Pages

Kamis, 02 Mei 2013

Dalam Kotak Prolog dan Epilog

Ketika cerita ditutup oleh sebuah epilog, masihkah ada kelanjutan dari kisah tersebut?
Apakah setiap kisah memiliki epilog?
Sesuatu tersangkut dalam tenggorokan kecilku, membuatku sulit bernapas dan berbicara. Sesuatu yang berdasar dari dorongan hati kecilku perlahan-lahan memuncak, mengamuk ingin keluar melalui air mata.
Tenggorokanku terasa tercekik. Sakit sekali ketika mengingat sosoknya. Hatiku terasa tertusuk jarum-jarum kecil dalam jumlah banyak.


Dialah lelaki pertama yang kukenal didunia ini. Untuk menceritakannya saja kerongkonganku lagi-lagi seperti tercekik, ada sesuatu yang ganjal disana.
Aku sangat merindukan sosoknya. Betapa tidak, sosoknya pergi menghilang bagai ditelan bumi sejak tiga tahun lalu. Entah sekarang bagaimana rupanya. Yang pasti aku ingat wajahnya dahulu. Lalu kerutan yang mulai menyelinap di wajahnya. Membuatnya terlihat tua. Lalu akan menjalar ke seluruh bagian  tubuh lainnya.
Lalu rambutnya yang khas kini mungkin telah berubah. Warnanya tidak lagi hitam pekat seperti dahulu, rambutnya sudah terlalu tua untuk tetap subur dan segar berwarna hitam.
Lalu kulitnya. Apakah kulitnya kini masih bersih? Ataukah berganti penampilan lain? Mungkin urat-urat tangan dan kakinya akan tergambar jelas disana disetiap sudut tubuhnya yang kian hari kian renta.
Prologku dimulai dari ketika kami selalu bersama. Ketika sosoknya yang muda mengajarkanku berjalan, lalu sedikit berlari, kemudian mengendarai sepeda, dan diakhiri dengan mengendarai motor. Ia bilang aku harus bisa. Aku ingat bagaimana ia dengan sabar mengajarkanku hal-hal seperti itu. Rasanya aku tak bisa melupakannya.

Lalu aku ingat saat sosoknya masih mau mengajarkanku menghitung sehingga aku mencintai pelajaran menghitung. Ia sangat handal dalam hitungan. Ia mengantarkanku menjadi seorang yang suka berhitung. Aku masih ingat caranya.
Namun aku sudah lupa rasanya saat ia memelukku. Aku sudah lupa rasanya mencium tangannya. Aku sudah lupa bagaiimana aku memeluknya dari belakang.
Lagi dan lagi, tenggorokanku terasa sesak. Sakit sekali. Mataku mulai memanas. Hampir mendidih.
Aku sudah lupa bagaimana ia tersenyum mendengar prestasiku di sekolah. Aku sudah lupa bagaimana caranya membuatku tertawa begitu riangnya. Apakah kini ia pun lupa?
Dan di epilog akhir masa sekolahku kini, ia tak ada untukku. Dan ia tak akan pernah ada untukku. Sekalipun saat aku berhasil menamatkan pendidikanku.
Epilog yang ironis dan menyedihkan.

Dia, sosok lelaki yang kupanggil 'ayah' adalah sosok yang tak akan pernah ada lagi. Tidak ada 'ayah' yang dahulu. Tidak akan pernah ada. Dia, sosok yang kini menjadi asing buatku ingin menjauh darinya. Karena rasa sesak di dada setiap kali mendekatinya.
(nrlhdyn)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar