku semakin terpacu. Jantungku sudah tidak karuan. Dan disana sini di wilayah pikiranku bergelantungan banyak presepsi buruk malam ini; aku takut malam ini tidak seindah yang kuharapkan, aku ragu dia akan memberi nilai positif terhadap apa yang kupakai ini.
"Hai." Suara lembut terdengar dari balik pagar ketika aku membuka pintu pagar.
"Oh hai. Maaf lama, hehe" aku tersipu, memandang aspal dengan wajah (yang mungkin saja) memerah.
Ia tertawa kecil. Ku beranikan diri memandangnya. Ah. Dia sungguh memperhatikanku. Dan tetap tersenyum kecil melebaran bibirnya yang merah tipis. Dengan manis ia mempersilahkanku masuk ke dalam mobilnya berwarna silver yang cantik.

***

"Kenalkan, Ma, ini Dinda, teman jaman kuliahku." Lelaki itu membawaku pada seorang wanita paruh baya yang berdandan amat elegan dan berkelas, dan wanita itu adalah ibunya.
"Oh. Hai, tante." Kataku sopan. Aku sedikit berhati-hati. Maklum, aku takut ia salah menilaiku. Aku takut ia menganggapku 'anak receh'.
"Oh hallo, Dinda. Selamat datang. Duduklah. Bergabung dengan yang lain dan nikmatilah malam ini." Senyumnya ramah dan lebar. Giginya putih amat tampak.
Ahh. Aku belum menyebutkan nama lelaki itu ya? Baiklah. Dia adalah Dani. Dia tajir? Ah jangan tanya. Memang dia selalu super 'waw' diberbagai kesempatan tetapi tetap rendah hati, itulah tidak heran banyak cewek-cewek sangat suka padannya.
Tapi malam ini, entahlah apa yang akan dia lakukan padaku. Apa dia akan menyatakan cintanya padaku? Sebab ia menyuruhku berdandan serapih mungkin dan secantik mungkin. Ah apa iya? Aku cekikikan sendiri sedang ia sedang asik berbagi obrolan dengan Johny dan Adi.

***

4 tahun yang lalu di salahsatu ruangan kampus.
"Plis, gue butuh lo buat penyemangat gue, Din." Ucapnya seraya menggengam tanganku beberapa saat sebelum ia sidang skripsi dengan penuh harap.
"Gue bakal nungguin lo sampek lo selesai sidang. Gue doa terus!" Gue tersenyum semangat, berharap wajah Dani tidak sepanik sebelumnya. Ia menganggap aku sangat berarti untuknya karena aku pernah membujuk salahsatu dosen 'killer' yang hampir pernah memvonis Dani drop out.
Setelah 2 jam berlalu, Dani keluar dari ruang sidang dengan wajah amat sumringah sambil memelukku langsung! Ia berkata dengan semangatnya, "gue berhasil! Alhamdulillah."
Gue sempat terharu saking bahagianya. Entahlah. Aku ikut terhanyut dalam bahagianya. Ia belum melepaskan pelukan panjangnya sampai pada saatnya... "gue cinta bgt sama lo gue sayang bgt sama lo!" Ia berkata dengan semangatnya dan melepaskan pelukkannya yang panjang. Matanya yang berwarna cokelat menatapku dalam. Aku tidak bisa berkata apapun. Aku hanya tersenyum! Entahlah. Tanpa menunggu aku berkata, ia memelukku lagi dan aura kebahagiaan yang bisa aku rasakan.

***

Aku masih tidak mengerti keluarga Dani mengadakan acara macam ini. Ini semacam standing party tetapi ada tempat duduk. Ah aku sudah yakin dan menduga bahwa Dani akan 'menembakku'. Sungguh bahagia. Tidak hentinya aku mengumbar senyum pada orang-orang. Aku sudah tidak peduli dengan dressku berwarna putih ini. Sejauh ini, dress inilah yang terbaik, dan aku tidak ragu lagi.
Kulihat kerumunan teman-temanku seperti Mila, Acha, dan Shena sedang asik berbincang. Aku berjalan menghampiri mereka.
"Kau datang bersama siapa tadi?" Mila menyapaku dengan pertanyaan. Aghh dia memang menyebalkan.
"Sama Dani. Dia ke rumahku."
"Duhh eksklusif banget sih ciye dia mau ngelamar kamu kali haha" celetuk Shena. "Upsss haha" ia tertawa, mereka tertawa.
Lamar? Dia ingin melamarku? Kenapa begitu cepat? Ah aku tidak siap! Tapi aku menyukainya!
"Ah kalian. Masa sih?" Aku tersipu. Ya Tuhan, benarkah ini? Sungguh diluar dugaan! Aku bisa merasakan bunga-bunga bermekaran di hatiku. Ini hebat.
"Hey!" Suara manis itu menyapa.
"Haiii Nesha!" Aku menyapanya semangat dengan suara serenyah mungkin terdengar.
Kami mengobrol. Kami tertawa. Aku hanya bahagia. Dan berdoa apa yang  dikatakan Shena itu benar. Rasanya aku ingin menebarkan salju agar hati semua sejuk di lingkungan ini.
"Ekhm.." Dani berdehem diatas podium putih dikelilingi bunga cantik. "Nesha? Kemarilah" senyum Dani amat manis.
Jantungku berdetak 100 kali lebih cepat. Ada apa ini? Apa yang akan Dani lakukan? Pikiranku kembali digelantungi rasa gelisah yang aneh.
Dani mengeluarkan sebuah kotak kecil berwarna merah dari sakunya sesaat setelah Nesha berada di podium.
"Kau lihat bunga-bunga itu bukan? Lihat langit disana? Cerah. Aku harap ini tidak mengecewakanmu."
DEG!! sebuah bongkahan batu karang amay besar dan keras serasa menghantam kepalaku. "Maukah kau menikah denganku?" Dani menawarkan kotak merah itu yang berisi cincin. Ah!
Aku tidak sanggup menyaksikan ini! Tidak! Aku tertipu oleh perkataan mereka. Aku tertipu oleh prediksiku sendiri. Ah sialan! Aku bodoh!
Aku berlari menjauh dari tempat itu menuju ke salahsatu bangku putih dan rupanya.. aku menangis.
***

Tidak ada komentar:

Posting Komentar