Pos

Menampilkan postingan dari Juni, 2013

Selamat Ulang Tahun ke-18, Nulul!

Gambar
05 Juni 1995 - 05 Juni 2013

Alhamdulillahirabbil'alamin.  Genap sudah usia saya menginjak 18 tahun 23 hari pada hari ini (28/06/13). Guess what I'm thinking about, saya seneng udah bisa sampe umur segini. Udah dikatakan dewasalah istilahnya. Dewasa muda. Hehe. Nggak keberatan kan kalo saya bilang umur saya ini udah dewasa muda? :p
Baru sempatkan diri membuat postingan mengenai 18-nya saya, soalnya sibuk. Ya, bulan ini cukup sibuk. Dari mulai ikut SBMPTN 2013 dan SIPENMARU Poltekkes Kemenkes Tasikmalaya (cabang Cirebon) plus ditambah ngurus-ngurus sendiri rencana saya ingin mengikuti pendidikan di kota kembang, Bandung. Semuanya cukup menyita waktu saya. Belum lagi rencana kepindahan barang-barang kerjaan Mama ke rumah; komputer, printer, dan mejanya. Iya, Mama sekarang udah nggak usah keluyuran lagi. Capek. Saya sayang. Saya menyarankan beliau untuk memindahkan seabrek kerjaannya ke rumah saja. Duh malah curhat. Hahahaha. Ya sekilas kegiatan saya bulan ini.

Aku Pernah

Pernahkah kau sadar, angin-angin disekitarmu menyentuh lembut wajahmu dan membisikan sesuatu ditelingamu? Suaranya samar, namun akan terdengar jelas jika saja jantungmu tidak sedemikian cepatnya berdegup.

Pernahkah kau berpikir bahwa aku pernah membencimu sebesar-besarnya setelah merindukanmu sedalam-dalamnya?

Pernahkah kau menyangka bahwa aku yang terlihat tak memperdulikanmu diam-diam senang memandangmu dan memperhatikan setiap detail yang ada dalam dirimu?

Pernahkah kau menyangka bahwa aku mencintaimu sejak hari-hari kemarin, dimana sudah dua musim panas kita lewati?

Rindu Berdarah

Gambar
Diatas meja ini mungkin kita sedang bertaruh luka yang pedih
Menyemai rindu penuh darah dan nanah
Membasuh luka namun tersenyum lirih
Di atas sana
Bulan tampak ketakutan
Semesta mengulas warna hitam pekat
Hingga membuat bintang meredup perlahan tertelan hitam nan pekat
Seperti aku yang ketakutan
Banyak ketakutan disana, di dadaku
Hingga akhirnya rasaku tertelan waktu
Waktu yang kian hari kian menghitamkan segalanya
Membuat segalanya gelap
Disini akan ada selalu rindu yang berdarah
Seperti luka yang tak akan pernah terobati
Rasa sakit yang menguap dari sana saat kita bertaruh luka


Dentang Piano (part 4)

Kalimat demi kalimat dalam kertas beramplop cokelat muda kini berputar-putar dikepalaku. Mataku mondar-mandir menyusuri kalimat demi kalimat tulisan itu. Ah. Tulisan ini bercerita sesuatu. Seakan-akan ia membuat lakon sandiwara dalam kepalaku sehingga aku bisa membayangkan isi sebenarnya dalam visualisasi. Hujan deras diluar apartemenku tengah malam ini seakan tak mampu memecahkan kemelut kalimat-kalimat ini dalam kepalaku.

"Aku bertemu dengannya dibawah langit gelap dan gemericik air turun dari langit dengan derasnya."
Otakku memutar kembali rekaman beberapa hari yang lalu saat pertama aku bertemu pemuda yang sedang bermain piano di sebuah kafe kuno. Saat itu hujan deras. Beberapa tetes air hujan sempat membasahi rambutku.

Kata Hati

Suara musik riuh samar-samar masuk ke dalam telingaku
Mengisinya dengan alunan-alunan yang tak ku mengerti Samar... Masih terasa samar ditelingaku
Hujan yang turun di bulan Juni Mengingatkanku pada musim panas dua tahun lalu Begitu menghangatkan setiap jiwa
Hangat, Seperti berdiam diri ditepi api unggun Membiarkan kunang-kunang mengaku kalah akan pertarungan  Pertarungan antara siapa yang kuat dan siapa yang lemah
Disana masih terdapat sang pujaan hati mengalunkan nada indah Suara tawa yang kusebut nada indah abadi di telingaku
Aroma tubuhmu menguap seiring waktu yang membawa kita kesini Aroma yang menawarkan perlindungan Aroma yang berjanji akan selalu ada 
Seperti air menolak menyatu dengan minyak Dan kau yang selalu menolakku dengan kepolosanmu
Apakah kita seperti air dan minyak?  Apakah kita seperti air dan api?  Apakah aku bagaikan pungguk merindukan bulan?
Kita akan terjaga dalam keheningan Saling mengucap salam perpisahan namun tidak ingin kehilangan Kita akan berdiam diri dala…

Tips Long Distance Relationship! (LDR)

Gambar
Salam.
Apa kabar semua? Semoga masih sehat dan selalu dalam lindungan-Nya. Amin ya Rabbal'alamin.
Baiklah. Udah lama ya gue ga posting hal-hal macam opini ataupun tips? Iya, beberapapostingan sebelum ini mungkin isinya hanya cerita. Hehe. Enjoylah.
Pada postingan kali ini gue mau berbagi tentang tips menjalin hubungan jarak jauh, atau bahasa gaulnya sih sekarang Long Distance Relationship! Simak yak.

