Pages

Senin, 10 Juni 2013

Dentang Piano (part 2)

Selesai sudah kuliah untuk semester ini. Wajahku sumringah bukan main menyambut datangnya libur panjang. Walaupun tetap, jadwal siaranku masih berjalan. Aku belum cerita ya? Aku kuliah di jurusan fisika di salahsatu universitas cukup terkenal di New York. Selain kuliah, aku bekerja di salahsatu stasiun radio anak muda di kota ini. Ya, aku mulai membiayai pendidikanku sendiri.

"Aku, James, dan Alex berencana akan berlibur di Manhattan. Kau mau bergabung?" Tanya Anya sambil memainkan sedotannya.
Sejenak aku berpikir, lalu berkata.. "aku masih ada jadwal siaran. Kau tahu kan, bosku nanti marah jika aku mengambil cuti. Bisa-bisa ia memangkas gajiku."
Anya tertawa meledek. Aku bisa mendengar jelas suara tawanya yang lepas. Malas. Aku hanya mengerutkan alis.
"Kau yakin tidak akan bergabung? Kalau begitu nanti akan kubawakan oleh-oleh." Anya meninju lenganku ringan.
Aku memutuskan meninggalkan Anya. Berbicara dengannya tentang berlibur membuat hatiku semakin teriris mengingat aku tak bisa ikut karena pekerjaan-sialan-ini-dan-bos-akan-marah-besar. Ya begitulah.




Jalanan siang ini padat. Jam makan siang sepertinya tiba. Dan beruntungnya, langit kali ini cerah. Matahari dengan senang hati menampakan diri, memberikan uap-uap kehangatan alami di bumi.
Ponselku berdering. Tanpa melirik sedikitpun ke layar ponsel, aku langsung membuka flap ponselku dan seperti biasa aku berkata, "halo?" Pada seseorang diujung telepon.
"Hallo, Jean. Ini aku, Tom."
"Oh ya, ada apa? Aku sedang menuju kesana... oh ya? Baiklah. Sampai nanti."
Tom adalah rekan kerjaku distasiun radio. Dia cukup tampan, dan beberapa kali kami sempat berkencan. Namun aku tak mempunyai rasa apapun. Ah. Sudahlah. Tak penting membicarakan masalah percintaanku.
Setelah beberapa lama, atmosfer ruang siaran langsung menyeruak. Udara-udara yang khas dari sana langsung memasuki paru-paruku.
"Ada apa, Tom?" Tanyaku seraya meletakan tas tanganku diatas meja.
Lelaki itu mengulurkan sebuah amplop cokelat muda polos. "Ini. Ada yang mengirimkan ini untukmu. Di amplop tak ada keterangan siapa yang mengirim."
Refleks aku mengerutkan kening. Otakku berpikir keras seiring dengan tanganku mengambil amplop itu dan berulang kali memandangnya. Setelahnya kakiku mengarahkan tubuhku untuk duduk di sofa diluar ruang siaran. Perlahan aku membuka amplop cokelat tersebut.

Dear Jean Watson.
Jean, gadis berambut blonde yang dingin dan terkesan cuek. Ia menyukai kopi hitam dan atmosfer kenyamanan kafe yang ia sebut kafe kuno. Sneakers yang kau pakai hari itu adalah kesayanganmu, bukan? Sneakers itu pemberian kakakmu, Anette, bukan?
Gadis pecinta sneakers dan gaun. Aku pernah melihat fotomu menggunakan sneakers yang kau padukan dengan gaun hijau muda di pesta SMA dulu. Benar, kan? Sampai-sampai kau ditegur oleh ketua pelaksana pesta gara-gara menggunakan sneakers. Benar?
Aku tahu persis berapa banyak sneakers yang kau simpan dalam lemari khusus dalam kamarmu. Hmm coba ku tebak, mungkin sekitar 34 pasang sneakers? Ya, 34 pasang.
Aku tahu apa yang kau sembunyikan dalam kotak penyimpnan yang diberi kode dibawah tempat tidurmu. Coba ku tebak lagi... isinya seikat mawar yang sudah layu. Benar?
Jean William Watson, gadis feminm sekaligus tangguh layaknya seorang pria. Aku tahu. Kau pernah belajar bela diri saat SMP demi menghindari Stevi dan kawan-kawannya mem-bully-mu, kan? Kau mau tahu kehidupan Stevi sekarang? Sekarang ia menjadi pekerja seks komersial (PSK) disalahsatu club mewah di pusat kota.
Kau, gadisku, jangan pernah sekalipun menyentuh tempat itu, ya. Dan jangan pernah menjadi buruk seperti Stevi. Dia gadis murahan..

Salam Rindu, 

Your Secret Admirer.


Jantungku mencelos. Siapa orang ini? Bagaimana ia bisa tahu tentangku? Well, tentang bully itu, ya memang benar semasa SMP gadis yang bernama Stevi sering mem-bully-ku habis-habisan! Lalu dengan koleksi sneakers-ku, bagaimana ia bisa tahu angka yang tepat? Lalu bunga mawar yang layu, sial! Dia benar. Siapa dia?
Pengagum rahasia. Apa maksudnya. Ini sangat tak masuk akal.

Kulipat kembali kertas itu dan memasukannya ke dalam amplop semula. Dari salam sana, Tom yang berada di ruang siaran terlihat memperhatikanku sejak tadi. Mata kami bertemu. Seketika ia mengalihkan pandangannya. Sementara aku masih memandangnya dengan perasaan aneh.
Apa mungkin Tom? Tapi..... sejauh yang aku tahu, ia tak pernah peduli model apa atau berapa banyak sneakers yang ku punya. Tentu saja bukan dia!
Lalu siapa?

***

Tidak ada komentar:

Posting Komentar