Pages

Selasa, 28 Mei 2013

Dilemma

Pernah rasain yang namanya dilemma? Iya, itu yang lagi saya rasain. Entah bagaimana jelasin dilemma yang lagi saya alamin dan ngga tau harus bicara atau berbagi sama siapa.
Pernah rasain rasanya dilemma dan bikin mata mendidih sampai menitikan air mata? Ini adalah dilemma terparah dan ter(maaf) bangsat yang pernah saya rasain.
Ini bukan masalah dia yang pergi dan saya yang belum move on. Ini bukan masalah cinta segitiga dengan sahabat sendiri. Ini bukan masalah menunggu orang yang sedang tertawa dengan orang lain dan ia buta melihat saya. BUKAN! Ini semua bukan dilemma macam itu. Ini lebih rumit.
Saya merasa terpojokan. Dua sisi yang enggan saya tinggalkan, namun salahsatunya harus saya tinggalkan. Tidak, ini bukan masalah cinta. Saya sudah tidak peduli dengan hal semacam cinta. Saya memikirkan hal lain. Hal yang lebih penting dari sekedar menye-menye gara-gara cinta. Sekali lagi (maaf) bangsat. Persetan dengan dilemma.
Saya terlalu takut untuk apa yang ada didepan ketika saya maju dan mulai melangkah lebih jauh. Namun jika itu terjadi, saya meninggalkan satu-satunya orang paling berharga buat saya di dunia ini.
Sedangkan melangkah maju dan berjalan, adalah hal yang ingin saya inginkan meskipun saya takut. Namun jika saya tidak mencoba maju, saya pun tidak sanggup untuk mundur dan mengubur semuanya. Saya tidak siap dengan kenyataan.
Sebut saja saya sedang down, di titik terendah dan terdilemma dalam hidup. Amat dilemma.
Saya ingin menutup mata dan telinga. Mengunci indra pendengaran untuk sementara hingga semuanya pergi menjauh dan saya tertinggal. Melihat semuanya menjauh pun rasanya tak sanggup.
Tidak tahu harus berbagi dengan siapa. Rasanya hanya saya sendiri. Ya, hanya saya yang nelan pahit-pahit dilemma ini.
Hilang arah..
Unwanted. Unloved. Unsupported.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar