Pages

Minggu, 09 Juni 2013

Dentang Piano (part 1)

Ku percepat langkahku. Tak peduli ramainya jalanan ini dengan pejalan kaki sepertiku. Sesekali kulirik jam di tangan kiriku. Dan tiba-tiba saja....... tetesan air jatuh dari langit, membasahi setiap sudut rambutku. Sial!

Aku terlambat. Hujan ini mendahuluiku. Tidak ada waktu. Aku langsung mengarahkan kakiku masuk ke salahsatu kafe terdekat. Mataku menyapu seluruh isi ruangan, berharap ada meja kosong. Yak! Ketemu! Disudut sana dekat seorang laki-laki sedang bermain piano, masih ada meja kosong untuk aku tempati. Kakiku refleks dengan segera menuju kesana. Tak berapalama setelah ku daratkan badanku di kursi, pelayan datang dan mencatat pesananku.





Aku tak tahu nama kafe ini apa. Tak sempat aku melihat papannya didepan tadi. Kafe ini memiliki kaca besar, sehingga aku dengan leluasa bisa melihat keluar, begitu pula sebaliknya. Kafe ini berdesain agak kuno; temboknya masih bata merah, lantainya menggunakan lembaran yang terbuat dari kayu berwarna cokelat tua, terdapat beberapa lentera berisi api yang menyala dengan tenangnya tergantung di setiap sudut, dan tidak lupa di dindingnya menempel beberapa lukisan yang sepertinya kuno.

Namun jangan salah, meskipun terlihat kuno, entah kenapa aku langsung menyukai atmosfer kehangatan di ruangan ini. Sekalipun hujan deras diluar, didalam tetap hangat. Suasana nyaman dalam kafe ini seketika membuat jantungku kembali berdegup teratur setelah menghindari hujan diluar. Oh ya, masih ingat bukan apa yang ada didepan mejaku? Seorang laki-laki yang usianya mungkin sebaya denganku memakai kaus putih dibalut dengan blazer berwarna cokelat yang warnanya senada dengan celana jeans-nya. Ia memakai sepatu keds berwarna hitam bercorak putih. Sedang tangannya sedang lincah memainkan tuts-tuts piano. Amat lincah. Lelaki itu tertunduk menatap jari-jarinya. Sepertinya tidak sekalipun ia mendongak kepalanya untuk sesekali melihat respon pengunjung mengenai permainan pianonya.

Oh ya, lelaki ini mirip vokalis salahsatu band pop-rock Amerika, A Rocket To The Moon! Namun, ia lebih gemuk sedikit. Tampan. Lumayan.
"Ini kopinya, nona."
Suara itu menggelegar bak petir dalam lamunanku. Pelayan tadi meletakan secangkir kopi di mejaku dan ia bergegas pergi.

Rasanya sekarang aku tak memerlukan kopi ini, badanku sudah menghangat. Namun, aku rasa aku perlu tahu siapa orang ini, lelaki yang sedang bermain piano. Wajahnya tak asing. Benar-benar tak asing, aku seperti pernah melihatnya disuatu tempat. Entah itu dimana.
Sampai akhirnya.....

Jari jemarinya berhenti bermain dengan tuts piano, kepalanya mendongak dan matanya menangkapku basah! Aku tertangkap basah sedang memperhatikannya sejak tadi. Ia mengulum senyum. Sepersekian detik kemudian buru-buru ku menunduk dan mengambil cangkir berisi kopi di mejaku. Ku sesap kopi yang masih hangat itu perlahan--mengulur waktu--berharap sesudahnya laki-laki itu tak lagi menatapku. Aku bisa merasakan uap-uap dari dalam cangkir membelai pipiku.
Masih menunduk, aku meletakan kembali cangkir itu dan mulai memberanikan diri mendongak. Jantungku berdegup kencang, sepertinya ini saat-saat paling menegangkan dengan orang asing. Apalagi di kafe seramai ini. Namun, mataku tak menangkap sosok itu. Ya, ia menghilang. Kemana dia? Kepalaku berputar berkeliling mencari sosoknya yang mungkin saja sedang duduk disalahsatu kursi dengan segerombolan orang. Ia tak ada. Rasa penasaran mulai menyelimuti hatiku. Ya, aku memang orang yang mudah penasaran, apalagi dalam hal seperti ini.

Lain kali, aku harus datang kesini lagi. Aku yakin ia pasti bekerja disini sebagai pemusik. Ya, memainkan piano itu. Aku harus bertemu dengannya lagi. Ya, harus!

***

Tidak ada komentar:

Posting Komentar