Pages

Kamis, 02 Mei 2013

Gadis di Kursi Roda

Langit senja memang selalu menjadi favorit Lena, gadis yang harus menikmati sisa hidupnya di kursi roda. Rasanya hanya langitlah yang mengerti perasaan gadis itu. Warna oraye memantulkan lengkungan senyum di bibirnya yang kecil. Ia biasa ditemani semilir angin yang lembut menyentuh wajahnya. Ia pun terbiasa mendengar riak air mengalir dengan tenangnya. Di desa itu ia tinggal. Desa yang amat jauh dari riuh perkotaan.


Gadis itu setiap hari selalu bertandang ke kebun stroberi milik ayahnya. Menikmati aroma segarnya stroberi dan melihat mereka tumbuh setiap harinya, sudah cukup bagi Lena untuk hidup. Saat senja ia selalu bertandang ke taman bunga di belakang rumahnya. Ia suka sekali bunga, jenis apapun. Menikmati aroma bunga bermekaran dan berhias kupu-kupu cantik yang kemudian disambut langit oranye yang indah. Terkadang ia bisa melihat awan oranye itu membentuk seulas senyum samar-samar. Tak jarang ia bisa melihat burung-burung terbang melintasi langit oranye dengan riang. Telinganya masih jeli untuk mendengar semua itu.

Antony adalah seorang pemuda, lebih tepatnya pengusaha muda yang jatuh cinta pada di gadis senja itu. Betapa tidak, wajah gadis itu sungguh cantik jelita, kulitnya bersih putih pucat, bibirnya merah dan memiliki rambut pirang menyala. Amat mencitrakan gadis dari negeri Netherland. Antony kerap kali melamun membayangkan gadis yang duduk di kursi roda itu tersenyum, dan seketika kupu-kupu di sekitarnya menari untuknya. Gadis itu selalu memakai topi khusus khas kerajaan, topi yang lebar dan penuh renda-renda dengan motif bunga. Ia juga selalu memakai gaun khas kerajaan jaman dahulu, berenda dengan warna pucat.
Lena tidak pernah berpikir mengenai laki-laki. Satu-satunya laki-laki yang ia kenal dekat bahkan amat dekat adalah ayahnya sendiri. Ia tak pernah membayangka akan ada seseorang yang menyukainya. Lagipula ia takut memikirkan kemungkinan itu. Ia takut hatinya terluka, sakit sekali rasanya. Hingga suatu ketika seorang pemuda datang menemuinya di tempat ia biasa menatap senja setiap harinya. Matanya teduh dan wajahnya tenang. Dan apabila tersenyum terdapat satu lengkungan kecil di kedua pipinya. Manis. Lena takut. Ia tidak ingin mengenal laki-laki itu meski ia akui benar laki-laki itu sangat tampan.

Tapi gadis itu salah. Laki-laki yang bernama Antony yang sedang mendekatinya itu amat baik. Ia suka membacakan gadis itu sebuah cerita, bermacam-macam cerita rakyat dari berbagai penjuru Eropa. Lena suka mendengar suaranya, amat renyah jika tertawa dan amat menenangkan saat berbicara.
Antony suka mendengar gadis itu tertawa saat mendengar ceritanya yang lucu. Tawanya begitu ceria dibalik wajahnya yang teduh dan tenang.

Hingga suatu hari Antony tidak bisa lagi membacakan Lena cerita-cerita yang bisa membuatnya tertawa. Laki-laki itu pergi ke tempat antah berantah nun jauh disana. Saat itu Lena amat menyesal mengenal Antony, ia berpikir laki-laki itu tak akan meninggalkannya, karena ia tahu bahwa Lena benci kehilangan.
Sampai di suatu masa rambutnya tak lagi berwarna pirang terang yang dapat membiaskann cahaya matahari, dan ia masih duduk di kursi roda yang sama dan memakai topi yang sama. Laki-laki itu tak kunjung kembali. Ia pergi membela negara ke tempat antah berantah yang jauh. Laki-laki itu tak pulang, dan tak memenuhi janjinya pada Lena untuk pulang sesegera mungkin. Ironis.

Sampai pada saatnya angin senja menyentuh pusara Lena yang masih beraroma bunga, Antony tak kunjung kembali. Dan mungkin tak akan pernah kembali.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar