Pages

Minggu, 15 November 2015

Point of View (Talk About People Nowdays)

Kita hidup di jaman dimana orang-orang bebas berpendapat sesuka hati tanpa pedulikan perasaan orang-yang-dijadikan-objek-komentar. Yaaa, that's people nowdays.

Saya pernah berbicang dengan salah seorang teman mengenai berbagai keputusan orang di sekitar. Mungkin saat itu saya memang tidak sadar mengomentari tentang keputusan seseorang yang tidak berbuat apa-apa disaat hidupnya sedang berada (mungkin?) di bawah.


"Aku sih gatau yaa dia kenapa kayak gitu, harusnya dia bisa kali blablablabla..." I said.
"Nah kan padahal aku udah saranin dia buat begini begitu tapi tetep aja kan.. Aku sih kasian sama hidup dia blablablabla..." she said.


Saya mungkin orang yang mudah untuk terpengaruh (atau meng-judge, maybe?). Yaa saya tidak menyangkalnya. Setelahnya, terkadang saya teringat pembicaraan tadi dan merasa malu pada diri sendiri. Kenapa tadi saya ngomong begitu ya?


Saya pernah dengar dan lihat di situs berita online tentang seorang lulusan ilmu eksak namun sukes berbisnis di bidang kuliner dan pariwisata. Saya juga pernah dengar dan lihat dari sumber yang sama tentang seorang sarjana bekerja sebagai office boy di salah satu kantor perusahaan swasta di Jakarta. Ohya ada lagi, saya juga mendengar pengakuan dari teman dekat saya yang lain ada seorang tukang parkir di sebuah studio foto menjadi fotografer di studio foto tersebut dan sukses. See the difference?

Setiap orang punya pilihan yang terbaik untuk hidupnya masing-masing. Setiap orang punya hak untuk menentukan akan dibawa kemana hidupnya. Setiap orang punya alasan dibalik setiap keputusan yang ia ambil. Setiap orang juga punya rejeki yang berbeda-beda asalnya. Karena Tuhan selalu punya yang terbaik untuk semua umatnya. Itu yang saya percaya.

Mungkin saja office boy itu memang sedang butuh pekerjaan apapun untuk menopang hidupnya. Oleh karenanya dia rela untuk kerja apapun, bahkan walaupun ia seorang sarjana dan tidak sesuai dengan bidang kuliahnya.

Mungkin saja lulusan ilmu eksak tersebut memiliki passion terpendam yang besar di bidang bisnis. Walau bisnisnya tidak sesuai dengan apa yang ia pelajari di bangku kuliah, ia tetap menjalankan bisnis tersebut.

Dan.. Ajaib sekali ya seorang tukang parkir biasa menjadi seorang fotografer profesional? Tuhan Maha Baik. :)


***


Mungkin kita lihat dari luar seseorang melakukan ini itu dan dengan mudahnya kita berkomentar negatif. Namun, kita tidak tahu 'kan alasan mengapa orang tersebut melakukan ini itu? Mungkin karena passion, atau keterbatasan ekonomi, atau.. Memang itu pilihannya? We never knew.
Mungkin kita harus belajar bagaimana berpendapat yang didasari oleh sudut pandang yang benar sebelum berpendapat, apalagi berpendapat negatif.
Mungkin kita harus belajar untuk melihat hidup ini bukan hanya dari sudut pandang dirimu sendiri, namun dunia ini memiliki banyak sekali sudut pandang. Kita tidak berusaha menjadi orang lain, namun kita hanya berusaha untuk melihat lebih luas dari biasanya agar kita lebih memahami apa yang ada di sekitar kita. :)





Best Regards,



nrlhdyn.

Kamis, 12 November 2015

November Rain

Sudah beberapa hari ini sejak hari ulang tahunmu berlalu, langit Kota Kembang dipenuhi awan gelap nan pekat. November Rain, they said. Seperti saat ini, langit sedang bersedih. Mungkin ia sedang merindukan seseorang. Entahlah.. Namun, mungkin sedikit-banyaknya perasaan yang ia rasakan sama denganku saat ini; mendung.

Mencintaimu adalah perkara membahagiakanmu. Tidak ada cinta yang tumbuh selain dari kebahagiaan yang tulus.
Mencintaimu tidaklah sulit saat dunia kita hanya ada aku dan kamu dan cinta kita. Namun, pernahkah kamu bayangkan bila dunia kita ada orang lain yang mencoba menyelinap masuk tanpa kita sadari? Mungkin kita harus bergenggam tangan satu sama lain dengan eratnya. Mungkin kita harus tetap menjaga hati satu sama lain.


Sedih.
Kali ini mungkin aku harus mengakui bahwa aku sangat cemburu padanya yang memiliki cinta (mungkin) lebih besar padamu dibanding cintaku padamu.
Kali ini aku benar-benar merasa... cintaku tak lebih besar dari cintanya.
Kali ini aku benar-benar merasa... kalah.



Tak apa. Aku baik-baik saja. Yang menjadi prioritasku adalah kebahagiaanmu, tak peduli apakah aku harus menyayat hatiku sendiri. Walau memang jujur saja aku tak pernah benar-benar bahagia bila melihatmu bahagia yang mana itu bukan karenaku.

Tak apa. Aku baik-baik saja. Aku akan mencintaimu dan berusaha membahagiakanmu lebih baik lagi, lebih besar lagi, dan lebih dalam lagi. Aku memang tak mampu memberikanmu ucapan atau sapaan yang romantis, memberimu hadiah-hadiah yang paling kamu inginkan, memberimu rasa romantis yang mungkin sangat kamu inginkan. Tidak, sayang, aku mungkin tak bisa memberikanmu semua itu. Yang aku bisa hanya memberikanmu kenyamanan dan kehangatan cinta. Aku hanya bisa memberikan waktuku. Aku hanya bisa memberikanmu cinta yang sederhana dari aku yang bukan gadis rupawan. Aku hanya bisa memberikanmu seluruh hati dan tenagaku untuk membahagiakanmu. Hanya kebahagiaanmu. Itu saja.



Satu hal yang pasti akan aku lakukan, aku tidak akan pernah meninggalkanmu dan membiarkanmu sendiri. Aku akan selalu disini bersamamu, menemanimu, dan jadi apapun yang kamu inginkan pun butuhkan.
Satu hal yang kuminta darimu, jagalah kesetiaanmu padaku, jagalah hatimu untukku, dan janganlah pernah lelah untuk bersamaku. Hanya itu.








With Love,




nrlhdyn

Minggu, 08 November 2015

Selamat Ulang Tahun, Sayang..

Sabtu, 07 November 2015

Pukul 05:12 pagi tepat aku membuka mata dengan tiba-tiba dan teringat padamu. Kukirimkan pesan singkat padamu, mengucapkan selamat ulang tahun dan semua pengharapanku padamu, tak berspa lama kemudian kamu membalasnya.

Mendengar suaramu sepagi itu membuatku mendadak tidak lagi menghiraukan kantuk yang masih memaksa mata untuk kembali terpejam. Suaramu begitu candu untuk aku dengar, sesekali kamu tertawa kecil. Perbincangan di pagi buta yang menyenangkan. :))

***


Hari itu seperti biasa kita pergi keluar, kemanapun asal bersamamu benar-benar tidak jadi masalah. Dan hari itu aku akan berpakaian sesusi yang kamu inginkan; tampil feminim dengan rok span hitam juga blouse hitam putih. Kamu bilang kamu sangat suka jika aku pakai pakaian tersebut.
Pagi itu kamu melihatku dan tersenyum, lalu berkata, "Mau kemana, cantik?" Ah.. Seperti biasa.



Hari itu kita menghabiskan waktu seharian bersama. Seperti biasa aku selalu terpesona melihatmu dengan pakaian serapih itu di hari kelahiranmu ini. Aku suka rambutmu yang ditata dengan rapih dan aroma tubuhmu.

Hari itu berkali-kali kamu ingin menggenggam tanganku dan sesekali menciumnya dengan tatapan mata yang berbinar-binar. Sesekali kamu pun berkata, "Makasih, ya, Kakak seneng banget hari ini. Kamu cantik banget hari ini,"


***


Di akhir kebersamaan kita hari itu, aku memberimu sebuah kado berbungkus kertas berwarna merah muda dengan motif bunga-bunga. Hehehe.
Malam itu berkali-kali aku memelukmu erat dan berkali-kali pula kita berkata,

"Aku seneng banget hari ini,"
"Aku bahagia banget hari ini,"

Seperti itu lah. Banyak senyum dan tawa yang kita ciptakan. Ini bukan perayaan, sayang. Ini hanyalah cara kita mensyukuri hal-hal bahagia di sekitar kita juga yang kita rasakan.



Seiring pertambahan usiamu, aku selalu berharap yang terbaik untukmu; agar kelak kamu bisa menjadi pribadi yang lebih baik, dewasa, dan manusia yang berbahagia serta mampu membahagiakan orang lain. Aku juga berdoa untuk karirmu ke depannya serta anugrah rejeki dan kesehatan yang mudah-mudahan terus kamu dapatkan.

***


Sayang..
Jadilah manusia yang berbahagia dan mampu membahagiakan orang lain. Jadilah lelaki yang mampu kuandalkan, yang mampu bertanggungjawab dan mencintai serta setia hanya pada satu hati.
Jadilah manusia yang pantang menyerah apapun yang terjadi.
Janganlah mudah berputus asa, karena kamu pun tahu bahwa putus asa takan membawamu kemana-mana.


Sayang..
Aku bahagia mampu membahagiakanmu. Aku pun berharap dan akan selalu berusaha untuk membahagiakanmu lagi setiap hari setiap menit setiap waktu yang kupunya.

Selamat ulang tahun ke-21, sayang.. Doaku yang terbaik selalu untukmu. ❤



(Source: Google)



With Love,



nrlhdyn

Sabtu, 07 November 2015

Our 24 [Latepost]

Sabtu, 24 Oktober 2015

Hari itu seperti biasa kita menghabiskan waktu bersama, menjelajah kota kelahiranmu ini sembari berbagi tawa. Hari itu sesuai yang kamu janjikan, kamu memakai kemeja berwarna biru dengan sneakers favoritmu berwarna putih. Hari itu kamu mengetok pintu kamarku dengan senyum khas yang selalu ingin kulihat seumur hidupku, kemudian menyapa dengan pelukan hangat yang cukup lama.

"Selamat tanggal 24 yang ke-24 ya, sayang.."


Hari itu kita telah menyusun rencana untuk berfoto bersama di salah satu studio foto ternama di kota ini. Mampirlah kita ke salah satu mall pusat kota.

"Wah studio fotonya tutup," ucapku kecewa.

Kamu pun menyarankan untuk pergi ke cabang studio foto itu di mall lain. Baiklah aku iya-kan walau agak ragu karena letaknya belum tahu. Sesampainya disana kamu menggenggam erat tanganku, kita berjalan berkeliling mall tersebut. Kita tertawa. Kita menertawakan banyak hal. Kita bernostalgia, mengingat masa-masa yang pernah kita lewati. Terkadang aku pun mengutuk diriku sendiri karena bertindak bodoh padamu. Hahaha.

Mengapa aku memilih untuk berfoto bersama di momen seperti itu? Karena selama kurun waktu kebersamaan kami, kami tidak pernah berfoto di studio foto atau photobooth foto boks kecil. Lucu, ya? :))

Selepas maghrib kamu membawaku ke suatu tempat makan favoritku di bilangan Dago, Bandung. Pasta! Kita memilih untuk makan pasta malam itu dengan dua gelas Lemon Tea yang menjadi minuman favoritku! :)

Kita berbincang berjam-jam menunggu malam semakin larut. Entahlah.. Denganmu, aku tidak pernah kehabisan bahan pembicaraan. Sesekali kamu tertawa lepas begitu bahagianya. Denganmu, aku benar-benar tidak merasa sungkan atau enggan untuk menjadi diriku sendiri apa adanya dengan sejujur-jujurnya.

Dua tahun yang telah kita lewati bersama dan masih akan terus berlanjut perjalanan kita sampai selamanya hingga maut memisahkan..
Selama itu pula aku berpikir berkali-kali dan tetap pada keputusan yang sama; aku yakin untuk menjalani hidup bersamamu baik suka-duka perjalanan hidup nanti, aku yakin untuk tumbuh tua bersamamu menghabiskan waktu bersama melakukan kegiatan apapun yang kita suka hingga tua nanti mungkin hanya obrolan yang bisa kita lakukan untuk saling menemani dan memberi cinta.

Bersamamu aku yakin dapat membangun keluarga yang sebenar-benarnya aku impikan selama ini. Sebuah keluarga yang lengkap dan sempurna. Sebuah keluarga impian yang tidak hanya menjadi sekedar impian belaka.
Bersamamu apapun akan ku hadapi, demi dirimu dan semua cinta serta mimpi yang kita ciptakan bersama.

Perlahan namun pasti, aku yakin kita mampu membuat mimpi-mimpi kita menjadi nyata. Meski harus menguras tenaga, hati, dan mungkin air mata.

Satu-satunya orang yang benar-benar kutaruh kepercayaan adalah kamu.
Satu-satunya orang yang benar-benar mampu membuatku senyaman ini adalah kamu.
Satu-satunya orang yang benar-benar mengerti diriku--bahkan saat aku tak mengerti diriku sendiri--adalah kamu.


***


Dear Sayang..
Dua tahun yang mengagumkan! Terimakasih memori yang kamu berikan dan memori yang kita ciptakan bersama.
Diluar sana masih banyak perjalanan yang akan kita lalui bersama, baik suka maupun duka. Aku tidak peduli jika harus menyakiti diriku sendiri untuk bisa bersamamu untuk bisa membahagiakanmu.
Tetaplah saling menguatkan. Tetaplah saling bergenggaman tangan dalam situasi apapun. Tetaplah saling mencintai dan menyayangi. Tetaplah saling mengerti dan menjaga. Tetaplah saling memperjuangkan dan percaya satu sama lain. Karena di depan sana mungkin tidak akan lebih mudah, kuatkan dirimu dan percaya padaku bahwa kita bisa tetap bersama dan saling mencinta sekencang apapun badai menghantam. Aku percaya itu.

Aku bahagia bersamamu. Sungguh.
Aku memiliki segala yang aku butuhkan dan inginkan dalam dirimu.
Aku tak pernah bosan atau lelah untuk mencintai dan membahagiakanmu, sayang.
Dan aku pun tak pernah berhenti berdoa agar kelak aku dan kamu bisa bersama selamanya saling mencinta dan membahagiakan.

Aku mencintaimu, sayang. Amat sangat mencintaimu. Percayalah, tak ada wanita manapun yang cintanya melebihi cintaku padamu.




With Love,



nrlhdyn





Rabu, 28 Oktober 2015

Dear Nona

Dear You..

Hai. Tulisan ini kutulis untukmu, Nona Yang-Tidak-Ingin-Kusebutkan-Namanya. Apa kabar, Nona? Kuharap kau dalam keadaan sehat.

Kurasa aku tidak perlu memperkenalkan diriku padamu, aku yakin kau telah mengetahuiku lewat dirinya. Mungkin sudah beberapa kali langkahmu terhenti olehku. Aku minta maaf.
Sebelumnya aku minta maaf jika dalam tulisan ini ada kata-kata yang menyinggung perasaanmu, terlebih menyakitimu. Sungguh tidak bermaksud seperti itu. Kau tahu pasti mungkin apa yang akan aku katakan dalam tulisan ini. Jadi.. Selamat datang di duniaku.

Aku adalah seorang wanita yang biasa saja, rambutku hitam kemerahan dengan gaya yang standar, kulitku kuning langsat yang tidak begitu menarik, bola mataku besar dengan bibir tebal. Sehari-hari aku memakai kerudung sebagai tanda ketaatanku pada Tuhan-ku, juga menutu aurat-aurat yang dilarang untuk dipertontonkan pada orang lain. Badanku kurus dengan berat sekitar 44-45 kg saja dengan tinggi lebih dari 160 cm. Bisa kau bayangkan betapa kurusnya aku dan tidak menarik?
Aku hanya gadis rumahan; lebih senang berada dirumah dibanding berkeliaran diluar rumah. Aku suka menghitung dan menulis. Aku membaca banyak buku menarik walau agak mainstream dan terkesan membosankan. Tak apa.

Aku pernah terluka, dilukai oleh seorang pria. Pria yang sangat aku cintai dan banggakan. Pria yang sangat aku percaya dan dapat aku andalkan. Namun itu dahulu.
Pria itu memiliki cintanya sendiri, dan itu bukan aku. Namun ia tak ingin melepaskanku, ia tetap menghubungiku setiap hari seakan tak pernah terjadi apapun, seakan aku tak pernah terluka karenanya. Hingga akhirnya aku dengan polosnya memutuskan untuk menunggunya, walaupun ia tak pernah menjanjikan apapun padaku. Karena hanya dengannya aku merasa nyaman. Karena aku mengira suatu saat ia akan mencintaiku seperti aku mencintainya.


Hingga akhirnya telah ratusan hari kulewati dengan susah payah sedih dan bahagia untuk menunggunya. Lelah? Tidak, aku tak lelah, aku sanggup menunggunya selama apapun yang ia inginkan. Sampai pada suatu waktu aku menyadari, bahwa pria itu tidak akan pernah mencintaiku seperti aku mencintainya, bahwa pria itu takan pernah kembali lagi padaku seperti dahulu seperti pengharapanku selama ini. Ia tidak pernah berkata bahwa ia tak mencintaiku dan tidak ingin kembali padaku, namun ia menunjukannya di depan mataku. Ia mengucapkannya secara tersirat. Pada saat itu juga aku memutuskan untuk tidak lagi menghubunginya, dadaku selalu sesak mengingatnya, hatiku hancur berkeping-keping. Beberapa malam setelahnya kulewati dengan tangisan dalam diam yang selalu kusembunyikan dibalik selimut. Aku terlalu takut menerima kenyataan bahwa dengan santainya ia mencabik-cabik perasaanku yang tulus padanya. Pada saat itu juga aku memutuskan untuk berhenti menunggunya, berharap padanya, dan memutuskan untuk tidak ingin mendengar apapun lagi tentangnya. Kututup rapat-rapat mata, mulut, dan telingaku dari segala tentangnya. Aku anggap aku tak pernah mengenalnya. Saat itu, aku merasa sia-sia.

Namun Tuhan Maha Baik, Ia memberiku pria yang lebih lebih dari pria terdahulu yang menyia-nyiakanku. Pria yang sempurna untukku, dan hingga detik ini tak pernah satu haripun aku tak jatuh cinta padanya berkali-kali. Pria yang mampu memberikanku kenyamanan lebih dari yang kuharapkan. Alhamdulillah..

Kini aku lebih baik tanpa sosok pria dahulu itu. Hidupku masih baik-baik saja tanpanya. Sudah hampir dua tahun kami tak saling berkomunikasi satu sama lain. Hatiku jauh lebih tenang dari sebelumnya.

Maaf aku terlalu bertele-tele. Aku harap kau dapat mengambil pelajaran dari kisah masa laluku; untuk berhenti mengaharapkan dan menunggu seseorang yang tidak akan mungkin lagi kembali padamu, yang tidak akan mungkin lagi bersamamu--tidak lagi mencintaimu--seperti yang kau harapkan darinya.


Mengertilah..
Pria yang mungkin masih kau harapkan telah menjadi milik wanita lain, yang begitu mencintainya dengan setulus hati; begitu juga sebaliknya.
Pria yang mungkin masih kau harapkan telah memiliki hidup dan dunia baru tanpamu, dan ia tidak ingin kau kembali dalam hidupnya; sama seperti aku yang tidak ingin masa laluku kembali mengusik kehidupanku sekarang.
Pria yang mungkin masih kau harapkan telah memiliki tambatan hatinya dan itu bukan dirimu.
Pria yang mungkin masih kau harapkan telah memiliki kehidupan yang lebih baik dan bahagia tanpamu.


Mengertilah..
Akan ada hati yang terluka dan terbakar cemburu oleh tingkahmu.
Akan ada hati yang merasa tidak tenang sejak kehadiranmu.
Akan ada hati yang benar-benar hancur, yang mungkin secara sadar/tidak sadar kau hancurkan.


Mengertilah..
Hal ini bukan hanya perasaanmu semata, namun perasaan wanita lain terpaut didalamnya.

Jadi, untuk apa kau masih mengharapkan pria yang tidak memberimu apa-apa selain kau yang memanjakan anganmu? Aku tidak ingin masa laluku terulang padamu, masa itu sangat tidak menyenangkan, hanya membuang waktu.
Jadi, untuk apa kau masih menunggu dan berharap yang tak pasti dari seorang pria yang pernah kau tinggalkan?



Dan.. Bagaimana kalau pria yang masih kau angankan adalah priaku? Pria yang telah memiliki hidup dan segalanya bersamaku?
Dan.. Bagaimana kalau hal ini terjadi padamu? Apa kau akan diam saja? Apa kau akan menunggu dan membiarkan pria yang telah kau cintai dan memiliki segalanya bersama diambil oleh seseorang dari masa lalunya?
Pikirkan ini, Nona. Aku tidak akan menyakitimu. Namun, jika kau bersihkeras untuk tetap menghubunginya, maafkan aku, aku tidak bisa diam saja.


Sekali lagi aku minta maaf apabila perkataanku terlalu kasar. Aku hanya ingin kau mengerti dan pahami, ada perasaan wanita lain yang kau sakiti. Lagipula, sungguh tidak baik kau berbahagia berkat hasil mencuri kebahagiaan orang lain.
Carilah kebahagiaan yang hakiki buatmu juga Agamamu. Carilah cinta yang mampu menuntunmu menjadi umat yang lebih beragama dengan Tuhan-mu. Carilah cinta yang tidak egois.




Best Regards,



nrlhdyn

Kamis, 22 Oktober 2015

Tentang Ibu dan Segala Cintanya

Ibu,
Mungkin dia bukan yang pertama tahu saat kamu menangis. Mungkin dia juga bukan yang pertama tahu apa yang sedang kamu rasakan.
Namun sesungguhnya dialah yang paling rela mengorbankan apa saja demi melihatmu tersenyum dan hidup dalam kenyamanan.


Ibu,
Mungkin dia bukan yang selalu memperhatikanmu seperti saat kamu masih sangat kecil. Mungkin dia juga bukan yang paling mengerti kehidupanmu saat dewasa ini.
Namun sesungguhnya, dialah yang selalu ada saat kamu membutuhkannya. Dialah sesungguhnya 'rumah' untukmu pulang dan melepas segala lelah dan penat yang ada.


Ibu,
Dia mungkin tidak selalu dapat menjagamu dengan tangannya. Dia juga mungkin tidak selalu dapat menuntunmu dengan tangannya yang mulai keriput.
Namun, sesungguhnya dialah yang selalu menjagamu dengan doa-doanya dalam setiap sujudnya. Sesungguhnya dialah yang membisikanmu kebaikan ditelingamu yang terkadang kamu tidak menyadarinya.


Ibu,
Dia mungkin menginginkan rumah sederhana penuh kehangatan di dalamnya bersamamu, namun sesungguhnya ia tidak peduli dengan rumah; yang ia pedulikan hanyalah bersamamu, tidak peduli dimanapun tempatnya.


Ibu,
Wanita sederhana yang mungkin sering terabaikan olehmu, namun sesungguhnya ia adalah malaikatmu di dunia yang melindungimu dari apapun yang membuatmu tak bahagia dan tak nyaman. Malaikat itu selalu menyediakan tubuhnya untuk memelukmu erat dan membuatmu hangat hingga akhirnya kamu terlelap dalam dekapannya.


Ibu,
Terimakasih untuk segalanya yang telah dan akan kau berikan padaku, menjadi malaikat pelindung ditengah hiruk pikuk dunia yang fana, Bu.


Terimakasih untuk menjaga dan menuntunku dalam kebaikanmu, Bu, mengajariku mengenal Tuhan Yang Maha Baik.
Terimakasih untuk tidak pernah berhenti menyebutku dalam setiap doa-doamu, membisikan kebaikanmu saat aku jauh, menjagaku dengan setiap doamu.
Terimakasih untuk tidak pernah menyerah kepada dunia yang terkadang membuatmu menangis perih, hanya untuk menguatkan diriku yang bukan apa-apa.
Terimakasih untuk cinta dan kasihmu.


Ibu,
Maafkan segala kesalahanku, aku bukanlah anak yang baik dan patut selalu kau banggakan. Sungguh.
Maafkan segala kelalaianku padamu, yang mungkin seringkali mengabaikan kata-katamu, yang mungkin seringkali tidak bertindak sesuai keinginanmu, yang mungkin pernah menyakiti hatimu dengan cara apapun itu.


Ibu,
Maafkan aku yang belum bisa membuatmu bangga atas hasil kerja kerasku sendiri, yang belum bisa membahagiakanmu, yang belum bisa meringankan beban yang ada di pundakmu.
Maafkan aku yang selalu merepotkanmu dalam setiap situasi, yang selalu melakukan kesalahan dalam setiap tindakan, yang selalu membuatmu kecewa.


Ibu,
Sungguh aku ingin membuatmu bahagia, membuatmu hidup dalam kenyamanan dan kesejahteraan. Sungguh aku ingin meringankan bebanmu, membuatmu berhenti bekerja terlalu keras untuk anak-anakmu. Sungguh aku ingin menggantikanmu dalam menanggung beban hidup kita bersama.


Ibu,
Sungguh aku ingin menjaga dan merawatmu sampai kapanpun, sampai maut yang memisahkan kita. Sungguh aku ingin berusaha sekuat tenaga membuatmu bangga memiliki anak sepertiku.


Ibu,
Tetap jadi malaikatku, ya? Walau akan tiba pula saatnya kelak aku 'kan membentuk keluarga baru bersama pasanganku kelak, namun, tetaplah bersamaku, Bu. Aku ingin Ibu melihatku bahagia kelak dan kita akan menikmati bahagia bersama. Kita telah melalui semuanya bersama, Bu. Jadi, tetaplah menjagaku dalam doamu, Bu. Anakmu membutuhkanmu serta doa tulus ikhlasmu, Bu.

(Source: Google)




With Love,





From the deepest heart of nrlhdyn.

Senin, 12 Oktober 2015

Tentang Mencintai Apa Adanya

Apa sih yang dimaksud "Mencintai Apa Adanya"?


Hari itu saat salah satu penyanyi yang sedang digandrungi anak muda (termasuk saya), Tulus, baru saja merilis Video Clip terbarunya untuk lagu berjudul, Jangan Cintai Aku Apa Adanya. Sebagai Teman Tulus (sebutan penggemar Tulus), saya dengan sigap membuka aplikasi YouTube di ponsel kemudian mengetik 'Tulus - Jangan Cintai Aku Apa Adanya' pada kolom pencarian. Beberapa detik kemudian layar ponsel berganti halaman video siap putar (kebetulan terputar otomatis) pada Video Clip Tulus tersebut.

Setelah selesai menonton video tersebut, saya mulai terharu. Ya, terharu; melihat betapa kasih sayang seorang wanita dan pria yang amat tulus mampu mengukir senyum bahagia bahkan tawa, meskipun kehidupan mereka berdua amatlah sederhana.

Wanita tersebut mampu bertahan dengan pria yang ia cintai bahkan dalam masa-masa yang tidaklah mudah.

Pria tersebut rela berkorban demi orang-orang terkasihnya, termasuk Sang Wanitanya, sekalipun ia harus menjalani pekerjaan yang tidaklah mudah.


Sebuah melow-drama yang menyentuh hati. Saya bahkan sampai berulang kali menonton video tersebut demi mengerti perasaan satu sama lain; dari pihak wanita pun pria.


Mencintai bukan hanya sekedar 'mencintai' apa yang ada padanya saat ini dan mulai merangkai masa akan datang. Namun, mencintai harus pula sepaket dengan perasaan menerima dari kedua belah pihak.
Mencintai bukan hanya sekedar 'menerima' apa yang ada padanya dahulu dan sekarang. Namun, mencintai harus pula sepaket dengan kerja keras memperbaiki diri untuk bertahan dalam satu hati yang kekal.

Dirinya di masa lalu hanyalah ada dalam masa lalu.
Kenangannya di masa lalu hanyalah terjadi di masa lalu.
Meskipun ingatan akan selalu tertanam, masa lalu hanyalah akan menjadi masa lalu. Dan masa lalu tidaklah seharusnya berada di masa sekarang, karena kehidupan ini menuntut untuk terus berjalan ke depan, bukan mundur atau berjalan di tempat.


***


Dear Sayang..
Maafkan aku yang terkadang bersikap menyebalkan padamu; membicarakan masa lalumu yang sepatutnya tidak perlu dibicarakan. Maafkan aku yang terkadang belum bisa menerima semua masa lalumu dan kekuranganmu. Maafkan aku yang terkadang belum bisa menerimamu apa adanya dirimu, namun aku berjanji untuk tetap berusaha memberimu motivasi untuk kita lebih baik ke depannya.

Aku tidaklah lebih dari seorang wanita yang ingin dicintai dan mencintai apa adanya.
Kenanganmu bersama orang lain hanya ada dalam ingatan kepalamu, tidak di hatimu. Dan dengan bodohnya aku terkadang membongkar ingatan itu dalam kepalamu.
Cukuplah tidak membawanya dalam kehidupanmu kini bersamaku. Karena aku ingin belajar mencintaimu serta setiap kenangan manis yang terkubur dalam dasar ingatanmu, tanpa perlu membongkarnya kembali.
Sama halnya aku,
Kenanganku bersama sosok lain dahulu hanya ada dalam dasar ingatanku, terkubur rapih dan tidak akan aku pernah membongkarnya kembali.

Kenangan hanyalah kenangan. Tidak untuk disimpan dalam hati, namun tetaplah bersemayam dalam ingatan; sepanjang ingatan kita bertahan.



To love and to be loved are the most precious thing in our life; to love just the way he/she is, to be loved just the way we are. :)

Minggu, 11 Oktober 2015

Kepada Hidup

Hidup semakin dewasa selalu semakin menututmu untuk siap; siap dalam segala situasi dan kondisi, siap untuk susah maupun senang.

Hidup semakin dewasa selalu semakin membuatmu mengerti bahwa perjuangan yang kau kira telah separuh perjalanan, ternyata belum apa-apa.

Hidup tidak akan semakin mudah. Ia akan selalu berusaha menumbangkanmu dengan berbagai cara.


If life doesn't break you today, don't worry, they'll try again tommorow; again and again. 


Mungkin kita selalu berusaha untuk mengikuti alur hidup yang telah Dia takdirkan, namun, bisakah kita membuat alur sendiri sehingga hidup akan mengikuti ritme dan tempo alur yang kita buat?


Semakin dewasa, hidup semakin menuntut banyak hal padamu. Hidup menuntutmu membayar tagihan listrik setiap bulannya, tagihan air bersih setiap bulan, membayar tempat tinggal yang nyaman sebagai tempatmu pulang, hingga gaya hidup yang semakin hari semakin tidak murah. Setelahnya, hidup akan menuntutmu lebih berani mengambil keputusan; seperti menanggung kehidupan beban orang-orang terkasih, memiliki lebih dari apa yang dibutuhkan demi menyelaraskan kehidupan sosial yang membunuhmu perlahan, hingga keluar dari zona nyaman untuk memberikanmu kesempatan eksplor lebih jauh dari apa yang ada padamu sekarang.

Sungguh tidaklah salah.
Sungguh memang sah-sah saja.
Sungguh benar adanya.


Hidup itu seperti planet Bumi; berbentuk bulat dan selalu berputar pada porosnya. Hidup akan berputar sesuai takdir yang telah Dia gariskan pada setiap umatNya. Hidup akan berputar perlahan, sampai-sampai kau tidak merasakan proses perputarannya, kau hanya merasakan hasil dari setiap perputaran yang ia buat.

Hidup akan dengan siap dan sigap menumbangkanmu kapanpun ia mau. Hidup akan dengan senang hati untuk membuatmu merasa tidak paling tidak berarti di dunia. Dan hidup juga akan dengan tenang dan perlahan mengangkatmu setinggi-tingginya.

Tinggi? Apakah hidup akan mengangkat kita ke tempat lebih tinggi? Ke tempat yang kita impikan?

Pada hakikatnya, hidup berputar sesuai takdirnya dan pada setiap putarannya yang perlahan, Sang Maha Pencipta menyelipkan keseimbangan pada sela-sela poros takdir kehidupan. Sang Maha Penyayang pun menyelipkan sensasi yang baru pada sela-sela poros takdir tersebut. Dia merencanakan segala yang terbaik karena Dia memang sebaik-baiknya perencana.

Pada sesekali waktu, hidup juga akan menuntutmu sebuah saku berisi banyak kesabaran yang bisa kau gunakan. Kesabaran itu akan membuatmu semakin kuat semakin berani menikmati detik demi detik proses perputarannya kehidupan.

Kepada kamu yang merasa tidak pernah berguna dan selalu gagal (termasuk saya), mungkin Dia sedang mempersiapkan kejutan besar untuk langkahmu kedepannya sehingga akhirnya kau berada di puncak tertinggi dari kehidupan, seperti apa yang kau impikan selama ini.. Sang Maha Pencipta itu amatlah baik. Percayalah. Ia hanya menyelipkan waktu yang tepat untuk menunjukan kasih sayangnya padamu.

So now, live your own life and put God in your highest place in your whole life!

Kamis, 08 Oktober 2015

Ironic Life

Dear Blogger..

It's so ironic. I have none of people to talk to, but I know why, they're just too busy with their own things and yeah.. maybe I should talk to myself like an idiot or write some shit of my head. No, I have no diary or something like that. That's so old school, but I like the concept. But now I am digitaly writing on this old blog. Same thing.


Sometimes I think, "God, why this shit is happen to me? I don't even know how to solve those problem."

But God never answers the question. Well.. Sometimes I wish I could lose my mind or please just take this soul, I don't wanna live this life like this.

Do you ever feel like there's no one wants to talk to you? Talk about anything inside your head?
Do you ever imagine like there's no one wants to even listen to your deepest heart? There's no one wants to try to understand your heart?

And now I'm about to cry, crying a night long and sometimes hoping someone would come and ask, "are you okay? Don't hurt your own heart, I'll help to cheer you up."

Crying is stupid thing. I know that one. But now there's nothing to do to say. I've had enough.

Do you ever feel like there's a big storm in your heart and it makes you so scared about life?
Maybe I'm the only one person who will die to get the peace in me.
'Cause now I'm in underpressure. I need to make myself warm. Maybe alone is bad idea but I have no other choice.

This is a big deal, so complicated but I have to fix this with no one wants to even understand me.
I don't know when I should stop to cry. But maybe it's not gonna happen to me. I don't know.
I have none to support me. I have none to talk to. I have none to share with. I have none unless myself.

Life is life.

I am so hopeless and lonely. And thanks for making me like this.






With love and tears around myself,


Me.

Kamis, 20 Agustus 2015

[Review] Make Over Ultra Shine Lipstick in Mocca Toffee

Assalamu'alaikum Wr. Wb.

Hai! Akhirnya saya kembali buat nulis blog hihi setelah sekian lama bingung mau nulis apaan di sini. Tapi kali ini saya pengen nulis review alias ulasan suatu produk. Yes. Check it out!


Make Over Ultra Shine Lipstick in Mocca Toffee 08

Make Over Ultra Shine Lipstick
Netto: 3,8 gr
Produced by PT. Paragon Technology and Innovation
IDR 69.000

Jadi, ini adalah Si Kecil favorit saya. HEHEHE. Sebenernya udah lama banget kepengen beli lipstik tapi selalu bingung mau model lipstik kayak apaan, warna apa, merk apa. Tapiiii finally akhirnya aku tadi siang beli lipstik satu ini. THIS IS MY VERY FIRST LIPSTICK, and I Love It! Seriously I'm in love with this little one!

Berhubung ini lipstik pertama saya, mungkin agak heran ya kenapa harganya agak 'pricy'? Karena menurut review yang pernah saya baca, lipstik merk ini paling yahud walaupun produk lokal. Ihiyyy siapa yang enggak ngiler cobaaak?! So simple!

Packaging
Sukaak banget kemasannya. Terkesan elegan tapi tetep cantik! Nggak keliatan murahan juga, jadi okelah yaa untuk packaging merk satu ini, baik kardusnya maupun bentuk luaran lipstiknya hitam full hanya sedikit sentuhan nama dan penjelasan aja. Sip!

Color
Yaaa untuk lipstik pertama, saya cari yang berwarna aman. Mungkin bisa dibilang ini kelompok nude kali ya? Sebenarnya Make Over punya 12 atau 13 seri warna lipstik ultra shine ini dan saya pilih warna nomor 8, Mocca Toffee! Warnanya cantik dan menurutku paling pas sesuai dengan warna bibirku asli dan kulit wajah, agar pas dipakai enggak terkesan nabrak warna. Warnanya pink ke peach ini bikin keliatan lebih fresh di wajahku sih :P So I LOVE THE COLOR!

Texture
Teksturnya nggak begitu kesat sih pokoknya pas diulasin ke bibir masih nyaman-nyaman aja menurut saya nggak terlalu lengket atau creamy. Pas!

Coverage
Coverage-nya lumayan oke, lumayan buat nutupin warna bibir yang agak kehitaman juga.

Staying Power
Belum tahu sih staying powernya berapa lama, tapi kayaknya bisa sampai 3-5 jam deh tanpa makan, minum atau wudhu ya. Nah Kalo wudhu pun ngga begitu pudar warnanya, cakep!
 


Lipstik ini so handy! Pas banget digenggam, ngga terkesan gendut kalau dipegang, pokoknya okelah. Hihiw



Dibawah botol lipstiknya ada tulisan keterangan seri lipstik dan shade alias warna lipstiknya. Dan foto diatas ada hasil swatch di bibirku :3 HEHE agak pink ya? Warna aslinya lebih gelap lho tapi lucu cantik lah warnanya sukak banget!! Aku swatch 2 atau 3 kali ya? Hahaha lupa. Maklum baru pertama kali seriusan pake lipstik.

Bisa diliat di bibirku hasilnya matte semi glossy gitu. Glossy nya nggak begitu berlebihan tapi pas! Matte-nya pun pas lah komposisinya bikin bibir ngga kering dan ngga keliatan abis makan gorengan :P

Tapi kalo minum lewat sedotan nih ya, agak membekas warnanya di sedotan -_- huhu agak kecewa sih sebenernya tapi gapapa lah ya ada satu kekurangan dari sekian kelebihan, masih termaafkan. :P

Rate: 8/10

So, what's your favorite lipstick?
 

Kamis, 02 Juli 2015

[Cerpen] All You Had To Do Was Stay

"Kamu tahu apa yang membuatku bertahan bersamamu?" Ucapku lirih seraya menghapus air mata yang terjun bebas membasahi pipi.

Pria di ujung telepon itu hanya menghela napas dan sesekali berkata "maaf" yang tiada henti-hentinya.

"Yang membuatku bertahan adalah kamu. Rasa percayaku yang begitu besar padamu. Kalau sudah begini, apa yang akan kamu lakukan?"

"Aku," suaranya bergetar tak tentu. Aku bisa merasakan kegelisahan yang coba ia sembunyikan dariku. "Aku hanya bisa minta maaf."

Rasanya ingin berteriak sekeras-kerasnya dan menutup telepon. Namun aku tidak sanggup, aku masih terlalu menyayanginya, aku masih menyayangi Harry.

Aku tahu hatiku seketika hancur saat melihat history chat di ponselnya dengan wanita lain yang bernama Amy. Aku tahu mereka telah saling bermesraan via pesan singkat itu. Entahlah aku tidak tahu apakah sikapku ini berlebihan atau wajar. Namun dapat kupastikan bahwa saat itu juga mataku langsung meleleh.

"Aku ingin menemuimu besok, Harry. Aku tidak bisa berkata apa-apa saat ini, maaf." Ucapku lalu langsung kuputuskan sambungan telepon dengannya.

Aku hanya ingin sendiri dulu, menangis sepuasnya lalu meyakinkan diriku bahwa semua baik-baik saja. Aku hanya ingin sendiri dulu, menikmati sesak yang bergemuruh di dada lalu memastikan bahwa aku masih seorang wanita yang belum kehilangan kewarasannya.


***


Hari sudah mulai gelap dan sudah 30 menit aku duduk menatap ke keramaian jalanan dari kedai kopi kecil yang biasa kusambangi. Hari ini aku memesan cappucino dengan ekstra krim di atasnya, aku tahu ini agak aneh tapi Mr. Hanks tidak keberatan menambah ekstra krim di minumanku. Ia juga memberiku beberapa potongan cokelat putih di atas piring kecil gratis.

"Abby?"

Suara itu membangunkan lamunanku. Harry telah berdiri di dekat kursi yang bersebrangan denganku. Wajahnya terlihat cemas.

"Duduklah." Ucapku singkat. Kemudian mataku kembali ke arah para pejalan kaki yang sibuk di sebrang jalan.

Berulang kali aku berkata dalam hati untuk tidak menangis, setidaknya berkaca-kaca saat melihat wajah laki-laki berambut gondrong ikal yang gini duduk satu meja bersamanya.

Masih terasa keheningan diantara kami berdua. Aku tidak ingin memulainya duluan, jujur saja, aku tidak sanggup. Hingga akhirnya seorang pelayan mengantarkan kopi hitam ke mejaku dan menyodorkannya pada Harry dan kemudian berlalu.

"Abbs," ucapnya setelah menyesap kopinya sesaat. "Aku tidak tahu apa yang harus kulakukan selain meminta maaf padamu."

Ya Tuhan! Aku tidak sanggup mendengar ucapannya lagi. Baiklah kali ini dia pasti melihat mataku yang berkaca-kaca ini. Aku benci situasi seperti ini. Aku tidak ingin melihat wajahnya.

"Iya tapi kenapa?" Baiklah akhirnya aku menoleh padanya, mungkin bertepatan dengan satu butir air mataku terjatuh dengan cepatnya. "Tapi kenapa?"

Harry hanya terdiam melihatku yang mulai emosional ini. Ia hanya tertunduk lesu.

"Entahlah.. Namun sungguh aku tidak bermaksud untuk meninggalkanmu. Dia hanyalah temanku, dia dan aku biasa bercanda seperti itu. Sungguh." Jelasnya dengan cepat.

Otakku masih mencerna kata demi kata yang ia keluarkan. Dan hatiku masih bertanya apakah ia berkata jujur atau sebaliknya?

"Aku mencintaimu, Harry. Aku sulit untuk mempercayai orang yang telah mengkhianatiku seperti itu." Jelasku padanya lirih. Aku tidak tahu lagi harus berkata apa padanya. Aku mulai merasakan dadaku sakit sekali dan masih kucoba untuk menahan air mataku. Aku tidak ingin orang-orang memandang kami aneh, melihat gadis menangis tersedu-sedu bersama dengan seorang laki-laki berwajah cemas.

"Abbs, beri aku kesempatan sekali lagi. Aku berjanji padamu hal seperti itu tidak akan terulang kembali." Harry menggenggam kedua tanganku, merapatkannya pada kedua tangannya.

Ia menatapku cemas dengan penuh penngharapan. Tatapannya berusaha meyakinkanku untuk mempercayainya kembali, memberikannya kesempatan lagi untuk mendapatkan kepercayaanku.

"Aku juga masih mencintaimu, Abby." Tangannya semakin erat menggenggam tanganku.

Aku bisa merasakan genggamaannya yang kuat dan meyakinkan serta telapak tangannya yang berkeringat. Aku bisa merasakan kesungguhannya pada saat itu.

"Aku memaafkanmu, Harry."


***


Sudah sebulan semenjak kejadian yang memyakitkan itu terjadi, aku bisa kembali menyayangi Harry selayaknya kekasih. Sedikit demi sedikit ia dapatkan kembali kepercayaanku. Sedikit demi sedikit aku bisa menghilangkan rasa sesak yang waktu itu ia buat. Kami kembali menjadi pasangan yang bahagia.

Harry banyak berubah. Ia menunjukan keseriusannya untuk tidak mengulangi kesalahan yang sama seperti waktu itu. Ia menjadi laki-laki yang lebih baik lagi. Bahagia. Hanya perasaan bahagia yang ada di hatiku dan kebahagiaan menyelimuti kami berdua.

"Abbs!"

Suara seorang wanita dari kejauhan melambaikan tangan padaku. Wanita berambut lurus panjang berlari kecil menghampiriku.

"Abbs! Tidak keberatan kalau aku jalan bersamamu? Harry tidak menjemputmu ke kantor?" Cecar Lana.

Aku hanya tersenyum tipis. "Tidak, ia masih sibuk dengan bisnisnya."

Lana dan aku bersama berjalan menuju stasiun bawah tanah, flat kami memang satu gedung jadi Lana sering menemaniku sepulang ku bekerja.

"Bisnisnya semakin baik, huh? Beruntunglah kamu. Jika suatu saat kau menikah dengannya, kau tidak perlu bekerja lagi, Abbs. Penghasilan Harry cukup untuk membiayai hidup kalian berdua." Oceh Lana yang sudah kemana-mana.

"Masa?" Jawabku singkat sambil tertawa. "Radio adalah duniaku, Lana. Sudah sejak lama kutekuni hal itu, tentu saja aku tidak akan meninggalkannya begitu saja. Sama sepertimu yang begitu mencintai dunia modelling. Kau mengerti maksudku, kan?"

Lana tertawa. Ia memasukkan kedua telapak tangannya ke dalam saku coat berwarna merah yang ia kenakan. "Tentu saja aku mengerti. Aku pun tidak akan mudah meninggalkan apa yang telah menjadi passionku. Hanya sekedar saran, Abbs."


Menikah dengan Harry?

Ya, aku mencintainya. Hubungan kami pun sudah hampir satu tahun. Namun, apakah benar pria yang akan menikahiku adalah Harry? Aku hanya tertawa kecil membayangkan hal itu terjadi. Membayangkan saat Harry berdiri menungguku di altar utama mengenakan setelan jas yang rapih, tersenyum saat melihatku mulai memasuki altar dan melangkah menuju dirinya. My wedding dream. Entahlah. Pernikahan belum menjadi targetku saat ini.

Aku tahu pernikahanku kelak akan menjadi hari terindah, such a magical day, one of the most magical day in my life, dan siapapun itu yang menjadi pendampingku kelak, kuharap ia mampu setia dan mencintaiku. Hanya itu harapanku, harapan sederhanaku.



***


"I'm so sorry, Babe. Aku benar-benar sedang sibuk mengurus beberapa rekanan bisnisku, aku tidak bisa menemuimu malam ini." Terdengar suara Harry yang menyesal di ujung telepon sana.

"Baiklah, aku paham itu. Memangnya apa yang kamu kerjakan, sayang?"

Harry menghela napas, sesekali terdengar suara tidak jelas yang kuduga adalah suara kertas-kertas yang sedang ia lihat. "Aku akan membaca beberapa proposal yang mereka kirimkan padaku, sayang. Aku juga akan mengerjakan rancangan proyek di Manchester. Banyak sekali pekerjaanku."

Aku hanya tertawa kecil sambil memeluk bantal sofa. "Baiklah.. Aku akan makan sendiri di sini, padahal jika kita dinner di tempatku, akan kubuatkan makanan spesial buatmu, Harry."

Nada manja khas Harry terdengar dari ujung sana. "Maafkan aku, sayang. Aku juga akan makan malam sendiri di flatku. Kuharap dapat memakan masakanmu yang selalu membuatku rindu."

Setelah beberapa menit kemudian aku memutuskan untuk menutup telepon, dan ia pun berpamitan untuk mengerjakan proyek bisnisnya.



***


Setelah selesai di dapur, aku bergegas menuju kamar mandi. Di bawah shower aku bernyanyi seperti biasa. Suasana hatiku sedang amat baik. Aku telah selesai membuat pasta yang sausnya aku buat sendiri khusus untuk Harry. Ya, aku berencana untuk memberinya kejutan dengan datang langsung ke kediamannya dan memberikannya makan malam sekaligus memberi kejutan. Aku berharap ia senang.
Setelah selesai bersiap, kulangkahkan kakiku menuju stasiun bawah tanah dan menunggu kereta datang. Tangan kananku menggenggam totebag yang berisi dua kotak makananan. Sesekali mataku melihat jam tangan kecil yang menempel di pergelangan tanganku. Rasanya tidak sabar untuk bertemu dengannya, menemaninya bekerja dan makan malam bersama.

Membayangkan wajahnya akan menyiratkan kebahagiaan ketika aku datang dan memberinya kejutan. Kuharap belum terlalu malam untuk makan malam. Aku harap Harry belum makan malam. Ia akan tersenyum lalu kami akan makan bersama sambil tertawa. Aku sungguh tidak sabar.

"Abby?"

"Eh," kulihat seorang laki-laki berdiri disampingku, memandang dengan penuh tanda tanya yang melihatku sedari tadi senyum-senyum sendiri. "Max?"

"Boleh?" Max menunjuk ke arah bangku di sisiku yang masih kosong. Bergegas kupersilahkan ia duduk. "Sedang apa wanita sepertimu duduk sendiri disini, Abbs?"

Aku tersenyum. "Aku akan pergi menemui Harry. Aku ingin menemaninya yang sedang sibuk dengan proyeknya. Yaa agar dia tidak merasa sendirian."

Max hanya tersenyum kecil kemudian menatapku. "Kau yakin? Baiklah kebetulan kita searah. Akan kutemani kau, kadang aku suka tidak tega melihat wanita sendirian berpergian."

Selama menunggu kami berbincang banyak hal. Max Martin adalah teman SMAku yang terkenal karena sifat nerd nya. Dulu ia memakai kacamata tebal, kawat gigi yang membuatnya aneh dan selalu membawa kamera kemana-mana. Karena itulah ia tidak memiliki banyak teman. Namun kini ia berubah menjadi sosok tampan. Ia masih memakai kacamata namun tidak setebal dulu, rambutnya lebih rapih, kawat giginya sudah tidak terlihat disana, dan ia tidak lagi membawa kamera kemana-mana. Dan ia kini menjadi fotografer.

Setelah beberapa menunggu, kereta kami akhirnya datang juga.


***


"Aku duluan ya, Max." Ucapku pada Max saat didepan pintu flatnya, kemudian mengucapkan terima kasih telah menemaniku dijalan.

"Jangan sungkan, Abbs. Have a great night ya."

Setelah itu kakiku melangkah menaiki anak tangga menuju lantai di atasnya, lantai 3 dimana Harry tinggal.

Sesaat setelah berada di depan pintu flat Harry, aku mendengar suara bising dari dalamnya. Seperti suara musik EDM yang menggema kencang sekali. Sebenarnya ada apa ini?

"Tambahkan volumenya, Harry! Kita akan menikmati malam ini bersama-sama hingga matahari terbit!"

Terdengar suara asing seorang pria yang tidak kukenali. Mendadak hatiku menjadi tidak tenang. Hatiku berkata sebaiknya aku pergi dari sana. Hatiku berkata bahwa ada hal buruk terjadi di dalam. Hingga musik semakin kencang berbunyi. Aku nyaris kehilangan suara tertawa dari dalam sana. Ada apa ini? Apa yang sedang Harry lakukan?

Setelah kegelisahan menyelimutiku beberapa waktu, kubernikan diri untuk mengetuk pintu. Sekali.. tidak ada yang menjawab. Dua kali.. masih tidak ada jawaban.. Akhirnya kupukul keras pintu itu berkali-kali. Kali ini rasa penasaranku semakin menjadi-jadi. Emosiku membuat tanganku semakin kencang memukul daun pintu yang ada di hadapanku.


Hingga akhirnya..

Seorang pria berambut gondrong dan ikal membukakan pintu. Wajahnya memerah. Ia hanya mengenakan celana pendek dan bertelanjang dada. Ditangan kanannya ia menggenggam botol berwarna hijau tua yang ku duga adalah alkohol dan melingkarkan tangan itu pada leher seorang gadis pirang disampingnya yang hanya mengenakan lingerie sangat seksi. Wajah gadis tak kukenali. Wajah pria yang kukenali. Harry.


"GO AWAY, BITCH!" Teriak gadis berambut pirang itu padaku sambil mendorong kecil pundaku. Kemudian ia segera berlalu.

Aku hampir saja terjatuh, aku tidak bisa merasakan kakiku. Badanku langsung lemas seketika dan air mataku mendadak berjatuhan secara brutal. Akhirnya aku menangis sejadi-jadinya, melemparkan totebag yang kupegang ke arah pria itu dengan penuh amarah.

"Abbs?" Nadanya terdengar sangat terkejut. Dengan sempoyongan ia terus memanggilku, berusaha meraihku namun perlahan ku mundur dan bergegas pergi.


Tangan Harry dengan kuat menggenggam pergelangan tanganku, ia menahanku. Sekuat tenaga aku berusaha melepaskan genggamannya walaupun pergelangan tanganku sakit.

"Lepaskan aku!"



Harry melepaskan genggamannya yang disusul aku langsung pergi dari sana. Harry terus saja memanggil-manggil namaku, aku tidak peduli!

Oh Tuhan! Aku sungguh bodoh telah mempercayainya. Apa yang ada di depan mataku tadi adalah nyata! Semakin sesak dadaku mengingat apa yang tadi ia lakukan. Benar-benar diluar dugaanku. Aku sungguh membencinya. Amat membencinya.



***



Setelah kejadian itu, aku mengurung diri dalam flat. Aku mengunci rapat-rapat pintuku. Aku menangis tiga hari tiga malam. Tidak berkomunikasi dengan siapapun. Tidak pergi kemanapun. Tidak berbicara pada siapapun kecuali diriku sendiri.

Masih saja terasa sesak di dadaku memgingat apa yang pria yang ku cinta lakukan. Sakit sekali rasanya. Mungkin aku akan kehilangan kewarasanku. Entahlah.. Aku masih tidak bisa menahan perasaanku. Aku masih ingat bagaimana ia menyakitiku pertama kali. Aku masih ingat bagaimana keadaannya yang berantakan saat aku mengunjunginya. Membayangkan ia sedang asik bersama wanita lain. Membayangkan ia sedang berpesta dengan teman-temannya dan setengah lusin wanita. Mereka berpesta dan bercinta hingga pagi. Perih.


Seminggu sejak kejadian itu aku tidak keluar flat. Harry berkali-kali mencoba menemuiku namun tidak kugubris sama sekali. Tiap kali ia mengunjungiku, ia hanya meninggalkan buket-buket bunga di depan pintu. Setelahnya aku buang buket bunga itu ke tong sampah. Aku tidak peduli meski bunga itu indah.


***


Saat pertamakali kuinjakan kakiku di kantor, Emma, sahabatku yang kebetulan sekantor, langsung mencecarku dengan berbagai pertanyaan.

"Aku baik-baik saja, Em."

Hanya itu yang bisa kuberikan padanya.

Mrs. Harris pun selaku bosku langsung memanggilku ke ruangannya. Yang bisa kukatakan hanya minta maaf atas perbuatanku yang tidak bertanggungjawab tugas selama satu minggu.

Setelah selesai dengan Mrs. Harris, ponselku tiba-tiba saja berbunyi. Emma menangkapku dalam keadaan aneh, ia diam hanya mengamatiku.


Harry.
Pria itu meneleponku. Sesaat kumenghela napas. Mempersiapkan diri untuk menerima panggilannya. Seminggu telah berlalu dan aku kini sudah bisa mengobati luka itu walau sakitnya masih sering terasa.


"Halo?"

"Abbs! Ya Tuhan aku bersyukur bisaa menghubungimu."

"Lalu?"

"Maafkan aku. Aku bisa jelaskan semuanya, Abbs." Nadanya mulai merendah.

"Lupakanlah, Harry. Aku butuh waktu untuk sendiri, Harry. Saat ini aku tidak membutuhkanmu, paham?" Jawabku tegas. Aku tidak tahan atas apa yang ia lakukan. Sungguh walaupun sakit.

"Kau membuangku, Abbs?" Nadanya mulai meninggi. "Dengar, aku memang salah telah melakukan hal bodoh itu. Aku minta maaf. Aku ingin kita seperti dulu. Aku ingin kamu kembali, Abbs."


Gusar. Aku menghela napas panjang. "Sudahlah Harry, aku butuh waktu."


"Baiklah, selamat tinggal."


Pria itu langsung memutuskan sambungan telepon.

Sementara itu Emma hanya melihatku dari kejauhan. Aku berjalan ke arahnya kemudian memeluknya. Aku sedikit terisak. Aku yakin Emma mendengar apa yang kukatakan tadi di telepon, dan ia pasti tahu itu adalah Harry.



***



Dua bulan berlalu.

Harry tidak lagi menghubungiku. Aku pun tidak pernah memberinya kabar atau menghubunginya lagi. Dan kini aku sudah lebih baik. Hari demi hari kulalui sambil mengobati lukaku, amat perih namun kuharus. Luka yang tidak pernah aku lupa. Luka yang seharusnya tidak ada. Luka yang amat dalam. Luka ini telah membaik. Butuh waktu untuk benar-benar menyembuhkan luka ini. Walaupun luka ini telah berangsur membaik, aku masih belum bisa melupakan sosoknya dan kenangannya. Kadangkala sesak masih melanda namun tidak lagi semenakutkan dahulu. Aku bisa mengatasi itu semua.


Dan sekarang aku telah kembali menjadi Abigail yang dulu. Aku telah terbiasa kembali tertawa dan hang-out dengan teman-teman. Aku telah bahagia kembali meski tanpa cinta. Aku telah berhasil menata kembali kehidupanku. Dan yang terpentinng adalah.. aku bahagia.


***


"Abbs, kau ikut makan malam nanti dengan teman-teman lain kan?" Tanya Emma saat kami sedang siaran bersama. Kebetulan kami sedang memutar lagu-lagu.

"Ya tentu saja. Mrs. Harris yang traktir." Jawabku sambil tertawa.

Mrs. Harris mengadakan pesta makan malam di suatu restoran dekat kantor. Ia sedang beruntung karena baru beberapa hari yang lalu memenangkan lotre di sebuah bar di tengah kota.

Pesta itu hanya dihadiri oleh teman-teman kantor, tidak begitu banyak namun cukup meriah. Sepanjang malam kami bercanda dan tertawa, berkaroke bersama dan lain sebagainya. I have so much fun! Baru kali ini rasanya aku tertawa sebahagia ini. Mungkin aku sudah benar-benar lupa bagaimana rasanya luka yang Harry berikan. Aku sudah tidak memikirkannya sejak ia menghilang dan luka berangsur sembuh. Tidak, aku tidak membencinya. Aku hanya tidak ingin berkomunikasi dengannya lagi, terlampau menyakitkan jika aku harus berhubungan denganya lagi.
Setelah pesta selesai, aku segera berpamitan pada teman-teman lain dan melangkahkan kaki menuju stasiun kereta bawah tanah bersama Emma.

"Jadi," Emma memulai pembicaraan. "Kau sudah benar-benar melupakan Harry?"

"Sepertinya, iya. Aku tidak lagi memikirkannya. Aku tidak ingin lagi berhubungan dengannya."

"Jadi, kau membencinya?"

Aku tertawa kecil sembari merapatkan coat-ku. "Tidak. Aku hanya tidak ingin berhubungan dengannya lagi. Aku ingin menghilang darinya."

Setelah berbincang-bincang cukup lama, Emma menaiki kereta duluan. Tujuan kami berbeda, sementara keretaku belum juga datang.

Aku masih duduk di bangku stasiun. Menunggu keretaku datang. Kepalaku agak pusing sebenarnya. Mungkin karena aku meminum cukup banyak alkohol sewaktu di pesta, namun aku masig memiliki seluruh kesadaranku. Tangan kananku mulai memijit-mijit kepala. Perasaanku jadi tidak enak. Akhirnya kuputuskan untuk mengambil botol minum dalam tasku kemudian meminumnya. Kini keadaanku mulai membaik. Sedikit demi sedikit sakit di kepalaku mulai membaik.


"Abbs?"
Suara pria yang tidak asing bagiku.



Aku menoleh dan melihat sosok pria berambut gondrong dan ikal. Harry.

"Harry?"

Pria itu duduk disebelahku tanpa disuruh. Ia memakai jaket cukup tebal dengan kaos polo di dalamnya, celana jeans, sneakers dan beanie hat berbahan rajut.

"Aku tadi berada di restoran tempat kau pesta dengan teman-temanmu. Dan aku ingin berbicara denganmu." Ucapnya tenang dan terdengar tulus. "Jadi, apa kabarmu?"

Datar. Aku tidak lagi menoleh ke arahnya. Aku menggerutu dalam hati, kesal mengapa pria ini muncul lagi. Mendadak aku bisa merasakan nyeri dihatiku.

"Baik." Jawabku singkat.

"Well," ia menghela napas. "Aku minta maaf atas kejadian waktu itu. Aku benar-benar telah menyakitimu, kan? Aku sungguh menyesal, Abbs."

"Lalu?"

"Kukira aku bisa melupakanmu, Abbs. Namun ternyata aku tidak bisa. Aku tidak bisa melupakanmu, Abbs. Aku sadar bahwa aku masih menyayangimu."

"Jadi," kini aku benar-benar di ujung kesabaran. Aku tidak ingin perbincangan ini semakin panjang. 
 "Apa maumu?"

"Aku ingin kita kembali bersama, Abbs. Aku ingin kamu kembali." Ucapnya sambil menggenggam tanganku.

Seketika kulepaskan genggamannya. Aku mulai tertawa kecil dan ia hanya terdiam sambil menanti jawabanku.

"Jadi, kau pikir mudah untuk memulai kembali semuanya dari nol? Seingatku, kau yang mengucapkan selamat tinggal duluan, ku pikir kita memang sudah tidak ada apa-apa lagi, Harry." Jawabku tegas.

"Tapi,"

"Aku tidak mengerti mengapa orang sepertimu dengan mudahnya membuang seseorang dan mengucapkan selamat tinggal kemudian memintanya untuk kembali." Aku tertawa. Kali ini sama sekali tidak ada perasaan ragu padaku untuk mengatakan semuanya. "Sorry to say, Harry, orang sepertiku akan pergi selamanya saat kau mengucapkan selamat tinggal."

Terakhir kulihat wajah pria itu terkejut. Aku tidak peduli. Kulihat keretaku telah datang, tanpa menunggu jawabannya aku bangkit dan berjalan meninggalkannya.

"Abby," Harry mengikutiku dari belakang kemudian ia menggenggam pergelangan tanganku.
Tepat didepan pintu kereta yang telah terbuka, kubalikan badan melihat ke arahnya.

"Well, aku rasa kita telah benar-benar selesai, Harry. You were all I wanted to, but not like this. Maaf."

Harry mematung di tempatnya sesaat ia telah melepaskan genggamannya. Aku berbalik meninggalkannya, masuk dalam kereta dan mencari tempat duduk.


Aku rasa memang sudah saatnya benar-benar mengucapkan selamat tinggal padanya..
Aku rasa memang sudah saatnya ia pergi dari kehidupanku, selamanya.



****


PS: don't copy this post without permission. Cantumkan sumbernya.
Inspired by Taylor Swift - All You Had To Do Was Stay


Rabu, 01 Juli 2015

[Cerpen] Cinta dan Rahasia

"Ne," suara laki-laki yang tidak asing lagi di telingaku; Rafa.

"Iya, Raf?" Hatiku mencelos saat menoleh ke arahnya. Wajahnya yang benar-benar meneduhkan itu mendadak membuat remuk hati secara bersamaan.

"Nggak bisa ya lo nolak scholarship itu? Vina sendirian deh kalo lo ga ada." Lelaki itu menyesap kopinya yang ia beli di kedai kopi. Ia menerawang jauh ke langit petang yang kian menggelap.

Aku hanya tertawa kecil. "Siapa yang bisa menolak kesempatan itu, Raf? Untuk berpikir menolaknya saja nggak kepikiran olehku."

"Ya tapi Vina gimana?"

Rafa terus saja meracau kemungkinan-kemungkinan Vina tidak memiliki teman lagi di kampus karena kehilanganku dan ia akan merindukanku.

"Denger deh, Raf," kali ini aku benar-benar menatap kedua bola matanya yang berwarna cokelat gelap. Bisa kulihat disana ada sisi kesedihan tersembunyi. "Vina bakal baik-baik aja, lo juga bisa kan jagain Vina. Titip dia ya, dia sahabat baik banget dari jaman kita masih SD. Aku baik-baik aja ko, kita bertiga nanti ketemu lagi. Janji deh."

Bisa kulihat wajahnya seketika berubah lesu saat ku selesaikan perkataanku sambil tersenyum. Ia mulai menunduk lalu terdiam. Entah apa yang ada di pikirannya namun aku tahu kalau ini sudah menjadi keputusanku untuk meninggalkan kehidupanku disini, meninggalkan sahabatku, Vina dan Rafa. Dan aku yakin mereka akan baik-baik saja, terlebih tanpaku.


***


Aku, Ine. Wanita biasa-biasa saja yang terjebak cinta segitiga dengan sahabatku sendiri. Vina sudah kuanggap sebagai saudaraku, ia sahabat terdekatku sejak lama sekali. Aku selalu menceritakan segala kehidupanku padanya, berbagi suka-duka. Rafa adalah sahabat aku dan Vina. Kami bertiga telah bersahabat sejak lama sekali. Dan diam-diam tanpa mereka berdua tahu, aku menyimpan perasaan lebih pada laki-laki itu sejak dua tahun lalu. Hingga akhirnya 4 bulan yang lalu Rafa menyatakan cinta pada Vina; ya, pada sahabatku sendiri. Saat itu aku ingat bagaimana hancurnya hatiku. Melihat mereka tertawa bersama sebagai sepasang kekasih. Melihat bagaimana laki-laki idamanku menggenggam tangan sahabatku lalu memeluknya erat sekali. Masa-masa pahit itu bisa kulewati dengan berat namun inilah aku sekarang memutuskan pergi dari kehidupan mereka, menyembuhkan luka hati yang teramat dalam dan membekas.


***



From: inefloria@gmail.com
To: raffarheza92@gmail.com



Dear Raffa
Apa kabar? Semoga lo baik-baik aja ya disana. Maaf baru ngabarin lo setelah 2 bulan gue di Boston. Kuliah di sini sibuk dan jadwalnya padet banget.
Gimana kabar Vina? Gue belum sempat ngasih kabar ke dia, sampaikan permintaan maaf gue ya. Oh ya hubungan lo sama dia, baik-baik aja kan? Gue selalu berdoa yang terbaik buat kalian berdua, semoga langgeng terus yaaa. ;)

Raf, sebenernya gue mau ngomongin sesuatu sebelum gue pergi waktu itu. Tapi gue masih ragu. Dan baru kali ini gue berani ngomong.
Raf, pernah gaksih lo jatuh cinta sama seseorang tapi seseorang itu gak akan pernah bisa lo milikin? Sebenernya gue lagi ngerasain itu, Raf. Gue... gue jatuh cinta sama lo. Iya, Raf, sama lo. Sejak kapan? Sejak lama. Yaaa pokoknya lo ga perlu tau lah ya, jauh sebelum lo deklarasiin hubungan lo sama Vina.
Maaf ya, Raf, gue udah lancang begini. Mungkin sekarang lo udah tau kenapa gue ambil scholarship ini, mungkin ini salah satu cara gue buat ngelupain perasaan gue ke lo. Maaf, Raf.
Gue tau gue salah banget udah jatuh cinta sama pacar sahabat sendiri. Mungkin Vina ga akan maafin gue kalo dia tahu hal ini, Raf. Tapi.. lo tau kan lo ga bisa milih buat jatuh cinta sama siapa? Jujur, ini menyakitkan banget buat gue tapi gue harus survive dan terima kenyataan. Gue bakal ngerahasian perasaan gue dari siapapun termasuk Vina, dan lo adalah orang pertama yang tau perasaan gue.
Maaf, Raf. Gue bakal coba ngelupain perasaan gue secepat mungkin. Gue berdoa buat kebaikan kalian. Serius. Jagain Vina, ya? Gue tau dia sayang banget sama lo, mungkin melebihi perasaan gue ke lo.
Gue yakin lo bakal baik-baik aja di sana. Salam buat Vina ya. Gue kangen banget. Next time kalo waktunya tepat, kita bertiga bisa Skype-an. Oke?

Thanks, Raf.
And sorry.



***



(Inspired by: Yura - Cinta dan Rahasia ft. Glenn Fredly)

Senin, 22 Juni 2015

Dear Future Husband

Assalamu'alaikum Wr. Wb.

Hai, apa kabar? Ini aku, calon istrimu kelak. Akan ku kenalkan diri terlebih dahulu agar kamu mengenalku lebih dalam..

Aku hanya wanita yang biasa-biasa saja. Tumbuh dewasa bersama Ibu yang bekerja serabutan tidak tentu, dan Ayah yang tidak pernah melihatku tumbuh dewasa menjadi gadis dewasa yang benar-benar berusaha tegar dalam menjalani hidup tanpanya.

Aku hanya wanita yang biasa-biasa saja. Aku terlalu manja untuk menjadi sosok yang benar-benar bijaksana.


Sebenarnya aku tidak tahu apakah aku bisa memasak dengan benar atau tidak. Namun sejak kecil hingga sekarang, aku selalu suka membantu Ibu memasak di dapur. Biasanya ia akan menginstruksikan padaku hal-hal yang harus kulakukan dalam mengolah bumbu dapur. Tentu saja dengan senang hati aku menurutinya. Kebiasaan membantu Ibu memasak sampai sekarang kadang membuatku bingung, "apakah aku bisa memasak?" Pasalnya sangat jarang aku memasak sendiri tanpa Ibu. Pernah beberapa kali memasak tanpanya, dan kini sudah lupa apa yang kumasak saat-saat itu.

Oleh karenanya, tolong maklumi jikalau kelak saat aku mendampingimu aku masih belum bisa fasih dalam memasak. Aku tahu kamu pasti senang masakan rumahan, ya, kan? Namun aku janji, aku akan selalu mengusahakan agar kamu tetap sehat dan tidak kekurangan gizi saat hidup bersamaku. Kupastikan kamu makan makanan masakanku, walau mungkin masakan yang sangat sederhana. Aku janji akan terus belajar masak masakan kesukaanmu, agar kamu selalu merindukan rumah; istana yang akan kita bangun bersama dengan penuh cinta dan kasih sayang.



Oh ya aku juga termasuk wanita yang rewel dalam masalah kebersihan. Entahlah semenjak ngekos, aku jadi mirip nenek-nenek yang rewel dan bawel kalo tempatnya dimasuki sembarang orang dan orang tersebut seenaknya. Sungguh! Aku juga tidak suka meja dengan penuh barang berantakan. Tidak apa penuh dengan barang namun tertata dengan rapih. Sudah cukup buatku bahagia dan tidak berubah menjadi nenek-nenek cerewet.

Aku harap kamu mau memaafkan sifat rewel dan bawel dari wanita satu ini. Namun aku janji akan selalu ku usahakan untuk tidak terlalu banyak mengomel tentang ini-itu.


Aku juga merupakan salah satu wanita yang mempunyai durasi mandi yang cukup lama. Entahlah, aku merasa biasa saja saat mandi, seperlunya. Namun entah kenapa waktu selalu menunjukan kurang-lebih 30 menit aku mandi. Aku harap kamu mempunyai kesabaran lebih untuk memaklumi wanita manja ini yang terkadang lambat.

Aku suka masakan apa saja. Aku suka minuman apa saja. Namun hal yang paling aku suka adalah air dingin. Serius. Mungkin sudah menjadi kebiasaan bahwa aku selalu minum dari air kulkas yang dingin. Sampai sekarang dan seterusnya mungkin aku akan selalu suka air dingin. Aku harap kelak kita memiliki tabungan lebih untuk membeli kulkas. Tentu saja untuk kebutuhan air minum dinginku dan tempat penyimpanan bahan makanan. Hehe. Tidak keberatan, kan? :)

Aku pun bukan tipe wanita yang betah berlama-lama bertengkar dengan pasangan. Sangat tidak nyaman! Oleh karenanya aku harap kamu mengerti pada saat kita sedang bertengkar, jangan lama-lama, ya? :')


Aku suka sekali binatang. Yah bisa dikatakan aku pecinta binatang (kecuali seranga dan binatang melata). Aku pernah punya burung, hamster, ayam, dan kucing. Namun dengan hamster, aku gagal. Aku tidak berbakat pelihara hamster. Hamster pertama berhasil kabur dari kandang, yang terakhir berhasil tewas gara-gara aku tidak memberikan makanan yang cocok. Aku suka ayam. Saat kecil dulu aku pelihara sepasang anak ayam yang kuberi nama Emak (betina) dan Gogo (jantan). Kemudian mereka memiliki banyak anak ayam, salahsatunya kesayanganku adalah Cece (betina). Lalu Cece punya anak dan kuberi nama Horas (jantan). Ah macam-macam nama ayam-ayamku. Aku pernah menangis dalam selimut saat mereka akan dijual oleh Ibu, tidak rela kehilangan peliharaan kesayangan. Aku juga pernah pelihara burung, entah namanya apa namun ia mirip burung merpati. Persis. Berwarna putih dan lucu. Kuberi nama Nunung. Aku  tidak tahu jenis kelaminnya apa. Aku selalu suka saat ia berbunyi sambil berputar dan mengangguk-anggukkan kepalanya. Lucu sekali!
Dan pada kucing, kupelihara sejak SMA.kucing pertama yang kupelihara bernama Ale. Sangat gagah berwarna oranye, campuran persia dan kampung. Aku membayangkan pasti gagah sekali Si Ale ini jadi seorang pria. Hehe. Setelah setahun lebih kupelihara, Ale hilang. Entah kemana. Rasanya sedih sekali kehilangan peliharaan kesayangan. :'( Lalu kucing kedua kupelihara dari kecil, aku lupa siapa namanya numun ia masih satu turunan dengan si Ale. Aku kehilangannya karena ia sakit dan akhirnya mati padahal ia masih kecil. :'( dan sekarang yang sedang kupelihara adalah kucing angora bernama Cilo. Aku biasa memanggilnya Cioy. Ah lucu sekali dia. Kamu harus melihat wajahnya yang sangat menggemaskan. Kurawat ia sejak 3 bulan sampai sekarang. :") kuharap kamu tidak keberatan dengan hewan-hewan yang kusuka, terutama kucing.



Masih banyak yang harus kamu tahu tentangku. Nanti kamu akan tahu dengan sendirinya seiring berjalannya waktu.

Aku harap kita dapat membangun keluarga yang sakinnah, mawadah, dan warohmah. Keluarga yang bahagia dengan anak-anak yang sholeh dan juga sholehah. Doakan aku menjadi istri yang mampu taat padamu, seorang umat yang taat pada agamaku, dan seorang anak yang taat pada kedua orangtuaku.

Bimbing aku menjadi wanita lebih baik. Bimbing aku menjadi makmum-mu yang mampu mendampingimu dunia dan akhirat. Bimbing aku menjadi wanita yang dapat menjadi contoh bagi anak perempuan kita kelak.



Kamu..
Jadilah imam yang dapat menuntunku ke surga, menuntunku menjadi wanita sholehah, dan menuntunku ke arah yang lebih baik.
Jadilah lelaki yang bertanggung jawab dan kuat. Bertanggung jawab pada orang tua dan keluargamu, padaku, pada anak-anak kita kelak. Ajarkan pada anak-anak kita kelak bahwa kehidupan ini keras namun dengan Tuhan bersama kita, semua akan terasa mudah dan kita akan dikuatkan olehNya.
Jadilah panutan yang baik untuk keluarga, aku, dan anak-anak kita kak. Contohkanlah kami hal yang baik.
Jadilah lelaki yang penuh sabar dan pengertian untuk wanita yang agak manja ini..
Jadilah pengingat saat aku berbelok ke arah yang salah.
Jadilah imamku dunia dan akhirat.


Jadilah suamiku dan jadikanlah aku istrimu satu-satunya.
Jadikanlah kelak pernikahan kita adalah pernikahan pertama sekaligus pernikahan terakhir bagi kita.

Hidup dan menualah bersamaku, bersama keluarga kecil kita kelak. Hidup sampai tua denganmu adalah impian terbesarku.
Dari aku yang menyayangimu juga keluarga kita kelak dengan penuh cinta.