Pages

Sabtu, 06 Juli 2013

Titik Air

Ini bukan cerita tentang kota hujan. Ini cerita tentang kota yang dingin. Kota dimana langit hujan dimalam hari berwarna oranye. Titik-titik air membasahi dedaunan pohon diluar. Aku bisa melihatnya dari lantai dua dengan jelas. Menghirup aroma tanah hujan adalah salahsatu hal kesukaanku.

Pohon 1:
Titik hujan ini selalu setia menemaniku. Setiap pagi, ia menemaniku dengan embunnya yang sejuk. Lalu malamnya ia merubah langit menjadi berwarna ke-oranye-an dan menurunkan serbuan titik air banyak sekali. Rasanya aku ingin menari dibawahnya lalu tertawa riang seperti anak kecil.


Pohon 2:
Aku benci pagi. Sungguh. Aku benci dengan embun-embun. Untuk apa mereka ada jika hanya sesaat? Untuk apa mereka ada jika tidak berarti untukku?
Lalu, aku benci dengan titik air hujan yang dengan seenaknya turun banyak sekali. Mengganggu! Arrrggghh! Daun-daunku hampir saja rontok karenanya. Aku benci. Merusak. Dasar perusak! Dasar pengganggu!

***

Gadis itu tak pernah bersahabat dengan hujan. Ia tidak pernah menyukai hujan dan segala macam tentangnya.

Baginya, hujan hanya melahirkan bayi-bayi kecil nan dingin di ujung matanya. Lalu bayi-bayi itu akan menggoreskan luka (lagi) seperti dahulu. Ia tak ingin lagi menyemai rindu dan menanam benih rasa yang kalbu.

Saat matanya melahirkan bayi penuh luka, ia sadar betapa hatinya sudah terjerembab terlalu dalam. Lalu ia hanya bisa menatap angin dan merasakan cumbunya yang kian lama kian menusuk tulang rusuknya yang sudah terlalu rapuh.

Gadis penyendiri adalah sebutan untuknya. Lebih menyukai rindu tak terbalas, cinta tak terbalas, dan asa yang hanya dibiarkan tergantung hingga terhempas. Ia menari dibawah mentari musim panas ditepi pantai, tersenyum seolah bebannya perlahan-lahan menguap.

Pasir pantai itu seakan merindukan tawanya yang renyah dan cerah. Deburan ombak membelai rambutnya yang hitam nan panjang; lalu menari-nari.

***

Dibelahan dunia lain, seorang gadis menyukai hujan. Ia dapat merasakan angin menyentuh pipinya sebelum titik hujan turun. Lalu ia akan keluar menengok ke jendela untuk memastikan titik air itu turun.

Terlalu banyak cerita yang ada dalam hujan. Namun gadis itu tidak mempunyai kisah apapun. Yang ia tahu, sesuatu dalam dadanya hanya mencintai hujan. Ia mencintainya tanpa alasan. Baginya, titik air seakan mengajaknya menari bersama lalu berdansa diiringi musik.

***

Embun 1: Aku merindukan sosoknya yang mencintaiku apa adanya meski ia tahu pada akhirnya aku akan mati, terjatuh lalu terurai.

Embun 2: Karena untuk embun seperti kami, tidak pernah ada cinta yang abadi; seperti cinta dua anak manusia di bumi.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar