Pages

Sabtu, 04 Mei 2013

Narasi Kita

Percayalah padaku, nama dan ceritamu akan selalu ada dalam buku yang kutulis, tersusun berantakan dalam beberappa folder digital maupun tumpukan buku.

Aku ingat dua tahun lalu. Aku ingat sesosok lelaki berdiri menunggu dengan tenang dan matanya menyapu seluruh pandangannya. Dengan riang aku memanggilmu meski suaraku kecil karena kelelahan, semilir angin mengantarkan suara itu ke telingamu. Syarafmu bekerja amat cepat dengan segera menoleh ke arah sumber suara. "HEY!"

Seulas senyum samar namun tulus tersungging di wajahmu. Ah. Pertama kalinya aku melihatmu tersenyum ke arahku dan berseru kepadaku. Hampir rasanya hatiku terbang dengan mudahnya seolah organ itu adalah balon gas.



"HEY! Sudah lama?" Kalimat pertama yang berani aku katakan. Aku tertawa. Kau tertawa.

Kita hanya dua orang yang senang berbagi tawa. Saling mendebatkan hal kecil yang tak sebenarnya tak perlu diperdebatkan. Hingga akhirnya kita hanya tertawa mendapati betapa bodohnya kita mendebatkan hal kecil.

Kita hanya dua orang yang rindu jatuh cinta. Saling tersenyum dan memandang. Berharap ada sesuatu menyelinap masuk melalui celah jendela kamar. Sayap-sayap rindu berterbangan ke setiap sudut kamar. Saat melodi kasih sayang teralun dengan indah, menyentuh seluruh organ tubuhmu hingga kau terlelap mimpi.

Kita hanya dua orang yang rindu dirindukan. Saling tersenyum kala pertemuan  tiba tanpa tahu harua bicara apa, lalu tanpa sadar kilatan rindu mulai terlihat di mata masing-masing. Terlihat jelas dan nyata disana. Tentang setiap pertemuan yang dinanti, tanpa berani menjelaskan mengapa kita amat inginkan pertemuan.

Kita hanya dua orang yang rindu pada selembar kertas putih yang kosong. Berharap dapat melukiskan wajah seseorang didalamnya dan mengukir indah namanya disana. Namun kita tak tahu siapa yang akan kita lukis dan ukir. Kita terlalu bingung mencari orang yang tepat.

Kita hanya dua orang yang tak ingin sendiri. Kita saling membutuhkan meski tak secara langsung menjelaskan. Gengsi dan ego. Enyahlah mereka! Namun hati kecil kita tahu, raga dan jiwa kita tak ingin sendiri.

Kita hanya dua orang yang saling membisu dan berdusta.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar