Pages

Rabu, 15 Mei 2013

Dongeng Sang Senja

Namaku Senja. Aku seorang wanita yang menyukai keindahan.
Tuhan membiarkanku pergi keluar saat sore hari. Ia berkata bahwa ada banyak hal indah yang bisa aku lihat sore hari. Ia mengijinkanku keluar pukul 3 sore tepat dan kembali pukul 6 petang.

Sungguh banyak hal yang bisa kulihat di bumi. Anak-anak kecil berlarian di lapangan, dan aku seolah bisa mendengar seruan mereka dan suara tawa yang renyah darinya. Di wajahnya tidak ada kekhawatiran akan masa depan. Sepertinya yang ia tahu hanyalah bermain. Lalu aku bisa mendengar suara burung-burung bernyanyi dan menari untukku. Suara mereka indah, bahkan mereka memberi tahu lagu apa yang mereka nyanyikan; Senandung Senja, dan tarian yang mereka sebut; Tarian Senja. Kau tahu? Mereka melakukannya untukku! Itulah alasan kedua aku bahagia.



Kemudian aku bisa melihat jalanan di bumi yang padat saat sore. Melihat jalanan yang ramai dan penuh aktifitas membuatku cukup terhibur. Aku biasa menebak apa yang sedang orang-orang lakukan pada sore hari.

Tak jarang aku melihat beberapa orang di puncak gunung sedang membangun tendanya. Namun setelahnya saat waktu hampir habis, mereka memandangku lalu tersenyum. Karena itu aku jadi malu. Hahaha. Aku ini memang pemalu bila dipandang. Angin bilang mereka menganggumi kecantikanku. Apakah itu benar? Hal itu membuat wajahku memerah.

Oh ya, kau tahu, Angin pernah berkata sesuatu padaku. Ia pernah berkata bahwa Pagi merindukanku. Awalnya aku tertawa mendengar tentang itu, namun setelah ku sadari, Pagi ternyata membenciku. Amat membenciku. Aku tidak mengerti salahku apa.

Pagi memang baik, ia ramah kepada semua orang. Namun, ia benci melihat manusia-manusia disana saling mencintai. Ya, Pagi juga benci cinta. Ia benci cerita cinta. Aku tak tahu apa alasannya. Namun kabar yang kudengar dari Angin, Pagi membenci cinta karena ia membenciku.

Ya, aku menyukai Malam. Malam selalu punya sesuatu yang membuatku tersenyum dam bahagia. Ia punya bintang, banyak sekali. Lalu ia memiliki bulan yang cantik namun senang menyendiri, dan terkadang Malam menunjukanku letupan-letupan kecil berwarna-warni. Aku tidak tahu persis namanya apa, namun Malam bilang letupan berwarna-warni itu Kembang Api. Woh. Aku terkejut. Malam selalu bisa membuatku tertawa. Haha. Aku senang.

Aku benci jika Hujan datang.
Aku melihat banyak orang disana mengeluh kesal. Namun ada juga yang tertawa gembira, ditempat yang sama aku selalu melihat gadis menari-nari sendirian sambil tertawa dibawah air. Aku bingung dengan gadis yang satu itu. Ia terlihat amat hidup dibawah hujan. Lengkungan senyum lebar tidak pernah lepas dari bibirnya. Padahal, Hujan bisa membuatnya sakit; demam dan flu.

Sejak saat itu aku tidak berani bertatap muka dengan Pagi. Aku benci melihatnya muram. Wajahnya jelek sekali, namun mengerikan. Aku hanya tahu kabarnya melalui Angin yang dengan santai dan senang hati memberitahuku.

Apakah Pagi marah padaku? Karena aku menyukai Malam? Namun ia harusnya tahu, aku dan malam tidak bisa bersatu. Aku dan Malam terlalu berbeda. Ya, kami berbeda.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar