Pages

Rabu, 19 Juni 2013

Dentang Piano (part 4)

Kalimat demi kalimat dalam kertas beramplop cokelat muda kini berputar-putar dikepalaku. Mataku mondar-mandir menyusuri kalimat demi kalimat tulisan itu. Ah. Tulisan ini bercerita sesuatu. Seakan-akan ia membuat lakon sandiwara dalam kepalaku sehingga aku bisa membayangkan isi sebenarnya dalam visualisasi. Hujan deras diluar apartemenku tengah malam ini seakan tak mampu memecahkan kemelut kalimat-kalimat ini dalam kepalaku.

"Aku bertemu dengannya dibawah langit gelap dan gemericik air turun dari langit dengan derasnya."
Otakku memutar kembali rekaman beberapa hari yang lalu saat pertama aku bertemu pemuda yang sedang bermain piano di sebuah kafe kuno. Saat itu hujan deras. Beberapa tetes air hujan sempat membasahi rambutku.


"Rasanya seperti mimpi. Dia seperti bidadari pengahangat atmosfer ruangan itu. Aku tersenyum dan tersipu malu pada sang hujan, sementara jari jemariku masih lincah diatas memainkan tuts."
Lalu ke adegan berikutnya, mataku mencari meja yang kosong di kafe itu dan menangkap meja yang berdekatan dengan grand piano dan seseorang sedang memainkannya. Namun.. apakah aku melihatnya tersenyum? Ah tidak. Ingatanku cukup kuat. Aku tak melihatnya tersenyum. Apa benar? Aku hanya melihatnya tertunduk, matanya masih fokus pada jari jemarinya.

"Jantungku berdegup lebih cepat dari biasanya. Ah. Aku benci ini. Tak berapa lama ku beranikan diri untuk menolehnya singkat. Astaga! Dia melihatku! Dia memandangiku! Dan entah setan apa yang merasuki diriku, senyumku tiba-tiba mengembang. Sial!"
Setelah pesanan kopiku datang, aku membiarkannya. Pandanganku masih terpaku pada sosok yang sedang bermain piano tak jauh dariku.

***

Ah. Aku paham. Aku paham isi tulisan ini. Mungkinkah si pengirim yang bernama Nick ini adalah pemuda yang bermain piano di kafe itu? Bagaimana ia tahu aku bekerja di NYC Radio? Jelas-jelas waktu itu adalah pertemuan kami yang pertama. Apa ia membuntutiku?
Berbagai pertanyaan dan presepsi menari-nari dan berputar-putar dalam kepalaku. Membuatku semakin
bingung tak tentu dan mendadak rasanya seluruh aliran darah naik ke otak membuat kepalaku sakit.

***

Beberapa minggu berlalu. Kegiatanku pun kembali pulih; kuliah dan kerja. Aku pun aktif dalam kegiataan jurnal kemahasiswaan. Anya dan kawan-kawannya kembali menapaki kampus setelah liburan panjang mereka.

Sesekali dengan antusiasnya, Anya berbagi cerita liburannya. Oke, liburannya menyenangkan. Sejujurnya aku malas mendengarkannya, namun apa boleh buat. Aku hanya mengangguk-angguk paham dan sesekali coba terlihat antusias.

Setelah mendengar cerita Anya, kami pergi ke ruang jurnal kemahasiswaan. Reena, wanita ketua organisasi ini menugaskanku meliput acara festival musik klasik di salah satu kafe di pusat kota.

"Kau bisa kan besok malam meliput acara itu? Liputanmu pasti ku pasang di majalah kampus. Tenang saja." Pintanya seraya menyodorkan amplop abu-abu gelap padaku. "Ini alamat dan susuan acaranya. Pergilah. Ajak siapapun untuk menemanimu meliput."
"Baiklah." Jawabku singkat sambil mengangguk pelan.
Sesekali ku lirik amplop itu. Ah. Malas. Sebenarnya aku sedang malas meliput. Namun sepertinya Reena menugaskanku kembali karena sudah uhmmm sekitar 2 bulan aku vakum dari organisasi ini.

***

Dengan mantap ku langkahkan kakiku menuju alamat yang ada di amplop yang kemarin Reena berikan. Aku mendongak. Malam ini cerah. Tak ada hujan. Banyak benda-benda langit disana. Jalanan masih ramai. Berbagai iklan terpampang jelas dari layar raksasa dibeberapa gedung. Namun sebagian besar iklan itu adalah iklan ponsel dan tentu saja minuman bersoda yang sedang terkenal, Diet Coke.

Tè Amo Cafè, adalah kafe tempat diadakannya festival musik klasik itu. Dihadapaku terlihat jelas nama kafe itu dibentuk dari beberapa pasang lampu kecil yang berwarna-warni.
Lonceng berbunyi seiring dengan ku dorong pintu masuk kafe. Mataku disugguhkan dekorasi kafe yang menarik. Mungkin mataku sedang berbinar sambil memandang ke tiap sudut ruangan kafe yang bergaya Barcelona.

Namun... didalam seperti tidak ada acara yang diadakan--festival musik klasik--seperti yang dikatakan Reena. Keningku mengerut. Ada apa ini? Apa aku salah tempat? Yang kulihat hanyalah beberapa meja yang diisi penuh oleh para pelanggan. Sama sekali tidak ada tanda-tanda diadakannya festival.

***

Tidak ada komentar:

Posting Komentar