Pos

Menampilkan postingan dari Juli, 2013

Book Review: London by Windry Ramadhina

Gambar
Salam.

Halo! Berjumpa lagi! Haha baiklah baiklah. Apa kabar? Semoga masih sehat-sehat saja. Saya? Alhamdulillah masih sehat walaupun kemarin sempat kurang enak badan gara-gara jadwal tidur, makan, aktifitas dan istirahat berantakan. Pfft.

Baiklah. Sesuai janji saya pada postingan sebelumnya, saya mau memberikan review alias ulasan dari novel yang minggu kemarin saya beli dan sudah tamat dibaca. :D
Mau tau? Simak!


Yap! Buku berjudul ini berjudul London karya Windry Ramadhina terbitan GagasMedia Publisher baru saja keluar bulan Juli 2013. Buku ini merupakan seri atau bagian dari proyek Setiap Tempat Punya Cerita (STPC) oleh GagasMedia dan Bukune.

Why Are You Still Waiting For?

Gambar
Salam.

Bismillah. Ditemani segelas susu cokelat hangat di malam minggu kedua bulan Ramadhan, saya membuat postingan ini.

Beberapa hari yang lalu, saya sempat berkirim pesan singkat melalui salahsatu aplikasi messenger yang sedang booming di smartphone dengan salahsatu teman, teman lama, lebih tepatnya teman SMP. Yah.. Sekedar silaturahmi.

Kami terlibat obrolan santai namun serius perihal masalah kehidupan roman saya. Hahaha. Saya tidak menganggap di kepo sehingga saya menjawab beberapa pertanyaan yang ia tanyakan melalui aplikasi messenger.

I Promise You

Jika rasa yang kupunya belum cukup halal untukmu, maka akan ku sederhanakan lagi rasa itu; menjadi gumpalan kesabaran dan ke-lapangdada-an yang luas dan besar.
Jika rasa yang kupunya belum cukup halal untukmu, maka akan ku buat kotak cantik untuk menyimpanmu disana; menyimpan rasa itu dan dirimu rapat-rapat didalamnya.
Jika rasa yang kupunya belum cukup halal untukmu, maka akan ku kunci pintu hati dan bibir ini; menjagamu tetap aman tanpa ada seorangpun yang datang dan merusaknya.
...Sampai waktu yang tidak ditentukan; sampai waktu mempertemukan.
I promise you.

I Just Haven't Met You Yet

Gambar
Suatu hari, saya terhenyak sedikit membaca twit salah seorang wanita, dokter muda sekaligus penulis novel Heart Emeregency, teh Falla Adinda yang isi twitnya kira-kira seperti ini:

"Kenapa tidak berdoa untuk minta jatuh cinta lagi dibanding berdoa meminta dia kembali?"
Iya, saya sedikit terhenyak. Kenapa? Karena saya baru menyadari, sudah sejak lama saya selalu menyelipkan namanya disetiap perbincangan dengan Tuhan; berharap dia baik-baik saja, berharap dia bahagia. Namanya tak pernah absen dalam benak saya. Apakah saya memintanya kembali? Tidak. Apakah saya masih mengharapkannya? Tidak.

Pantai Kuta

Mari menulis sajak tentang kita
Di atas kertas usang di bibir pantai kuta
Layaknya narasi di dadamu
Layaknya ribuan pertanyaan di dadaku
Mari bersandiwara sekali lagi untukku
Biar setiap tinta yang berbicara di atas kertas
Meraung dan menjerit seolah tak ada batas
Biar rasa itu menguap pergi bersama angin pantai kuta
Agar tak ada lagi yang harus terluka

Adzan Subuh

Kau bersembunyi dibalik dedaunan basah bersama embun
Terkadang bersembunyi dibalik rerumputan yang basah bersama embun
Kau mengudara bersama angin subuh
Mencari tempat tak berlabuh
Anak-anak kecil mulai membuka mata
Dan kau akan mengingatkan mereka bahwa Tuhan-nya telah memanggilnya
Bahwa malaikat telah berada disampingnya
Lalu kau akan menghilang di bibir sungai
Jatuh lalu mengalir bersama air ke suatu tempat yang damai

Mungkin Benar

[Suatu Senja Ramadhan di Keraton]

Rasanya sengatan matahari sudah tidak lagi menyiksa kulitku. Walaupun aku masih bisa merasakan keringat segar mengucur di dadaku namun segalanya menjadi lebih baik kala senja di bulan Ramadhan tiba. Mungkin diantara kerumunan ini hanya aku yang sejak satu jam yang lalu menatap ponsel dengan berwajah harap-harap cemas. Ya, aku sedang cemas namun berharap pula.

20 menit kemudian salah seorang panitia menutup acara. Sungguh. Ketika keluar dari pendopo keraton, aku bisa merasakan angin menyentuh kulit wajahku dengan lembut. Aku bisa melihat jilbab cokelat yang kukenakan terayun sedikit karenanya. Akhirnya...

Surat Angin

Selama malam, mas.
Semoga angin malam ini menyampaikan rindu yang kian hari kian terasa sesak didadaku.
Semoga setiap belaiannya membawa ketenangan dihatimu.
Semoga setiap daun yang tertiup olehnya membawamu pada wanita yang selalu setia mendampingimu hingga akhir hayatmu; aku.
Salam rindu dari sudut kota kelahiranmu; aku.

Titik Air

Ini bukan cerita tentang kota hujan. Ini cerita tentang kota yang dingin. Kota dimana langit hujan dimalam hari berwarna oranye. Titik-titik air membasahi dedaunan pohon diluar. Aku bisa melihatnya dari lantai dua dengan jelas. Menghirup aroma tanah hujan adalah salahsatu hal kesukaanku.

Pohon 1:
Titik hujan ini selalu setia menemaniku. Setiap pagi, ia menemaniku dengan embunnya yang sejuk. Lalu malamnya ia merubah langit menjadi berwarna ke-oranye-an dan menurunkan serbuan titik air banyak sekali. Rasanya aku ingin menari dibawahnya lalu tertawa riang seperti anak kecil.