Pages

Selasa, 16 April 2013

Education System: Ujian Nasional 2013

Salam.
Hah. Auk dah mau nulis apa disini, cuma mau nulis aja padahal. Baiklah. Let me tell you, sesuai dengan judul postingan kali ini, gue bakal mengulas mengenai Ujian Nasional 2013 yang kebetulan gue alamin sendiri tahun ini. Pffft.
Yang pasti, gue kepengen nulis ini udah dari lama banget. Tapi baru sempet bikin sekarang karena kebetulan sekarang lagi mengalami ujian nasionalnya. Hahaha.



Sejak tahun ajaran baru 2012 tepatnya saat gue baru duduk dikelas 12, memang udah santer ditelinga tentang gosip UN. Nah, berikut kumpulan gosipnya:
1) UN akan dijadikan 20 paket jenis soal. Angkatan gue disekolah gue udah pada parno setengah mampus setelah tau kabar itu. Gila aja, angkatan sebelum gue aja cuma 5 paket ini apa-apaan dibikin jadi 20 paket?! Well, masih cuma kabar burung.
2) Tingkat kesulitan UN akan lebih tinggi dibandingkan tahun kemarin. Buset. Mau sesusah apa lagi? Pemerintah nyebelin nih anak-anaknya mau lulus aja dipersulit. Hadeh. *geleng kepala*
3)  Dan berita paling akhir paling mengejutkan datangnya saat awal tahun ini 2013, yaitu lembar soal UN dengan lembar jawab (LJUN) akan menyatu karena berbarcode! Ada yang belum tahu barcode? Barcode itu yang garis-garis item berbentuk kotak yang biasa kalo di supermarket itu loh kalo di kemasan barang. Cuma bisa dibaca pake scanner! Jadi gatau deh itu paket berapa. Serem? IYA!

Gue juga paham kepengennya beliau-beliau di Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan itu adalah meningkatkan kualitas pendidikan di negeri ini. Tapi coba dipikir lagi. Menurut gue, peningkatan kualitas pendidikan dimulai dari sistem UN yang seperti ini ngga efektif. Karena UN ini adalah tahapan akhir siswa dalam sistem pendidikan nasional. Jika saja meningkatkan kualitasnya dimulai dari dasarnya dulu; membenahi sistem yang ada di sekolah, atau meningkatkan kualitas pendidikan tenaga pengajar, dan memotivasi siswa agar bersikap optimis dan percaya diri, bisa dikatakan perbaikan pola pikir siswa (mind set). Itu justru lebih efektif mungkin, karena tahapan-tahapan tsb masih awal, hasil akhirnya (UN) kemungkinan akan lebih berhasil.

Lah gimana sekarang aja pola pikir siswa yang masih belum optimis, percaya diri dan motivasinya kurang ditambah tanpa ada kode-kode perubahan sejak awal lalu langsung dihadapkan di akhirnya ketemu sama sistem pendidikan 20 paket ini, efektif? NGGAK.
Banyak yang beranggapan pula kalo angkatan gue tahun ini seluruh Indonesia dijadiin kelinci percobaan beliau-beliau. Duh iya itu kata kasarnya sih gitu. Tapi yah sebenernya ngga murni kelinci percobaan juga sih. Gue emang ngga bisa memperbaiki sistem pendidikan di negeri ini, tapi untuk beraspirasi tidak ada salahnya, bukan, selama tidak menjatuhkan pihak tertentu? Gue tegasin aja sih disini gue ngga mendakwa beliau-beliau di Kemdikbud sana, ini hanya aspirasi siswa kelas 12 yang sedang menjalankan Ujian Nasional dengan sistem macam main poker gini.

Selain sistem kebangaan beliau-beliau (20 paket) itu yang sedang heboh, gue mau kasih penjelasan juga terkait sistem tersebut terhadap siswa/i kelas 12, dan mungkin mayoritas berpikiran sama dengan gue, berikut:
1) Sistem ini menyebabkan siswa takut kalau-kalau kejadian yang tidak diinginkan terjadi.
2) Sistem ini menyebabkan siswa stres duluan sebelum hari H Ujian Nasional. Fakta. Karena terlalu banyak pikiran bisa sakit.
3) Terlalu khawatir akan tibanya Ujian Nasional.
Kalo untuk gue pribadi, memang gue alamin tuh yang namanya takut sama stres plus khawatir. Sampe lupa makan dan kurang tidur gara-gara waktu kesita untuk belajar. Manajemen waktu gue kurang baik? Emang. Siswa lain juga mungkin sama seperti gue.

Gue berharap sih, beliau-beliau pikirkan ulang untuk Ujian Nasional (jika masih ada) menggunakan sistem seperti ini. Mulailah menata dari dasar dulu.


Dear Bapak Muhammad Nuh, Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia.
Assalamu'alaikum Wr. Wb.
Apa kabar, pak? Semoga sehat selalu.
Bapak pernah jadi siswa ngga, pak? Rasanya gimana? Bayangin jika posisi bapak jadi siswa kelas 12 tahun ini? Rasanya bakal gimana, pak? Saya yakin, semua siswa angkatan saya tahun ini bisa dikatakan shock gara-gara Ujian Nasional. Coba sesekali bapak tanya ke anak kelas 12 yang sekarang lagi ikut UN, tanya pendapatnya gimana sistem pendidikan Indonesia sekarang ini? Itu suatu aspirasi lho, pak.
Pak, saran saya untuk kedepannya, jika bapak bertujuan memperbaiki sistem pendidikan Indonesia, mulailah dari tahap dasar karena itu sebagai pondasi supaya nggak kaget. Hehe.
Maafkan kami ya, pak, kami banyak mengeluh kami banyak bicara yang tidak sepantasnya. Kami hanya kesal dan meluapkan emosinya dengan cara seperti itu.
Oh ya pak, sesekali coba cek Twitter deh. Lihat aspirasi dari kalangan siswa. Mungkin itu bisa sedikit jadi bahan pertimbangan bapak dalam mengambil keputusan untuk berjalannya sistem pendidikan negeri ini.
Kami, terutama saya, memang belum bisa memperbaikin sistem pendidikan di negeri ini. Tapi kami semua berharap bapak bisa. Kami tidak ingin generasi muda saat ini memiliki potensi dibidang lain tapi gagal di bidang wajib pemerintah dab akhirnya gagal mengembangkan potensi yang kami miliki. Maaf pak. Sedikitlah tengok aspirasi siswa, pak. Mereka juga warga negara memiliki hak berpendapat, bukan? Tidak hanya anggota pejabat lain saja.
Sekali lagi maaf, pak. Hehe. Semoga sehat dan sukses selalu!
Salam hangat dan terimakasih. :)
Wassalamu'alaikum Wr. Wb.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar