Pages

Senin, 24 Juni 2013

Aku Pernah

Pernahkah kau sadar, angin-angin disekitarmu menyentuh lembut wajahmu dan membisikan sesuatu ditelingamu? Suaranya samar, namun akan terdengar jelas jika saja jantungmu tidak sedemikian cepatnya berdegup.

Pernahkah kau berpikir bahwa aku pernah membencimu sebesar-besarnya setelah merindukanmu sedalam-dalamnya?

Pernahkah kau menyangka bahwa aku yang terlihat tak memperdulikanmu diam-diam senang memandangmu dan memperhatikan setiap detail yang ada dalam dirimu?

Pernahkah kau menyangka bahwa aku mencintaimu sejak hari-hari kemarin, dimana sudah dua musim panas kita lewati?


Aku mencintaimu setiap hari. Aku tak pernah bosan. Setiap kali aku mendongak pandangan ke langit luas, aku berdoa dalam hati; agar angin-angin menyampaikan salam rinduku padamu, agar setiap hujan yang turun menjadi doa untukmu dariku, agar setiap senja di ufuk barat selalu terlihat indah meski jarak adalah satu-satunya yang memisahkan kita.

Aku pernah membencimu. Mengutuk diri sendiri yang dengan tololnya menuruti segala aturan permainanmu yang pada akhirnya selalu merugikanku
Aku pernah membencimu saat aku benci pada jarak, begitu kejamnya menjauhkanmu dariku meski untuk beberapa saat
Aku pernah membencimu saat wanita itu dengan manjanya memelukmu dan kau membalasnya dengan santai dan hangat

Aku pernah membencimu.

Aku pernah mecintaimu sebegitu besarnya saat kau mengulum senyum bibirmu yang tipis menawan
Aku pernah mencintaimu tanpa perlu kau berbuat begini dan begitu
Aku pernah mencintaimu dalam doaku
Berharap Tuhan menjagamu dalam setiap doa-ku
Berharap Tuhan menyatukan perbedaan kita yang bisa terlihat jelas

Aku pernah mencintaimu dalam diamku. Bibir ini menjadi saksi bisu bagaimana aku mencintaimu dalam diam. Membiarkan kau menggenggam erat tangan mungil itu lalu merengkuh raganya dalam pelukmu. Betapa bodohnya aku.

Aku pernah mencintaimu setelah beberapa perjumpaan kita; Disuatu senja di bulan agustus musim panas dua tahun lalu.

Aku mencintai apa adanya dirimu. Dengan segala ketidaksempurnaanmu sampai segala kesempurnaan dan kehebatanmu. Sudah menjadi tugasku berusaha mengimbangimu.

***

Hingga sampai saat ini, aku mencintaimu apapun kekuranganmu; dari yang kau benci hingga yang kau abaikan. Aku mencintai senja yang selalu mempertemukan kita sekaligus membuat konspirasi alam untuk memisahkan kita. Aku mencintai kembang api yang percikan setiap warnanya pernah mengembangkan senyummu dan menatapku hangat.

Hingga saat ini, aku benci pada diriku sendiri yang tak pernah bisa memudarkan segala rasa untukmu; benci dan cinta. Aku benci pada setiap perpisahan kita.

***

Pernakah kau menyadari betapa angin dengan sekuat tenaganya namun tetap lembut membisikan kata rinduku setiap hari?

Pernahkah kau menyadari betapa diruang kosong nan berantakan ini akan ada ruang untukmu, untuk kau singgahi dan tempat berlabuh selamanya?

Aku pernah mencintaimu dalam doa. Namun aku pernah menbencimu dalam diam. Ya. Aku pernah.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar