Pages

Minggu, 02 Juni 2013

Karena Aku Yakin

Ketika aku lelah menunggu, apa yang akan kau lakukan untuk membuatku bertahan?
Ketika aku lelah menanti, apa yang akan kau katakan untuk menguatkan hatiku yang jelas-jelas sudah hampir patah lagi?
Setelah kejadian dua tahun silam, kejadian yang membuatku takut, kejadian yang membuatku tak lagi ingin menemuimu (mungkin begitu pula kau sebaliknya), aku tak pernah berani mengetik satu karakterpun dalam layar pesan ponselku untuk dikirimkan padamu. Bahkan sudah beberapa kali aku menulis draft disana, dan semua itu berakhir di tong sampah virtual.

Bodoh.
Ya. Aku merasa bodoh. Amat bodoh. Terkadang aku benci diriku sendiri, mengapa aku rela bertahan dan terpaku disini hanya untuk menunggu seseorang datang (pulang)? Bodoh, bukan?
Untuk apa menanti yang tidak kunjung datang (pulang)? Untuk apa menunggu yang sebenarnya tidak akan pernah kembali (pulang)?

Mereka berkata, "untuk apa kamu menunggu selama itu? Baiklah, kau memang wanita super. Namun, tidakkah kau berkaca dan melihat dirimu sendiri? Matamu menjelaskan bahwa ada titik lelah disana. Lelah yang amat dalam. Untuk apa menunggu seseorang yang seperti itu? Amat membuang waktumu. Hakikatnya, cinta memang kesetiaan, namun, pantaskah cinta yang hanya setia pada satu sisi? Pada sisi dirimu saja? Tidakkah kau mencoba bangkit dari penantianmu dan perlahan berlari dari sana hingga akhirnya benar-benar kau tinggalkan?"

Kalimat yang keluar dari mulut salah seorang sahabat, membuatku ingin menghajar habis-habisan diri sendiri yang dengan bodohnya menunggu yang tidak pernah kembali.


"Sudahlah. Tinggalkan saja cinta yang seperti itu. Sama sekali bukan cinta yang baik untukmu. Suram. Semuanya terlihat samar. Kau tdk pantas mendapatkan hal-hal yang suram dan samar. Kau membiarkan perasaanmu ditarik-ulur lalu dibawa ke tempat setinggi-tingginya dan dihempaskan sederendah-rendahnya ke tanah. Kau lebih kasihan hatimu atau dia? Cinta seperti itu tidak pantas ditunggu ataupunn diharapkan. Apa yang kau harapkan dari pria yang tidak bisa menghargaimu? Menghargai setiap bentuk kecil candamu yang hanya ingin membuatnya tertawa, menghargai setiap hal kecil yang kau perhatikan dari dirinya, dan menghargai perasaanmu. Sama sekali tidak bisa diharapkan."

Kalimat selanjutnya keluar dari salah seorang sahabat, satu-satunya laki-laki yang memberiku nasehat sampai sedetail itu untuk kebaikanku sendiri.

Dua pernyataan itu semakin meyakinkan sekaligus menyadarkanku bahwa aku bodoh. Stupid. Ya semacam itu lah.
Namun yang paling berkecamuk dalam dadaku adalah.... aku menolak untuk berhenti. Aku menolak. Samar. Namun aku masih percaya dan yakin. Entah yakin karena apa. Ya, aku yakin.
Aku yakin tidak ada penantian yang sia-sia. Sedikit-banyaknya, akan terlihat hasilnya, meski tidak sesuai harapan. Berharaplah yang terbaik.
Jika memang ditakdirkan bersama, Tuhan akan menggerakan tangan-tangan-Nya melalui konspirasi semesta untuk dua anak manusia bersama.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar