Pages

Rabu, 12 Juni 2013

Dentang Piano (part 3)

Liburan yang membosankan. Anya pergi berlibur. Setiap hari hanya keluar untuk siaran. Dan setelahnya selalu mampir ke kafe kuno itu, kafe yang menyelamatkanku dari hujan dan dingin, menghangatkanku dengan atmosfernya yang khas.

Sudah satu minggu, aku secara intens mampir kafe kuno itu dan aku selalu memilih tempat yang sama saat pertamakali duduk di kafe ini. Meskipun begitu, aku tak pernah lagi melihat laki-laki itu bermain piano. Seperti ada yang hilang. Ya, laki-laki itu hilang.




Tempo hari yang lalu aku bertanya pada seorang pelayan disini mengenai kabar laki-laki itu.
"Maaf, lelaki yang bermain piano itu kemana ya? Aku ingin mendengar suara piano." Gumamku penasaran saat kepala pelayan itu agak sedikit mendekat untuk mendengar perkataanku.
"Oh, dia? Dia sudah tidak bekerja disini sejak hari kamis lalu. Aku tak tahu persis mengapa. Dia mengundurkan diri."
Aku mengangguk mengerti--sekaligus kecewa--mendengar kabar itu.
Sejak saat itu, di kafe ini entah mengapa aku sering memikirkannya. Menerka-nerka pertemuan selanjutnya yang diatur oleh semesta. Lalu bertanya-tanya pada diri sendiri, akankan aku bertemu dengannya lagi? Apakah mungkin semesta mempertemukan aku dengannya lagi? Yah... pertanyaan-pertanyaan macam itu kini berseliweran dalam pikiranku. Sial! Sudah terlambat untuk meredam dan menghilangkan rasa penasaranku.

***

"Yak! Selamat malam para pendengar setia NYC Radio! Menyambut langit gelap ini seperti biasa aku akan membacakan surat pendengar dengan tema yang khas; romance!" Gumamku semangat siaran acara surat pendengar.

Aku menghitung sejenak berapa surat yang masuk ke redaksi minggu ini. Ku buka amplop berwarna merah muda dan mulai membacakannya untuk pendengar  radio. Lalu memberikan sedikit saran.
Lalu giliran amplop putih motif hitam yang ku buka dan ku ambil kertas didalamnya. Kembali aku membacakan isi surat dan menanggapinya dengan santai.
"Ohh. Dari Jessie. Ia bercerita tentang kekasihnya yang bertugas militer ke negeri timur tengah membela tanah air. Begini suratnya:

Dear NYC Radio.
Sudah satu bulan ini hari-hariku terasa hampa. Lelaki itu meninggalkanku. Tidak, bukan karena ia selikuh atau apa, ia pergi ke daerah timur tengah sana, bertugas keamanan sebagai anggota militer USA. Tentu saja aku bangga. Kami telah bertunangan. Dua bulan lagi akan melangsungkan pernikahan. Sementara disini aku harus bersabar. Ya, ini risiko. Namun kau tahu kan rasanya rindu? Sepertinya aku amat merindukannya sekarang, lebih dari rindu sebelumnya. Apakah ini wajar? Entahlah.

Terima kasih telah mau membaca dan mendengarkan ceritaku. Semoga tak bosan dengan kisah hatiku yang selalu berhubungan dengan jarak.

PS: Nanti aku kabari lagi tanggal pernikahan kami. :)


"Wah! Hubungan jarak jauh ya, atau istilah remaja jaman sekarang Long Distance Relationship. Semangat, Jessie, untuk penantiannya. Dan menurutku, rindu yang kau rasakan wajar, apalagi kalian telah bertunangan. Banyak-banyak berdoa." Kataku panjang lebar. Huh. Tenggorkanku mendadak kering. Butuh air. "Baiklah kita bacakan surat selanjutnya. Hmm."

Tanganku memilah-milih surat lain, dan mengambil salahsatu amplop cokelat muda yang manis. "Baiklah dari siapa surat ini yaa???"
"Oke. Dari Nick! Mari kita dengarkan isi suratnya hmm.."

Aku bertemu dengannya dibawah langit gelap dan gemericik air turun dari langit dengan derasnya. Rasanya seperti mimpi. Dia seperti bidadari pengahangat atmosfer ruangan itu. Aku tersenyum dan tersipu malu pada sang hujan, sementara jari jemariku masih lincah diatas memainkan tuts. 
Jantungku berdegup lebih cepat dari biasanya. Ah. Aku benci ini. Tak berapa lama ku beranikan diri untuk menolehnya singkat. Astaga! Dia melihatku! Dia memandangiku! Dan entah setan apa yang merasuki diriku, senyumku tiba-tiba mengembang. Sial! 
Gadis itu segera mengambil cangkirnya dan menyesap isi didalamnya. Dapat terlihat samar-samar kepulan asap tipis menyeruak ke wajahnya yang mulus. 

Jariku berhenti dinada terakhir. Ku memutuskan bangkit dan pergi dari sana. Dan berlalu.


Kepada gadis pembawa kehangatan, ku harap kau selalu menemukan sinar kehangatanmu meski dibawah hujan sekalipun. Kesepian yang terkadang kau rasakan bukanlah kesepian yang nyata. Karena dibalik semua itu akan selalu ada sinar yang menemanimu kemanapun.

***

1 komentar: