Pages

Kamis, 02 Juli 2015

[Cerpen] All You Had To Do Was Stay

"Kamu tahu apa yang membuatku bertahan bersamamu?" Ucapku lirih seraya menghapus air mata yang terjun bebas membasahi pipi.

Pria di ujung telepon itu hanya menghela napas dan sesekali berkata "maaf" yang tiada henti-hentinya.

"Yang membuatku bertahan adalah kamu. Rasa percayaku yang begitu besar padamu. Kalau sudah begini, apa yang akan kamu lakukan?"

"Aku," suaranya bergetar tak tentu. Aku bisa merasakan kegelisahan yang coba ia sembunyikan dariku. "Aku hanya bisa minta maaf."

Rasanya ingin berteriak sekeras-kerasnya dan menutup telepon. Namun aku tidak sanggup, aku masih terlalu menyayanginya, aku masih menyayangi Harry.

Aku tahu hatiku seketika hancur saat melihat history chat di ponselnya dengan wanita lain yang bernama Amy. Aku tahu mereka telah saling bermesraan via pesan singkat itu. Entahlah aku tidak tahu apakah sikapku ini berlebihan atau wajar. Namun dapat kupastikan bahwa saat itu juga mataku langsung meleleh.

"Aku ingin menemuimu besok, Harry. Aku tidak bisa berkata apa-apa saat ini, maaf." Ucapku lalu langsung kuputuskan sambungan telepon dengannya.

Aku hanya ingin sendiri dulu, menangis sepuasnya lalu meyakinkan diriku bahwa semua baik-baik saja. Aku hanya ingin sendiri dulu, menikmati sesak yang bergemuruh di dada lalu memastikan bahwa aku masih seorang wanita yang belum kehilangan kewarasannya.


***


Hari sudah mulai gelap dan sudah 30 menit aku duduk menatap ke keramaian jalanan dari kedai kopi kecil yang biasa kusambangi. Hari ini aku memesan cappucino dengan ekstra krim di atasnya, aku tahu ini agak aneh tapi Mr. Hanks tidak keberatan menambah ekstra krim di minumanku. Ia juga memberiku beberapa potongan cokelat putih di atas piring kecil gratis.

"Abby?"

Suara itu membangunkan lamunanku. Harry telah berdiri di dekat kursi yang bersebrangan denganku. Wajahnya terlihat cemas.

"Duduklah." Ucapku singkat. Kemudian mataku kembali ke arah para pejalan kaki yang sibuk di sebrang jalan.

Berulang kali aku berkata dalam hati untuk tidak menangis, setidaknya berkaca-kaca saat melihat wajah laki-laki berambut gondrong ikal yang gini duduk satu meja bersamanya.

Masih terasa keheningan diantara kami berdua. Aku tidak ingin memulainya duluan, jujur saja, aku tidak sanggup. Hingga akhirnya seorang pelayan mengantarkan kopi hitam ke mejaku dan menyodorkannya pada Harry dan kemudian berlalu.

"Abbs," ucapnya setelah menyesap kopinya sesaat. "Aku tidak tahu apa yang harus kulakukan selain meminta maaf padamu."

Ya Tuhan! Aku tidak sanggup mendengar ucapannya lagi. Baiklah kali ini dia pasti melihat mataku yang berkaca-kaca ini. Aku benci situasi seperti ini. Aku tidak ingin melihat wajahnya.

"Iya tapi kenapa?" Baiklah akhirnya aku menoleh padanya, mungkin bertepatan dengan satu butir air mataku terjatuh dengan cepatnya. "Tapi kenapa?"

Harry hanya terdiam melihatku yang mulai emosional ini. Ia hanya tertunduk lesu.

"Entahlah.. Namun sungguh aku tidak bermaksud untuk meninggalkanmu. Dia hanyalah temanku, dia dan aku biasa bercanda seperti itu. Sungguh." Jelasnya dengan cepat.

Otakku masih mencerna kata demi kata yang ia keluarkan. Dan hatiku masih bertanya apakah ia berkata jujur atau sebaliknya?

"Aku mencintaimu, Harry. Aku sulit untuk mempercayai orang yang telah mengkhianatiku seperti itu." Jelasku padanya lirih. Aku tidak tahu lagi harus berkata apa padanya. Aku mulai merasakan dadaku sakit sekali dan masih kucoba untuk menahan air mataku. Aku tidak ingin orang-orang memandang kami aneh, melihat gadis menangis tersedu-sedu bersama dengan seorang laki-laki berwajah cemas.

"Abbs, beri aku kesempatan sekali lagi. Aku berjanji padamu hal seperti itu tidak akan terulang kembali." Harry menggenggam kedua tanganku, merapatkannya pada kedua tangannya.

Ia menatapku cemas dengan penuh penngharapan. Tatapannya berusaha meyakinkanku untuk mempercayainya kembali, memberikannya kesempatan lagi untuk mendapatkan kepercayaanku.

"Aku juga masih mencintaimu, Abby." Tangannya semakin erat menggenggam tanganku.

Aku bisa merasakan genggamaannya yang kuat dan meyakinkan serta telapak tangannya yang berkeringat. Aku bisa merasakan kesungguhannya pada saat itu.

"Aku memaafkanmu, Harry."


***


Sudah sebulan semenjak kejadian yang memyakitkan itu terjadi, aku bisa kembali menyayangi Harry selayaknya kekasih. Sedikit demi sedikit ia dapatkan kembali kepercayaanku. Sedikit demi sedikit aku bisa menghilangkan rasa sesak yang waktu itu ia buat. Kami kembali menjadi pasangan yang bahagia.

Harry banyak berubah. Ia menunjukan keseriusannya untuk tidak mengulangi kesalahan yang sama seperti waktu itu. Ia menjadi laki-laki yang lebih baik lagi. Bahagia. Hanya perasaan bahagia yang ada di hatiku dan kebahagiaan menyelimuti kami berdua.

"Abbs!"

Suara seorang wanita dari kejauhan melambaikan tangan padaku. Wanita berambut lurus panjang berlari kecil menghampiriku.

"Abbs! Tidak keberatan kalau aku jalan bersamamu? Harry tidak menjemputmu ke kantor?" Cecar Lana.

Aku hanya tersenyum tipis. "Tidak, ia masih sibuk dengan bisnisnya."

Lana dan aku bersama berjalan menuju stasiun bawah tanah, flat kami memang satu gedung jadi Lana sering menemaniku sepulang ku bekerja.

"Bisnisnya semakin baik, huh? Beruntunglah kamu. Jika suatu saat kau menikah dengannya, kau tidak perlu bekerja lagi, Abbs. Penghasilan Harry cukup untuk membiayai hidup kalian berdua." Oceh Lana yang sudah kemana-mana.

"Masa?" Jawabku singkat sambil tertawa. "Radio adalah duniaku, Lana. Sudah sejak lama kutekuni hal itu, tentu saja aku tidak akan meninggalkannya begitu saja. Sama sepertimu yang begitu mencintai dunia modelling. Kau mengerti maksudku, kan?"

Lana tertawa. Ia memasukkan kedua telapak tangannya ke dalam saku coat berwarna merah yang ia kenakan. "Tentu saja aku mengerti. Aku pun tidak akan mudah meninggalkan apa yang telah menjadi passionku. Hanya sekedar saran, Abbs."


Menikah dengan Harry?

Ya, aku mencintainya. Hubungan kami pun sudah hampir satu tahun. Namun, apakah benar pria yang akan menikahiku adalah Harry? Aku hanya tertawa kecil membayangkan hal itu terjadi. Membayangkan saat Harry berdiri menungguku di altar utama mengenakan setelan jas yang rapih, tersenyum saat melihatku mulai memasuki altar dan melangkah menuju dirinya. My wedding dream. Entahlah. Pernikahan belum menjadi targetku saat ini.

Aku tahu pernikahanku kelak akan menjadi hari terindah, such a magical day, one of the most magical day in my life, dan siapapun itu yang menjadi pendampingku kelak, kuharap ia mampu setia dan mencintaiku. Hanya itu harapanku, harapan sederhanaku.



***


"I'm so sorry, Babe. Aku benar-benar sedang sibuk mengurus beberapa rekanan bisnisku, aku tidak bisa menemuimu malam ini." Terdengar suara Harry yang menyesal di ujung telepon sana.

"Baiklah, aku paham itu. Memangnya apa yang kamu kerjakan, sayang?"

Harry menghela napas, sesekali terdengar suara tidak jelas yang kuduga adalah suara kertas-kertas yang sedang ia lihat. "Aku akan membaca beberapa proposal yang mereka kirimkan padaku, sayang. Aku juga akan mengerjakan rancangan proyek di Manchester. Banyak sekali pekerjaanku."

Aku hanya tertawa kecil sambil memeluk bantal sofa. "Baiklah.. Aku akan makan sendiri di sini, padahal jika kita dinner di tempatku, akan kubuatkan makanan spesial buatmu, Harry."

Nada manja khas Harry terdengar dari ujung sana. "Maafkan aku, sayang. Aku juga akan makan malam sendiri di flatku. Kuharap dapat memakan masakanmu yang selalu membuatku rindu."

Setelah beberapa menit kemudian aku memutuskan untuk menutup telepon, dan ia pun berpamitan untuk mengerjakan proyek bisnisnya.



***


Setelah selesai di dapur, aku bergegas menuju kamar mandi. Di bawah shower aku bernyanyi seperti biasa. Suasana hatiku sedang amat baik. Aku telah selesai membuat pasta yang sausnya aku buat sendiri khusus untuk Harry. Ya, aku berencana untuk memberinya kejutan dengan datang langsung ke kediamannya dan memberikannya makan malam sekaligus memberi kejutan. Aku berharap ia senang.
Setelah selesai bersiap, kulangkahkan kakiku menuju stasiun bawah tanah dan menunggu kereta datang. Tangan kananku menggenggam totebag yang berisi dua kotak makananan. Sesekali mataku melihat jam tangan kecil yang menempel di pergelangan tanganku. Rasanya tidak sabar untuk bertemu dengannya, menemaninya bekerja dan makan malam bersama.

Membayangkan wajahnya akan menyiratkan kebahagiaan ketika aku datang dan memberinya kejutan. Kuharap belum terlalu malam untuk makan malam. Aku harap Harry belum makan malam. Ia akan tersenyum lalu kami akan makan bersama sambil tertawa. Aku sungguh tidak sabar.

"Abby?"

"Eh," kulihat seorang laki-laki berdiri disampingku, memandang dengan penuh tanda tanya yang melihatku sedari tadi senyum-senyum sendiri. "Max?"

"Boleh?" Max menunjuk ke arah bangku di sisiku yang masih kosong. Bergegas kupersilahkan ia duduk. "Sedang apa wanita sepertimu duduk sendiri disini, Abbs?"

Aku tersenyum. "Aku akan pergi menemui Harry. Aku ingin menemaninya yang sedang sibuk dengan proyeknya. Yaa agar dia tidak merasa sendirian."

Max hanya tersenyum kecil kemudian menatapku. "Kau yakin? Baiklah kebetulan kita searah. Akan kutemani kau, kadang aku suka tidak tega melihat wanita sendirian berpergian."

Selama menunggu kami berbincang banyak hal. Max Martin adalah teman SMAku yang terkenal karena sifat nerd nya. Dulu ia memakai kacamata tebal, kawat gigi yang membuatnya aneh dan selalu membawa kamera kemana-mana. Karena itulah ia tidak memiliki banyak teman. Namun kini ia berubah menjadi sosok tampan. Ia masih memakai kacamata namun tidak setebal dulu, rambutnya lebih rapih, kawat giginya sudah tidak terlihat disana, dan ia tidak lagi membawa kamera kemana-mana. Dan ia kini menjadi fotografer.

Setelah beberapa menunggu, kereta kami akhirnya datang juga.


***


"Aku duluan ya, Max." Ucapku pada Max saat didepan pintu flatnya, kemudian mengucapkan terima kasih telah menemaniku dijalan.

"Jangan sungkan, Abbs. Have a great night ya."

Setelah itu kakiku melangkah menaiki anak tangga menuju lantai di atasnya, lantai 3 dimana Harry tinggal.

Sesaat setelah berada di depan pintu flat Harry, aku mendengar suara bising dari dalamnya. Seperti suara musik EDM yang menggema kencang sekali. Sebenarnya ada apa ini?

"Tambahkan volumenya, Harry! Kita akan menikmati malam ini bersama-sama hingga matahari terbit!"

Terdengar suara asing seorang pria yang tidak kukenali. Mendadak hatiku menjadi tidak tenang. Hatiku berkata sebaiknya aku pergi dari sana. Hatiku berkata bahwa ada hal buruk terjadi di dalam. Hingga musik semakin kencang berbunyi. Aku nyaris kehilangan suara tertawa dari dalam sana. Ada apa ini? Apa yang sedang Harry lakukan?

Setelah kegelisahan menyelimutiku beberapa waktu, kubernikan diri untuk mengetuk pintu. Sekali.. tidak ada yang menjawab. Dua kali.. masih tidak ada jawaban.. Akhirnya kupukul keras pintu itu berkali-kali. Kali ini rasa penasaranku semakin menjadi-jadi. Emosiku membuat tanganku semakin kencang memukul daun pintu yang ada di hadapanku.


Hingga akhirnya..

Seorang pria berambut gondrong dan ikal membukakan pintu. Wajahnya memerah. Ia hanya mengenakan celana pendek dan bertelanjang dada. Ditangan kanannya ia menggenggam botol berwarna hijau tua yang ku duga adalah alkohol dan melingkarkan tangan itu pada leher seorang gadis pirang disampingnya yang hanya mengenakan lingerie sangat seksi. Wajah gadis tak kukenali. Wajah pria yang kukenali. Harry.


"GO AWAY, BITCH!" Teriak gadis berambut pirang itu padaku sambil mendorong kecil pundaku. Kemudian ia segera berlalu.

Aku hampir saja terjatuh, aku tidak bisa merasakan kakiku. Badanku langsung lemas seketika dan air mataku mendadak berjatuhan secara brutal. Akhirnya aku menangis sejadi-jadinya, melemparkan totebag yang kupegang ke arah pria itu dengan penuh amarah.

"Abbs?" Nadanya terdengar sangat terkejut. Dengan sempoyongan ia terus memanggilku, berusaha meraihku namun perlahan ku mundur dan bergegas pergi.


Tangan Harry dengan kuat menggenggam pergelangan tanganku, ia menahanku. Sekuat tenaga aku berusaha melepaskan genggamannya walaupun pergelangan tanganku sakit.

"Lepaskan aku!"



Harry melepaskan genggamannya yang disusul aku langsung pergi dari sana. Harry terus saja memanggil-manggil namaku, aku tidak peduli!

Oh Tuhan! Aku sungguh bodoh telah mempercayainya. Apa yang ada di depan mataku tadi adalah nyata! Semakin sesak dadaku mengingat apa yang tadi ia lakukan. Benar-benar diluar dugaanku. Aku sungguh membencinya. Amat membencinya.



***



Setelah kejadian itu, aku mengurung diri dalam flat. Aku mengunci rapat-rapat pintuku. Aku menangis tiga hari tiga malam. Tidak berkomunikasi dengan siapapun. Tidak pergi kemanapun. Tidak berbicara pada siapapun kecuali diriku sendiri.

Masih saja terasa sesak di dadaku memgingat apa yang pria yang ku cinta lakukan. Sakit sekali rasanya. Mungkin aku akan kehilangan kewarasanku. Entahlah.. Aku masih tidak bisa menahan perasaanku. Aku masih ingat bagaimana ia menyakitiku pertama kali. Aku masih ingat bagaimana keadaannya yang berantakan saat aku mengunjunginya. Membayangkan ia sedang asik bersama wanita lain. Membayangkan ia sedang berpesta dengan teman-temannya dan setengah lusin wanita. Mereka berpesta dan bercinta hingga pagi. Perih.


Seminggu sejak kejadian itu aku tidak keluar flat. Harry berkali-kali mencoba menemuiku namun tidak kugubris sama sekali. Tiap kali ia mengunjungiku, ia hanya meninggalkan buket-buket bunga di depan pintu. Setelahnya aku buang buket bunga itu ke tong sampah. Aku tidak peduli meski bunga itu indah.


***


Saat pertamakali kuinjakan kakiku di kantor, Emma, sahabatku yang kebetulan sekantor, langsung mencecarku dengan berbagai pertanyaan.

"Aku baik-baik saja, Em."

Hanya itu yang bisa kuberikan padanya.

Mrs. Harris pun selaku bosku langsung memanggilku ke ruangannya. Yang bisa kukatakan hanya minta maaf atas perbuatanku yang tidak bertanggungjawab tugas selama satu minggu.

Setelah selesai dengan Mrs. Harris, ponselku tiba-tiba saja berbunyi. Emma menangkapku dalam keadaan aneh, ia diam hanya mengamatiku.


Harry.
Pria itu meneleponku. Sesaat kumenghela napas. Mempersiapkan diri untuk menerima panggilannya. Seminggu telah berlalu dan aku kini sudah bisa mengobati luka itu walau sakitnya masih sering terasa.


"Halo?"

"Abbs! Ya Tuhan aku bersyukur bisaa menghubungimu."

"Lalu?"

"Maafkan aku. Aku bisa jelaskan semuanya, Abbs." Nadanya mulai merendah.

"Lupakanlah, Harry. Aku butuh waktu untuk sendiri, Harry. Saat ini aku tidak membutuhkanmu, paham?" Jawabku tegas. Aku tidak tahan atas apa yang ia lakukan. Sungguh walaupun sakit.

"Kau membuangku, Abbs?" Nadanya mulai meninggi. "Dengar, aku memang salah telah melakukan hal bodoh itu. Aku minta maaf. Aku ingin kita seperti dulu. Aku ingin kamu kembali, Abbs."


Gusar. Aku menghela napas panjang. "Sudahlah Harry, aku butuh waktu."


"Baiklah, selamat tinggal."


Pria itu langsung memutuskan sambungan telepon.

Sementara itu Emma hanya melihatku dari kejauhan. Aku berjalan ke arahnya kemudian memeluknya. Aku sedikit terisak. Aku yakin Emma mendengar apa yang kukatakan tadi di telepon, dan ia pasti tahu itu adalah Harry.



***



Dua bulan berlalu.

Harry tidak lagi menghubungiku. Aku pun tidak pernah memberinya kabar atau menghubunginya lagi. Dan kini aku sudah lebih baik. Hari demi hari kulalui sambil mengobati lukaku, amat perih namun kuharus. Luka yang tidak pernah aku lupa. Luka yang seharusnya tidak ada. Luka yang amat dalam. Luka ini telah membaik. Butuh waktu untuk benar-benar menyembuhkan luka ini. Walaupun luka ini telah berangsur membaik, aku masih belum bisa melupakan sosoknya dan kenangannya. Kadangkala sesak masih melanda namun tidak lagi semenakutkan dahulu. Aku bisa mengatasi itu semua.


Dan sekarang aku telah kembali menjadi Abigail yang dulu. Aku telah terbiasa kembali tertawa dan hang-out dengan teman-teman. Aku telah bahagia kembali meski tanpa cinta. Aku telah berhasil menata kembali kehidupanku. Dan yang terpentinng adalah.. aku bahagia.


***


"Abbs, kau ikut makan malam nanti dengan teman-teman lain kan?" Tanya Emma saat kami sedang siaran bersama. Kebetulan kami sedang memutar lagu-lagu.

"Ya tentu saja. Mrs. Harris yang traktir." Jawabku sambil tertawa.

Mrs. Harris mengadakan pesta makan malam di suatu restoran dekat kantor. Ia sedang beruntung karena baru beberapa hari yang lalu memenangkan lotre di sebuah bar di tengah kota.

Pesta itu hanya dihadiri oleh teman-teman kantor, tidak begitu banyak namun cukup meriah. Sepanjang malam kami bercanda dan tertawa, berkaroke bersama dan lain sebagainya. I have so much fun! Baru kali ini rasanya aku tertawa sebahagia ini. Mungkin aku sudah benar-benar lupa bagaimana rasanya luka yang Harry berikan. Aku sudah tidak memikirkannya sejak ia menghilang dan luka berangsur sembuh. Tidak, aku tidak membencinya. Aku hanya tidak ingin berkomunikasi dengannya lagi, terlampau menyakitkan jika aku harus berhubungan denganya lagi.
Setelah pesta selesai, aku segera berpamitan pada teman-teman lain dan melangkahkan kaki menuju stasiun kereta bawah tanah bersama Emma.

"Jadi," Emma memulai pembicaraan. "Kau sudah benar-benar melupakan Harry?"

"Sepertinya, iya. Aku tidak lagi memikirkannya. Aku tidak ingin lagi berhubungan dengannya."

"Jadi, kau membencinya?"

Aku tertawa kecil sembari merapatkan coat-ku. "Tidak. Aku hanya tidak ingin berhubungan dengannya lagi. Aku ingin menghilang darinya."

Setelah berbincang-bincang cukup lama, Emma menaiki kereta duluan. Tujuan kami berbeda, sementara keretaku belum juga datang.

Aku masih duduk di bangku stasiun. Menunggu keretaku datang. Kepalaku agak pusing sebenarnya. Mungkin karena aku meminum cukup banyak alkohol sewaktu di pesta, namun aku masig memiliki seluruh kesadaranku. Tangan kananku mulai memijit-mijit kepala. Perasaanku jadi tidak enak. Akhirnya kuputuskan untuk mengambil botol minum dalam tasku kemudian meminumnya. Kini keadaanku mulai membaik. Sedikit demi sedikit sakit di kepalaku mulai membaik.


"Abbs?"
Suara pria yang tidak asing bagiku.



Aku menoleh dan melihat sosok pria berambut gondrong dan ikal. Harry.

"Harry?"

Pria itu duduk disebelahku tanpa disuruh. Ia memakai jaket cukup tebal dengan kaos polo di dalamnya, celana jeans, sneakers dan beanie hat berbahan rajut.

"Aku tadi berada di restoran tempat kau pesta dengan teman-temanmu. Dan aku ingin berbicara denganmu." Ucapnya tenang dan terdengar tulus. "Jadi, apa kabarmu?"

Datar. Aku tidak lagi menoleh ke arahnya. Aku menggerutu dalam hati, kesal mengapa pria ini muncul lagi. Mendadak aku bisa merasakan nyeri dihatiku.

"Baik." Jawabku singkat.

"Well," ia menghela napas. "Aku minta maaf atas kejadian waktu itu. Aku benar-benar telah menyakitimu, kan? Aku sungguh menyesal, Abbs."

"Lalu?"

"Kukira aku bisa melupakanmu, Abbs. Namun ternyata aku tidak bisa. Aku tidak bisa melupakanmu, Abbs. Aku sadar bahwa aku masih menyayangimu."

"Jadi," kini aku benar-benar di ujung kesabaran. Aku tidak ingin perbincangan ini semakin panjang. 
 "Apa maumu?"

"Aku ingin kita kembali bersama, Abbs. Aku ingin kamu kembali." Ucapnya sambil menggenggam tanganku.

Seketika kulepaskan genggamannya. Aku mulai tertawa kecil dan ia hanya terdiam sambil menanti jawabanku.

"Jadi, kau pikir mudah untuk memulai kembali semuanya dari nol? Seingatku, kau yang mengucapkan selamat tinggal duluan, ku pikir kita memang sudah tidak ada apa-apa lagi, Harry." Jawabku tegas.

"Tapi,"

"Aku tidak mengerti mengapa orang sepertimu dengan mudahnya membuang seseorang dan mengucapkan selamat tinggal kemudian memintanya untuk kembali." Aku tertawa. Kali ini sama sekali tidak ada perasaan ragu padaku untuk mengatakan semuanya. "Sorry to say, Harry, orang sepertiku akan pergi selamanya saat kau mengucapkan selamat tinggal."

Terakhir kulihat wajah pria itu terkejut. Aku tidak peduli. Kulihat keretaku telah datang, tanpa menunggu jawabannya aku bangkit dan berjalan meninggalkannya.

"Abby," Harry mengikutiku dari belakang kemudian ia menggenggam pergelangan tanganku.
Tepat didepan pintu kereta yang telah terbuka, kubalikan badan melihat ke arahnya.

"Well, aku rasa kita telah benar-benar selesai, Harry. You were all I wanted to, but not like this. Maaf."

Harry mematung di tempatnya sesaat ia telah melepaskan genggamannya. Aku berbalik meninggalkannya, masuk dalam kereta dan mencari tempat duduk.


Aku rasa memang sudah saatnya benar-benar mengucapkan selamat tinggal padanya..
Aku rasa memang sudah saatnya ia pergi dari kehidupanku, selamanya.



****


PS: don't copy this post without permission. Cantumkan sumbernya.
Inspired by Taylor Swift - All You Had To Do Was Stay


Rabu, 01 Juli 2015

[Cerpen] Cinta dan Rahasia

"Ne," suara laki-laki yang tidak asing lagi di telingaku; Rafa.

"Iya, Raf?" Hatiku mencelos saat menoleh ke arahnya. Wajahnya yang benar-benar meneduhkan itu mendadak membuat remuk hati secara bersamaan.

"Nggak bisa ya lo nolak scholarship itu? Vina sendirian deh kalo lo ga ada." Lelaki itu menyesap kopinya yang ia beli di kedai kopi. Ia menerawang jauh ke langit petang yang kian menggelap.

Aku hanya tertawa kecil. "Siapa yang bisa menolak kesempatan itu, Raf? Untuk berpikir menolaknya saja nggak kepikiran olehku."

"Ya tapi Vina gimana?"

Rafa terus saja meracau kemungkinan-kemungkinan Vina tidak memiliki teman lagi di kampus karena kehilanganku dan ia akan merindukanku.

"Denger deh, Raf," kali ini aku benar-benar menatap kedua bola matanya yang berwarna cokelat gelap. Bisa kulihat disana ada sisi kesedihan tersembunyi. "Vina bakal baik-baik aja, lo juga bisa kan jagain Vina. Titip dia ya, dia sahabat baik banget dari jaman kita masih SD. Aku baik-baik aja ko, kita bertiga nanti ketemu lagi. Janji deh."

Bisa kulihat wajahnya seketika berubah lesu saat ku selesaikan perkataanku sambil tersenyum. Ia mulai menunduk lalu terdiam. Entah apa yang ada di pikirannya namun aku tahu kalau ini sudah menjadi keputusanku untuk meninggalkan kehidupanku disini, meninggalkan sahabatku, Vina dan Rafa. Dan aku yakin mereka akan baik-baik saja, terlebih tanpaku.


***


Aku, Ine. Wanita biasa-biasa saja yang terjebak cinta segitiga dengan sahabatku sendiri. Vina sudah kuanggap sebagai saudaraku, ia sahabat terdekatku sejak lama sekali. Aku selalu menceritakan segala kehidupanku padanya, berbagi suka-duka. Rafa adalah sahabat aku dan Vina. Kami bertiga telah bersahabat sejak lama sekali. Dan diam-diam tanpa mereka berdua tahu, aku menyimpan perasaan lebih pada laki-laki itu sejak dua tahun lalu. Hingga akhirnya 4 bulan yang lalu Rafa menyatakan cinta pada Vina; ya, pada sahabatku sendiri. Saat itu aku ingat bagaimana hancurnya hatiku. Melihat mereka tertawa bersama sebagai sepasang kekasih. Melihat bagaimana laki-laki idamanku menggenggam tangan sahabatku lalu memeluknya erat sekali. Masa-masa pahit itu bisa kulewati dengan berat namun inilah aku sekarang memutuskan pergi dari kehidupan mereka, menyembuhkan luka hati yang teramat dalam dan membekas.


***



From: inefloria@gmail.com
To: raffarheza92@gmail.com



Dear Raffa
Apa kabar? Semoga lo baik-baik aja ya disana. Maaf baru ngabarin lo setelah 2 bulan gue di Boston. Kuliah di sini sibuk dan jadwalnya padet banget.
Gimana kabar Vina? Gue belum sempat ngasih kabar ke dia, sampaikan permintaan maaf gue ya. Oh ya hubungan lo sama dia, baik-baik aja kan? Gue selalu berdoa yang terbaik buat kalian berdua, semoga langgeng terus yaaa. ;)

Raf, sebenernya gue mau ngomongin sesuatu sebelum gue pergi waktu itu. Tapi gue masih ragu. Dan baru kali ini gue berani ngomong.
Raf, pernah gaksih lo jatuh cinta sama seseorang tapi seseorang itu gak akan pernah bisa lo milikin? Sebenernya gue lagi ngerasain itu, Raf. Gue... gue jatuh cinta sama lo. Iya, Raf, sama lo. Sejak kapan? Sejak lama. Yaaa pokoknya lo ga perlu tau lah ya, jauh sebelum lo deklarasiin hubungan lo sama Vina.
Maaf ya, Raf, gue udah lancang begini. Mungkin sekarang lo udah tau kenapa gue ambil scholarship ini, mungkin ini salah satu cara gue buat ngelupain perasaan gue ke lo. Maaf, Raf.
Gue tau gue salah banget udah jatuh cinta sama pacar sahabat sendiri. Mungkin Vina ga akan maafin gue kalo dia tahu hal ini, Raf. Tapi.. lo tau kan lo ga bisa milih buat jatuh cinta sama siapa? Jujur, ini menyakitkan banget buat gue tapi gue harus survive dan terima kenyataan. Gue bakal ngerahasian perasaan gue dari siapapun termasuk Vina, dan lo adalah orang pertama yang tau perasaan gue.
Maaf, Raf. Gue bakal coba ngelupain perasaan gue secepat mungkin. Gue berdoa buat kebaikan kalian. Serius. Jagain Vina, ya? Gue tau dia sayang banget sama lo, mungkin melebihi perasaan gue ke lo.
Gue yakin lo bakal baik-baik aja di sana. Salam buat Vina ya. Gue kangen banget. Next time kalo waktunya tepat, kita bertiga bisa Skype-an. Oke?

Thanks, Raf.
And sorry.



***



(Inspired by: Yura - Cinta dan Rahasia ft. Glenn Fredly)