Long Distance Relationship atau biasa disingkat LDR, yakni hubungan jarak jauh. Hubungan yang di maksud disini adalah hubungan asmara (read: pacaran). Yahh anak muda jaman sekarang ngerti lah ya.
LDR ini resikonya besar banget. Cobaannya juga banyak banget. Godaannya juga banyak banget. Stok sabarnya harus diperbanyak, ketebalannya pun harus dipertebal. Mengapa? Ngga cuma perasaan aja sih yang harus kuat, tapi mental juga.



Dentang Piano (part 3)

Gambar
Liburan yang membosankan.Anya pergi berlibur. Setiap hari hanya keluar untuk siaran. Dan setelahnya selalu mampir ke kafe kuno itu, kafe yang menyelamatkanku dari hujan dan dingin, menghangatkanku dengan atmosfernya yang khas.

Sudah satu minggu, aku secara intens mampirkafe kuno itu dan aku selalu memilih tempat yang sama saat pertamakali duduk di kafe ini. Meskipun begitu, aku tak pernah lagi melihat laki-laki itu bermain piano. Seperti ada yang hilang. Ya, laki-laki itu hilang.


Dentang Piano (part 2)

Gambar
Selesai sudah kuliah untuk semester ini. Wajahku sumringah bukan main menyambut datangnya libur panjang. Walaupun tetap, jadwal siaranku masih berjalan. Aku belum cerita ya? Aku kuliah di jurusan fisika di salahsatu universitas cukup terkenal di New York. Selain kuliah, aku bekerja di salahsatu stasiun radio anak muda di kota ini. Ya, aku mulai membiayai pendidikanku sendiri.

"Aku, James, dan Alex berencana akan berlibur di Manhattan. Kau mau bergabung?" Tanya Anya sambil memainkan sedotannya.
Sejenak aku berpikir, lalu berkata.. "aku masih ada jadwal siaran. Kau tahu kan, bosku nanti marah jika aku mengambil cuti. Bisa-bisa ia memangkas gajiku."
Anya tertawa meledek. Aku bisa mendengar jelas suara tawanya yang lepas. Malas. Aku hanya mengerutkan alis.
"Kau yakin tidak akan bergabung? Kalau begitu nanti akan kubawakan oleh-oleh." Anya meninju lenganku ringan.
Aku memutuskan meninggalkan Anya. Berbicara dengannya tentang berlibur membuat hatiku semakin…

Dentang Piano (part 1)

Gambar
Ku percepat langkahku. Tak peduli ramainya jalanan ini dengan pejalan kaki sepertiku. Sesekali kulirik jam di tangan kiriku. Dan tiba-tiba saja....... tetesan air jatuh dari langit, membasahi setiap sudut rambutku. Sial!

Aku terlambat. Hujan ini mendahuluiku. Tidak ada waktu. Aku langsung mengarahkan kakiku masuk ke salahsatu kafe terdekat. Mataku menyapu seluruh isi ruangan, berharap ada meja kosong. Yak! Ketemu! Disudut sana dekat seorang laki-laki sedang bermain piano, masih ada meja kosong untuk aku tempati. Kakiku refleks dengan segera menuju kesana. Tak berapalama setelah ku daratkan badanku di kursi, pelayan datang dan mencatat pesananku.



Movie Review: Fast & Furious 6

Gambar
Salam.

Suka nonton film? Nonton film Hollywood? Yak! Pas sekali. Pada postingan kali ini gue mau mengulas satu film Hollywood yang minggu lalu baru gue tonton, Fast & Furious 6.



Seri ke-6 Fast & Furious ini diawali dengan kebahagiaan Brian O'Conner yang baru saja memiliki seorang putra setelah menikah dengan Mia, adik perempuan Dominic Toretto. Dom berserta timnya kini memilih pensiun setelah selesainya kasus perampokan (pada seri ke-5) dan berpisah masing-masing hingga pada suatu hari Hobbs, seorang polisi datang meminta bantuan Dom serta timnya untuk memburu organisasi pembunuh bayaran internasional yang dipimpin oleh Owen Shaw dan wakilnya Letty Ortiz. Dom menyetujui akan membantu Hobbs jika polisi tsb bersedia menghapuskan semua catatan kriminalnya serta timnya, terlebih saat Hobbs menunjukan foto Letty yang notabene adalah mantan kekasih Dom yang hilang dan dianggap telah meninggal (pada seri ke-5).

Perburuan Owen Shaw serta timnya membawa Hobbs dan Dom serta tim samp…

Karena Aku Yakin

Ketika aku lelah menunggu, apa yang akan kau lakukan untuk membuatku bertahan?
Ketika aku lelah menanti, apa yang akan kau katakan untuk menguatkan hatiku yang jelas-jelas sudah hampir patah lagi?
Setelah kejadian dua tahun silam, kejadian yang membuatku takut, kejadian yang membuatku tak lagi ingin menemuimu (mungkin begitu pula kau sebaliknya), aku tak pernah berani mengetik satu karakterpun dalam layar pesan ponselku untuk dikirimkan padamu. Bahkan sudah beberapa kali aku menulis draft disana, dan semua itu berakhir di tong sampah virtual.

Bodoh.
Ya. Aku merasa bodoh. Amat bodoh. Terkadang aku benci diriku sendiri, mengapa aku rela bertahan dan terpaku disini hanya untuk menunggu seseorang datang (pulang)? Bodoh, bukan?
Untuk apa menanti yang tidak kunjung datang (pulang)? Untuk apa menunggu yang sebenarnya tidak akan pernah kembali (pulang)?